<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597</id><updated>2012-02-16T00:03:10.609-08:00</updated><title type='text'>AGUS EL RIYANTO</title><subtitle type='html'>“The Obvious of Story”
Aku adalah aku, bukanlah seperti aku yang dulu yang mudah terbawa arus ketika tak tahu harus kemana langkah ini di tegakkan. Sekarang aku punya pendirian, masa depan adalah tujuan. Kembalikan masalah kepada Allah, berusaha, berdoa bersabar adalah kunci, belajar dari pengalaman itu yang terbaik</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>30</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5114967324908110276</id><published>2010-12-05T23:38:00.000-08:00</published><updated>2010-12-05T23:38:19.030-08:00</updated><title type='text'>PERBARUI IMAN ANDA</title><content type='html'>Akhi, aktivis Islam, perbarui iman Anda secara rutin. Rekonstruksi iman ini urgen bagi setiap orang Muslim secara umum dan aktivis Islam secara khusus. Sebab, kadang, karena sibuk mengerjakan tugas-tugas dakwah, atau mempelajari masalah-masalah dakwah, atau memikirkannya, atau mencurahkan segenap tenaga untuk aktivis Islam, atau aktivitas melawan musuh-musuh Islam dengan segala sarana yang disyariatkan Islam, itu membuat aktivis Islam tidak sempat mengurusi hatinya dan memberi perhatian penuh kepadanya. Padahal, orang Muslim berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya, bukan dengan orang tubuhnya. Kalaupun organ tubuh mengerjakan kebaikan, maka itu karena kebaikan hati dan semangatnya kepada kebaikan.&lt;br /&gt;Jika aspek ini dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan serius, maka aktivis Islam kehilangan ibadah-ibadah batin, misalnya ikhlas. Bahkan, bisa jadi, aktivis Islam tidak punya keikhlasan sejak awal iltizamnya. Ibadah-ibadah batin lainnya, seperti jujur, yakin, zuhud, tawakkal, takut, taubat, menyerahkan diri, dan cinta Allah Ta’ala, juga hilang dari dirinya. Beberapa saat kemudian, sang aktivis ingin kondisi hatinya pulih seperti kondisi semula saat ia awal bergabung ke kafilah dakwah. Itu semua akibat ia tidak memperlihatkan hatinya. Jika itu terus terjadi, bisa jadi, Anda melihat sang aktivis banyak membicarakan hal-hal yang tidak berguna, misalnya makan secara berlebihan, atau berinteraksi dengan orang lain bukan karena pertimbangan agama, atau banyak tidur, atau bermalas-malasan, atau tidak berusaha mengatur waktunya, atau menghabiskan waktunya padahal-hal haram atau makruh. Kalaupun waktunya digunakan pada hal-hal mubah, maka itu secara berlebihan dan tanpa memperhatikan aspek agama atau dunia. Ia tidak menggubris perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk merekonstruksi iman, tanpa melihat kualitas iman, amal, dan posisinya di gerakan dakwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbaruilah iman kalian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalllallahu Alaihi wa Sallam sering bersumpah dengan kalimat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, demi Dzat yang membolak-balik hati.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat ada kemerosotan pada sebagian aktivis dakwah, atau terjerumus ke dalam lautan syahwat dan syubhat. Kadang, hal ini betul-betul terjadi pada sebagian dari mereka. Penyebabnya tidak lain karena kurang memperhatikan aspek ini, memperbarui iman. Ini tanggung jawab bersama antara individu. Level qiyadah (pemimpin), dan gerakan dakwah secara umum.&lt;br /&gt;Saya seringkali melihat beberapa aktivis mencapai jenjang tertentu di gerakan dakwah dan menghabiskan sebagian umurnya dengan manis bersama dakwah. Setelah itu, ia berbalik dan keluar dari barisan aktivis. Penyebabnya ialah karena ia tidak memperhatikan hatinya. Bagaimana ia berjalan, kehabisan bekal, dan tidak berbekal dengan bekal apa-apa lagi?&lt;br /&gt;Bekal hatinya telah ia gunakan untuk mengarungi salah satu tahapan usianya dan habis di perjalanan. Akibatnya, ia tewas di tempat bahaya, yaitu kesesatan syubhat dan kehinaan syahwat. Beragam penyakit yang menyerang sebagian aktivis Islam di separoh perjalanan dakwah, misalnya cinta dunia, egois padahal dulunya itsar (lebih mementingkan orang lain atas kepentingan pribadi), rakus padahal sebelumnya zuhud dan wara’, bersikap kasar kepada kaum Mukminin padahal sebelumnya bersikap lembut kepada mereka, dekat dengan orang-orang dzalim padahal dulunya dekat dengan orang-orang beriman, ujub, sombong terhadap orang lain padahal sebelumnya rendah hati, congkak, dan menjadikan dirinya sosok penting padahal dulunya ikhlas; itu semua sebabnya karena hati tidak diberi porsi perhatian yang ideal dan iman tidak diperbarui individu, level qiyadah, dan gerakan dakwah itu sendiri. Semuanya bertanggung jawab dalam masalah ini.&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan penafsiran seorang syaikh tentang firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (An-Nisa’: 136).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kajian, yang ia berikan kepada aktivis, saat didera cobaan, ia berkata, “Kok Al-Qur’an minta mereka beriman, padahal mereka sudah beriman? Bahkan, ayat berbunyi, ‘Hai orang-orang beriman, berimanlah.’ Apa makna iman yang dimintakan pada mereka?”&lt;br /&gt;Syaikh itu berkata lagi, “Ayat di atas minta mereka selalu memperbaharui iman, karena iman perlu diperbaharui secara rutin.”&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5114967324908110276?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5114967324908110276/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5114967324908110276&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5114967324908110276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5114967324908110276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2010/12/perbarui-iman-anda.html' title='PERBARUI IMAN ANDA'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-50839506330836430</id><published>2010-10-24T20:20:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T20:20:26.526-07:00</updated><title type='text'>Menjaga Ukhuwah Tanpa Cacian Dan Ghibah</title><content type='html'>Bismillâhirrahmânirrahîm&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah Rabbul-‘Alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah mengumpulkan kita di tempat yang baik ini - dengan izin Allah - laksana satu hati dalam tubuh satu orang, sehingga kita menjadi saudara-saudara yang saling mencintai. Al-hamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan taufik, serta menganugerahkan kemudahan kepada kita untuk menuntut ilmu (syar’i), (yang) telah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berilmu, dan orang-orang yang berjalan mengikuti jalan ilmu. &lt;br /&gt;Sebelum segala sesuatu dimulai, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada hadirin semua untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebab, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan himpunan segala kebaikan. Takwa merupakan pangkal kebenaran hakiki bagi setiap Muslim, khususnya bagi setiap dai. Takwa merupakan bekal yang sejati bagi setiap Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal". [al-Baqarah/2:197].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takwa merupakan sebab pertama di antara faktor dimudahkannya rezeki. Barangsiapa menghendaki keluasan rezeki yang baik, berupa harta benda, ilmu, isteri shalihah, anak-anak shalih, taufiq, ataupun kebahagiaan dunia dan akhirat yang semua ini merupakan rezeki, akan Allah Subhanahu wa Ta'ala menganugerahkan rezeki-rezeki ini, jika ia bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَـلْ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah membuatkan baginya jalan keluar dari segala kesulitan, kelapangan, dari segala kesedihan, dan Allah akan menganugerahkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia duga".[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan pondasi bagi kehidupan ini. Namun, takwa kepada Allah bukanlah kalimat yang hanya sekadar diucapkan dengan lidah. Ia merupakan perkara yang ada di dalam hati. Setiap Muslim, bahkan setiap penuntut ilmu, wajib menghiasi diri dengan takwa dalam semua urusan hidupnya. Sebab takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah benteng bagi seorang Muslim dari segala perkara yang mengotorinya dalam kehidupan dunia ini, sebagaimana telah kita baca dalam Al-Qur`an surah al-Ahzâb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar". [al-Ahzâb /33:70-71].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penuntut ilmu, jika ia pertama kali dapat mewujudkan takwa pada dirinya serta dapat memeganginya dengan teguh dalam semua sisi kehidupannya, niscaya –dengan idzin Allah- ia akan dapat mewujudkan takwa ini pada diri orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi amat disayangkan, sebagian penuntut ilmu mengajak orang lain untuk bertakwa, namun ia sendiri mengabaikan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia mengajak orang lain untuk bertakwa, selalu mengucapkan kata-kata takwa siang malam, menganjurkan orang supaya bertakwa, dan selalu mengatakan kepada orang lain “bertakwalah dan kerjakanlah amal shalih!”, namun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia tekankan kepada orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling penting lainnya dalam hidup, sebagai salah satu konsekuensi takwa, ialah bahwasanya harus ada hubungan persaudaraan yang kuat, khususnya antar para penuntut ilmu. Ukhuwah diniyah (Islamiyah) memiliki pengaruh yang baik dalam kehidupan ini. Setiap kawan (shadîq), setiap muslim akan memiliki pengaruh jelas bagi kawannya dalam hidup. Apabila seorang muslim bersahabat dengan orang baik, maka kebaikan ini akan berpengaruh pada dirinya. Tetapi, jika ia bersahabat dengan orang yang tidak baik, orang yang kegiatannya tidak mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak juga dekat dengan (ajaran) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka hal-hal buruk ini pun akan berpengaruh pada dirinya. Maka, perhatikanlah oleh seseorang, siapa yang akan ia jadikan kawan dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukhuwah Islamiyah yang hakiki diserukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Begitu juga Al-Qur`an pun memerintahkannya. (Allah berfirman:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah ikhwah (bersaudara); karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu". [al-Hujurat/49:10].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "ikhwah" (bersaudara), ketika kita mengatakan “sesungguhnya orang-orang mukmin itu ikhwah (bersaudara)", adalah kalimat yang tidak mudah. Maksudnya, seakan-akan Anda dalam hubungan (persaudaraan antar mukmin) ini mempunyai pertalian yang sangat erat. Hubungan persaudaraan ini bisa lebih kuat dari persaudaraan nasab. Apakah gerangan yang mengikat persaudaraan ini? Yang mengikatnya, ialah dinul-Islam yang hakiki, ukhuwah Islamiyah yang benar dan hakiki, serta persahabatan yang hakiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab banyak orang mengikat persaudaraan dengan orang lain, atau berkawan dan bersahabat dengan orang lain disebabkan oleh kepentingan tertentu. Persahabatan tersebut akan terwujud jika kepentinganya muncul. Namun, jika tidak ada kepentingan, (maka) ia tidak kenal lagi, atau bahkan mencaci-makinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang shadiq (sahabat), ialah seorang yang sungguh-sungguh jujur terhadap sahabatnya dalam semua urusan hidupnya dan tidak berbasa-basi. Jika aku (misalnya) melihat suatu kesalahan pada diri sahabatku, maka aku harus menasihatinya dengan nasihat hakiki, bukan nasihat yang membuatnya lari dariku, atau menyebabkannya tidak mau berkumpul lagi denganku. Misalnya, dengan nasihat yang berbentuk caci-maki atau celaan. Tetapi haruslah dengan nasihat yang sungguh-sungguh, nasihat yang ia butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku lihat ia tidak taat kepada Allah, atau suka membicarakan ulama, atau suka mencaci-maki seseorang, atau ia tidak memiliki prinsip yang jelas dalam hidupnya, maka aku akan segera menasihatinya, aku ajak duduk, aku ajak bicara dengan lemah lembut, dengan menggunakan istilah-istilah yang bagus, dan dengan cara-cara yang indah, sehingga kawan ini tidak rusak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kaidah agung yang termasuk kaidah agama dalam berukhuwah. Demi Allah, jika kaidah ini tidak terwujud pada diri kita masing-masing, niscaya kita akan memiliki cacat dalam menjalin tali ukuwah. Yaitu, jika seseorang tidak berusaha mewujudkan dan tidak menimbang dirinya berdasarkan petunjuk ukhuwah yang ada dalam hadits. Hadits ini merupakan salah satu kaidah di antara kaidah agama. Yaitu sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sebelum ia menyukai sesuatu untuk saudaranya apa yang ia suka jika sesuatu itu diperoleh dirinya". [2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, kebanyakan orang sekarang bersikap sebaliknya dari hadits itu. Ia menyukai untuk dirinya, apa yang tidak ia sukai jika diperoleh orang lain. Ia pertama-tama menyukai jika seseuatu itu ia peroleh, kemudian baru memikirkan orang lain. Ia tidak menyukai kebaikan diperoleh oleh orang lain. Ia hanya menyukai jika kebaikan itu ia peroleh. Ia hanya mementingkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kita memiliki suri tauladan yang baik pada para salafush-shalih rahimahullah, tentang bagaimana persaudaraan mereka, bagaimana mereka menjalin persaudaraan, bagaimana mereka mengutamakan orang lain, bagaimana mereka mempraktekkan perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berpegang pada setiap atsar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm telah memberikan contoh nyata dalam berukhuwah, dalam bermu’amalah, dan dalam segala hal yang menyangkut semua urusan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, tidak ada sesuatu pun kecuali Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkannya kepada kita. Tidaklah beliau meninggalkan kita, kecuali menjadikan kita berada pada hujjah yang demikian jelas, malam harinya laksana siang harinya; tidak akan menyimpang dari hujjah ini kecuali orang yang binasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam semua urusannya, dalam masalah ekonomi, masalah ilmiah, ibadah, ketika keluar, ketika masuk, dalam masalah berpakaian, dan dalam segala hal. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan kita kecuali telah mengajarkannya kepada kita. Dan sekarang, tidaklah kaum Muslimin meninggalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali akan dijadikan lemah oleh Allah, dan akan dikuasai oleh musuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, saya anjurkan kepada saudara-saudaraku supaya bersatu secara sungguh-sungguh dan menjalin ukhuwah sejati. Ukhuwah, yang di dalamnya ada pertalian kokoh, ada saling mengingatkan dengan sesungguh-sungguhnya, dan di dalamnya berisi orang-orang yang senang jika saudaranya mendapatkan apa yang mereka sendiri senang untuk mendapatkannya. Inilah hal terpenting dalam hidup. Dalam suasana ini, hidup akan menjadi sempurna, taufiq serta kebahagiaan dunia-akhirat juga menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, saudara-saudara, berpegang teguh pada Sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga akan mewujudkan ukhuwah yang sesungguhnya. Jika Anda melihat seseorang yang baik dan ia Ahlu Sunnah, maka hendaklah Anda segera jalin persaudaraan dengannya. Jika Anda melihat seorang Ahlu Sunnah dan pengikut Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Anda harus akrabi dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, para penuntut ilmu tidak menjadi lemah, bid’ah tidak semakin banyak, kaum Muslimin tidak dilemahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan para musuh tidak dijadikan berkuasa atas kaum Muslimin, kecuali karena kaum Muslimin sudah terlalu jauh dari petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian semua mengetahui, bahwa amal perbuatan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan dua syarat. Apakah dua syarat itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Ikhlas. Yaitu jika amal perbuatan dilakukan secara murni untuk mencari wajah (keridhaan) Allah. Tetapi apakah ini cukup? &lt;br /&gt;Banyak orang Yahudi dan Nasrani mengatakan bahwa mereka ikhlas dalam beribadah kepada Allah. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan peribadatan di tempat-tempat ibadah dan gereja mereka secara ikhlas. Jadi ikhlas benar-benar terwujud. Namun apakah ini cukup? Tentu tidak cukup! &lt;br /&gt;Jika demikian, kapankah ikhlas dapat diterima? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu (yang Kedua, Pent.) apabila amal perbuatan yang sudah dilakukan dengan ikhlas itu, dilakukan dengan mengikuti Sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam, atau selaras dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimanakah kenyataan kaum Muslimin sekarang? Bagaimanakah kenyataan kita dewasa ini? Ya, amalan ikhlas, akan tetapi menyelisihi ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, Allah melemahkan kaum Muslimin dan menjadikan musuh-musuh Islam berkuasa atas kaum Muslimin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bermacam bid’ah, khurafat dan ta’ashub (fanatisme golongan) merajalela. Bahkan banyak orang dibikin menjauh dari pengikut Sunnah. Seseorang akan mengatakan “orang ini keras, tidak umum, menentang arus … dan seterusnya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul-Qayyim rahimahullah mempunyai ungkapan menakjubkan dalam masalah ini. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa menjaga Sunnah (ajaran) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, mendakwahkannya, memeganginya dengan kuat dan menghidupkannya (sekarang) lebih utama daripada mengarahkan anak-anak panah ke leher musuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah, Ibnul-Qayyim rahimahullah sampai mengatakan kalimat demikian! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, orang-orang mulai bermalas-malasan terhadap Sunnah. Bahkan mereka berbuat dengan berbagai amal perbuatan yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, kaum Muslimin menjadi lemah. Bahkan sayang sekali, sebagian penuntut ilmu, orang-orang yang memahami Sunnah, memahami banyak persoalan Sunnah, (mereka) tidak melaksanakan Sunnah dan sering memilih bertoleransi dengan meninggalkan Sunnah untuk tujuan berbasa-basi terhadap seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, demi Allah, wahai saudara-saudara, bersemangatlah kalian untuk menerapkan Sunnah (ajaran) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demi Allah, (di samping ikhlas), amal perbuatan tidak akan diterima kecuali sesudah amal itu selaras dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seseorang tidak dapat dipuji agama dan semua urusannya kecuali jika ia sudah menjadi pengikut Sunnah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bersemangatlah terhadap perkara-perkara Sunnah ini. Bersemangatlah untuk meningkatkan kekuatan beragama secara hakiki di antara sesama kalian. Kalian janganlah saling berseteru. Jika seorang penuntut ilmu melihat kesalahan pada diri saudaranya (sesama Ahlus-Sunnah), jangan menyebabkan orang lain menjauh darinya, jangan memusuhinya, dan jangan mengisolirnya. Tetapi, tunjukkanlah kesalahannya dengan cara-cara dan nasihat yang baik, dengan kata-kata yang baik. Sebab, inilah ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ; kata-kata yang baik. Kita membutuhkan tata pergaulan yang baik. Islam merupakan agama yang menganjurkan tata pergaulan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita mungkin memiliki kepedulian terhadap urusan agama, namun terkadang tidak memiliki cara bergaul yang baik. Cara bergaul yang baik sangat penting dalam kehidupan ini. Dengannya, kita bisa mengajak orang lain. Dan dengannya, kita bisa mendapat pahala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa ruginya jika engkau tersenyum kepada saudaramu? Salah seorang sahabat pernah mengatakan: "Saya tidak pernah melihat wajah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali dalam keadaan tersenyum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum itu berpahala, wahai saudaraku. Perkataan baik yang keluar dari lisanmu, ada pahalanya. Tidak masuk akal jika seseorang, terutama penuntut ilmu, ternyata cara bergaulnya jelek, kata-katanya keras dan kotor. Padahal ia seorang penuntut ilmu yang dikenal. Maka harus baik dalam tata pergaulan, sebagai salah satu wujud dari penerapan terhadap Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, kalian harus melaksanakan Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnah-sunnah (ajaran-ajaran) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ini harus diperhatikan dan dihormati. Memang tidak selayaknya menfitnah manusia dengan persoalan-persoalan ini, tetapi (masing-masing penuntut ilmu harus berfikir bahwa) saya harus bersemangat mengajarkan Sunnah kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagalah ukhuwah yang hakiki oleh kalian. Ukhuwah yang tidak ada cacian, makian, ghibah (gosip), namimah (adu domba), qil wal qal (katanya dan katanya/isu) dan berita-berita bohong. Demikian pula hendaklah seorang penuntut ilmu, bila mendengar fatwa tentang seorang Syaikh, bila mendengar tentang suatu hal, hendaklah mencari kejelasan dan kepastiannya. Tidak menelan berita mentah-mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cukuplah seseorang berdosa bila ia menceitakan setiap apa yang ia dengar".[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang, setiap mendengar berita, langsung disampaikannya; Si Anu begini, begitu, melakukan ini, itu dan seterusnya. Kebiasaan ini bukan sifat penuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali, kewajiban seorang Muslim atau penuntut ilmu ialah husnuzhan (berbaik sangka) terhadap para ulamanya dan terhadap kawan-kawannya. Selamanya, ia (mesti) berbaik sangka terhadap mereka. Tidak berburuk sangka kepada orang lain. Tidak melancarkan tuduhan kepada orang lain, sebab ia tidak mengetahui isi hati mereka. Bila kita melihat seorang saudara berjalan bersama pelaku bid’ah, jangan langsung menghukuminya. Sebab siapa tahu, ia sedang menasihati, atau menghendaki sesuatu darinya, atau ingin melakukan pendekatan kepadanya untuk suatu urusan. Jika kita langsung menghukuminya bahwa "orang ini serupa, sama-sama ahli bid’ah", maka ini tidak benar. Apakah kita mengetahui hatinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sahabat yang membunuh orang yang mengucapkan La ilaha Illallah tatkala orang yang dibunuhnya terdesak dalam peperangan. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menanyakannya, mengapa ia bunuh orang yang mengucapkan kalimat La Ilaha Illallah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab,"Sebab orang ini hanya bermuslihat untuk menyelamatkan diri," maka Nabi n menjawab: “Apakah engkau membelah dadanya?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demkianlah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menegur. Padahal orang yang dibunuh ini awalnya jelas-jelas musuh yang kafir. Sedangkan ini adalah muslim yang shalat, puasa dan melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tiba-tiba engkau langsung menuduhnya dengan tuduhan semacam ini. Jelaslah, itu bukan pekerjaan yang semestinya bagi penuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu hendaklah memiliki akhlak mulia, memiliki cara bergaul yang baik, memberi nasihat yang baik dan berpegang kepada Sunnah secara hakiki. Ia tidak layak terlalu keras seraya mengatakan "sayalah satu-satunya pengikut Sunnah, orang lain bukan pengikut Sunnah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semestinya ia mengajak orang lain menuju Sunnah, agar setiap orang berpegang dengan teguh terhadap Sunnah, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan kita kecuali beliau n telah mengajarkan segala sesuatu kepada kita, termasuk tata cara bergaul dengan orang lain dan melakukan pergaulan dengan orang kafir. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana bergaul dengan orang-orang munafik dan dengan pengikut bid’ah, serta mengajarkan banyak hal kepada kita dalam urusan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita kapan harus berjihad, kapan kita boleh mengatakan bahwa suatu perkara menyebabkan seseorang menjadi kafir. Misalnya engkau melihat seseorang tidak shalat di masjid. Melihat ini, ada orang yang langsung menghukumi bahwa ia tidak shalat, berarti kafir. Tentu jika sudah jelas berdasarkan bukti bahwa ia meninggalkan shalat, maka meninggalkan shalat adalah kufur. Tetapi, apa engkau boleh langsung menghukumi ia kafir? Tentu tidak, sebab siapa tahu ia shalat tetapi engkau tidak mengetahuinya, atau ia baru masuk Islam, atau alasan-alasan lainnya. Banyak orang meremehkan masalah seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penuntut ilmu harus menggali ilmu secara mengakar, menggali masalah 'aqidah, membaca kitab-kitab 'aqidah dengan benar. Kalian telah mengetahui bahwa jalan pertama menuju surga ialah tauhid. Demi Allah, seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan tauhid yang bersih. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada di Mekkah selama 13 tahun mendakwahkan tauhid. Jadi, seseorang harus belajar 'aqidah yang benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang dari penuntut ilmu dan dai, jika ditanya tentang definisi iman, ia tidak tahu. Ditanya tentang makna iman menurut Murji`ah, ia tidak tahu. Ia tidak memiliki modal ilmu. Ditanya tentang kaidah takfir (hukum mengafirkan orang), ia tidak tahu. Tentang pedoman jihad, ia tidak tahu. Apa arti wala` wal-bara`, ia mengerti tidak tahu. Apa perbedaan antara muwâlah dan mu’amalah, ia tidak paham. Padahal ia berdakwah mengajak manusia menuju Islam. Oleh sebab itu, harus menggali ilmu secara benar sampai mengakar. Supaya ia mengetahui, kapan persoalan berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah yang menyebabkan pelakunya menjadi kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang menghukumi kafir kepada setiap orang, terutama penguasa yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah. Ini tidak benar! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk salah satu dari anggota komisi yang bertugas memberikan nasihat kepada para pemuda pelaku penyimpangan. Pemuda yang memiliki pola pikir menyimpang, yang melakukan peledakan di tempat-tempat pemukiman. Para penjahat yang menghabisi diri sendiri dan menghabisi orang lain. Pelaku-pelaku itu tidak memiliki bekal ilmu yang cukup. Mereka hanya memiliki semangat dan emosi. Mereka bersemangat terhadap banyak hal menyangkut kepentingan agama, tetapi tidak memiliki dasar ilmiah, kosong!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, jika mereka memahami agama ini secara hakiki, tentu mereka tidak akan melakukan tindakan-tindakan anarkhis tersebut. Andaikata mereka memahami wala` wal-bara` dan bisa membedakan antara muwalah (setia kawan dan kasih sayang) dengan mu’âmalah (tata pergaulan yang baik), tentu mereka tidak akan melakukan tindakan-tindakan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, andaikata penguasa betul-betul kafir, selama engkau berada di dalam wilayah kekuasaannya, maka ia memiliki hak yang wajib engkau laksanakan. Apalagi jika penguasa itu seorang muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tidak bisa membedakan antara muwalah (setia kawan dan kasih sayang) dengan mu’amalah (tata pergaulan yang baik). Sehingga sekedar engkau bermu’amalah (melakukan pergaulan) dengan orang kafir, egkau akan dianggap telah mencintai dan bersetia kawan dengan orang kafir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku, padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan makna muwalah kepada kita. Al-Qur`an juga telah menjelaskannya kepada kita. Sementara itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap bermu’amalah (melakukan pergaulan) dengan orang-orang kafir di Madinah. Beliau –misalnya- mempergauli orang Yahudi, ziarah ke tempat seorang Yahudi yang sedang sakit, sehingga dengan sebab itu orang Yahudi tersebut masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah dengan kita (kaum Muslimin) sekarang ini? Mengapa kita mempersulit diri kita sendiri dan mempersulit orang lain? Mengapa banyak di antara kita (kaum Muslimin) yang menjadikan orang lain antipati terhadap Islam disebabkan oleh tindakan keras yang tidak bedasarkan petunjuk dari Allah? Mengapa demikian? Terutama yang berkaitan dengan cara memberikan nasihat dan pemahaman wala` wal-bara`, mengapa tidak mengikuti manhaj Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah untaian nasehat Syaikh 'Abdul-'Aziz -hafizhahullah- selanjutnya memberikan contoh tentang sikap para ulama yang lemah lembut dalam mempergauli orang lain, seperti Syaikh bin Baz rahimahullah dan Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin rahimahullah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula pada bagian-bagian akhir dari nasihatnya, Syaikh 'Abdul-'Aziz -hafizhahullah- menekankan agar setiap penuntut ilmu bersungguh-sungguh mengkaji dan menggali ilmu sampai mendalam melalui bimbingan para ulama Ahlus-Sunnah. Sebab dengan ilmu itulah, seseorang akan dapat mengikuti Sunnah dan ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam secara benar. Sehingga tidak akan melakukan penyimpangan-penyipangan, termasuk tindakan anarkhis dan merugikan orang lain, yang menyebabkan citra Islam menjadi buruk, bahkan di kalangan kaum Muslimin awam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kandungan bagian akhir dari nasihat Syaikh 'Abdul-'Aziz -hafizhahullah- yang terpaksa kami ringkas, karena nasihat tersebut masih agak panjang. Semoga bermanfaat bagi kaum Muslimin. &lt;br /&gt;Wallahu Waliyyu at-Taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi (06-07)/Tahun XI/1428/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;_______&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. HR Abu Dawud no. 1297 (Hadits dha'îf. Dha'îf Sunan Abî Dawud 327, Dha'îf  Sunan Ibni Mâjah no. 834)&lt;br /&gt;[2]. Muttafaqun 'alaihi.&lt;br /&gt;[3]. HR  Muslim  no. 6,  Abu Dawud no. 4340&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-50839506330836430?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/50839506330836430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=50839506330836430&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/50839506330836430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/50839506330836430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2010/10/menjaga-ukhuwah-tanpa-cacian-dan-ghibah.html' title='Menjaga Ukhuwah Tanpa Cacian Dan Ghibah'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-3008065143620248076</id><published>2008-04-30T23:38:00.000-07:00</published><updated>2008-04-30T23:42:24.504-07:00</updated><title type='text'>KITA MENGINGINKAN TEKAD UNIVERSAL</title><content type='html'>&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;          Akhi, aktivitas Islam, tekad yang kita inginkan kepada Anda ialah tekad universal. Tekad mencari ilmu dan mengamalkannya. Tekad berdakwah dan berjihad. Tekad beriman, yakin, sabar, dan ridha. Tekad melakukan amar ma`ruf, nahi mungkar, dan menyatakan kebenaran. Tekad memperbaiki diri sendiri dan memberi petunjuk pada manusia.&lt;br /&gt;Kita tidak menginginkan tekad parsial, yang terbatas pada satu aspek. Itu tidak kita inginkan.   Kita menginginkan orang, yang tekadnya menyeluruh di semua medan dakwah Islam. Tidak hanya disatu aspek tanpa satu aspek lainnya, atau diaspek tertentu dengan mengorbankan aspek lainnya. Kita menginginkan tekad sempurna dan universal.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, saya tidak menemukan perkataan lebih bagus dari perkataan Ibnu Al-Qayyim di bukunya yang bermutu, Tahiruqi Al-Hijrahtain wa Babu As-Sa`adatain, “Di antara manusia ada orang yang berjalan menuju Allah di setiap tempat dan sampai pada-Nya dari semua jalan. Ia jadikan aktivitas ibadahnya sebagai poros hatinya dan fokus pengelihatannya. Ia cari aktivitas ibadah itu dimana saja berada dan berjalan bersamanya kemana saja aktivitas ibadah berjalan. Setiap kelompok diberi tanda khusus. Di mana saja ibadah berada, orang tersebut Anda lihat disitu. Jika ibadah berbentuk ilmu, Anda mendapatinya bersama orang-orang berilmu. Jika ibadah berbentuk jihad, Anda menemukannya bersama barisan mujahidin. Jika ibadah berbentuk shalat, Anda mendapatinya bersama orang-orang yang berbuat baik. Jika ibadah berbentuk cinta, perasan selalu diawasi Allah, dan taubat, maka Anda menemukannya bersama orang yang cinta kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Ia selalu bersama ibadah dimana saja ibadah hendak pergi dan berjalan kepadanya dimana saja ibadah berjalan. Jika ditanyakan kepadanya, ‘Amal perbuatan apa yang ada inginkan?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin melaksanakan perintah-perintah Tuhanku, apa pun bentuknya, dimana saja tempatnya, membawa apa saja, membuatku bersatu, atau membuatku tidak bersatu. Aku hanya ingin melaksanakannya, merasa selalu diawasi-Nya saat itu, terhadap kepada-Nya dengan ruh, hati, dan badan. Aku telah serahkan barang kepada-Nya dan sekarang aku menunggu pembayaran dari-Nya.’ Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberi ,mereka surga.”&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-3008065143620248076?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/3008065143620248076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=3008065143620248076&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3008065143620248076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3008065143620248076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/kita-menginginkan-tekad-universal.html' title='KITA MENGINGINKAN TEKAD UNIVERSAL'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-7521391432234031973</id><published>2008-04-30T23:35:00.000-07:00</published><updated>2008-04-30T23:38:14.167-07:00</updated><title type='text'>KHUSYUK YANG TIADA LAGI</title><content type='html'>&lt;span style="color:#996633;"&gt;Banyak fenomena-fenomena merisaukan manusia di tengah-tengah kita. Misalnya hati keras, mata “kering” tidak bisa menangis, badan labil, dan tidak adanya perenungan ayat-ayat Allah Ta’ala, disebabkan gelombang materi (dunia) yang menyerbu hati kita dengan gencar. Walhasil, materi (dunia) ikut hadir bersama kita disetiap shalat kita, saat kita membaca Al-Qur’an, ketika sedikit di antara kita yang tidak banyak membaca Al-Qur’an. Kalaupun ia banyak membaca Al-Qur’an, hatinya tidak memahami apa yang ia baca. Qiyamul lail menjadi ibadah super berat bagi banyak jiwa sebagian orang. Kalaupun ia mengerjakan qiyamul lail, ia mengerjakannya dengan buru-buru dan gerak cepat seperti ayam mematuk makanan di tanah. Materi (dunia) itu kotoran yang merasuk ke hati kita dan hati tidak mungkin kembali ke kondisi ideal, kecuali dengan membersihkannya dari semua kotoran yang melekat padanya. Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata, “Jika hati kalian bersih, kalian tidak merasa kenyang dengan firman Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Seseorang tidak hanya perlu membersihkantubuhnya dengan air, namun juga harus membersihakan hatinya dari kotoran dunia, agar memperoleh khusyuk, yang sekarang tiada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Perbedaan antara Khusyuk Hakiki dengan Khusyuk Palsu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Al-Qayyim Rahimahulla, khusyuk yang benar ialah kekhusyukan iman. Menurutnya, kekhusyukan iman ialah kekhusyukan (ketundukan) hati kepada Allah Ta’ala, dengan cara mengagungkan-Nya, takut, dan malu kepada-Nya. Lalu, hati pasrah kepada-Nya, dalam bentuk kepasrahan yang disertai perasaan takut, malu, mengakui nikmat-nikmat-Nya, dan kesalahan-kesalahan dirinya. Jika iti tercapai, hati pasti khusyuk (tunduk), lalu organ tubuh ikut khusyuk.”&lt;br /&gt;Khusyuk ialah merasakan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya saat Anda berdiri di depan-Nya. Juga mengajui seluruh nikmat-nikmat yang Dia berikan dan tidak dapat dihitung, karena saking banyaknya. Juga ingat kelalaian Anda mengelola sebarek nikmat ini. Sikap seperti ini membuat anda malu dan hati tinduk kepada-Nya secara perlahan. Hati berada di puncak ketundukan saat seseorang ingat maksiat-maksiat yang pernah ia lakukan, ingat kelalaian dirinya terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala kepadanya. Saat itu, hati menjadi khusyuk dan organ tubuh selalu sadar.&lt;br /&gt;Sedang khusyuk palsu, maka itulah khusyuk kemunafikan menurut Ibnu al-Qayyim. Ia berkata, “Organ tubuh terlihat mengerjakan hal-hal yang dipaksakan dan hati tidak khusyuk. Salah seorang sahabat berkata, ‘aku berlindung kepada Allah dari Khusyuk kemunafikan.’ Ditanyakan kepada sahabat itu, ‘apa itu khusyuk kemunafikan?’ Sahabat itu menjawab, ‘Tubuh terlihat khusyuk, tapi hati tidak khusyuk’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Khusyuk Semu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menduga khusyuk itu menundukan kepala, atau jalan pelan-pelan, atau merendahkan suara. Mereka lupa kalau khusyuk itu di hati. Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu melihat seseorang membungkuk saat shalat, lalu Umar bin Khaththab berkata, “Pak angkat lehermu. Khusyuk itu bukan dileher, namun di hati.”&lt;br /&gt;Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu ahli ibadah sejati, seperti dikatakan Aisyah Radhiyallahu Anha ketika melihat sejumlah pemuda berjalan perlahan. Kata Aisyah kepada sahabat pemuda-pemuda itu, “Siapa pemuda-pemuda tersebut?” Sahabat pemuda itu menjawab, “Mereka orang-orang ahli ibadah.” Aisyah berkata, “jika Umar bin Khaththab berjalan maka cepat, jika berkata suaranya keras menggelegar, jika memukul maka menyakitkan, dan jika makan sampai kenyang. Ia ahli ibadah sejati.”&lt;br /&gt;Kendati demikian, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu tidak membungkuk atau jalan perlahan. Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Umar bin Khaththab membaca salah satu ayat, lalu tak sadarkan dirinya. Ia berada di rumahnya berhari-hari dan dikunjungi karena dikira sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;&lt;strong&gt;Generasi Orang-Orang Khusyuk&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;Pascagenerasi sahabat, datanglah generasi anak-anak sahabat, tokoh mereka yang paling mencorong bintangnya ialah Ibnu Az-Zubair, Yahya bin Watsab berkata, “Ibnu Az-Zubair sujud dengan khusyuk, hingga sekawanan burung pipit hinggap di punggungnya. Burung-burung pipit itu mengiranya pondasi tembok.”&lt;br /&gt;Ibnu Az-Zubair larut dalam sujud. Ia bermunajat ke pada Rabbnya, lupa apa saja yang ada di bumi, dan hatinya menyatu dengan penciptanya hingga seperti melihat-Nya. Betapa indah saat-saat ketika jiwa mampu mendaki ke tingkat seperti itu, lupa seluruh pesona dan daya tarik dunia. Generasi tabi’in belajar sujud dari anak-anak generasi sahabat. Masruq berkata kepada Said bin Jubair, “Hai Abu Said, tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menempelkan wajah kita ke tanah (sujud).”&lt;br /&gt;Masruq tidak sedih gagal mendapatkan serpihan dunia hanya berduka ketika kehilangan waktu-waktu sujud, yang menerapkan waktu terdekat dengan Allah Ta’ala. Masruq berkata, “saya tidak sedih jika tidak memperoleh dunia dan hanya sedih saat kehilangan waktu sujud kepada Allah Ta’ala.”&lt;br /&gt;Sepertinya, pasca indera orang-orang sehebat itu tidak berfungsi saat mereka berdiri di depan Allah Ta’ala. Tidak ada yang mereka lakukan, selain khusyuk di depan-nya. Abu Bakr Ahmad bin Ishaq berkata di biografi Muhammad bin Nashir Al-Marwazi, “Aku pernah bertemu dua imam. Sayangnya, aku tidak dapat belajar hadits pada keduanya. Keduanya ialah Abu Hatim Ar-Razi dan Muhammad bin Nashir Al-Maewazi, aku belum pernah menemukan orang yang shalatnya lebih baik dari shalatnya. Aku mendapat informasi bahwa kumbang menempel di keningnya, lalu darah mengucur ke wajahnya, tapi ia sama sekali tidak bergerak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;Air Mata Mahal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;Api maksiat yang masuk ke hati manusia merubah hati mereka menjadi arang hitam. Api maksiat hanya bisa dipadamkan dengan air mata yang mengalir deras sebab takut kelak dihisab pada Hari Kiamat dan perasaan semua perkataan dan perbuatan selalu diawasi Allah Ta’ala. Tentang air mata mahal ini, Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Jika mata seseorang mengucurkan air mata karena takut Allah, maka Dia menharamkan neraka menyentuh tubuhnya. Jika air mata mengalir ke pipinya, maka wajahnya tidak hitam dan hina pada hari Kiamat. Tidak ada amal perbuatan yang berbobot berat dan diberi pahala, selain air mata memadamkan panasnya api neraka. Jika ada seseorang pada suatu umat menangis karena takut Allah, aku berharap umat itu secara keseluruhan dirahmati Allah gara-gara tangis satu orang tersebut.”&lt;br /&gt;Api maksiat dan kelalaian telah merasuki hati kita, lalu membuat hati kita tidak mampu khusyuk. Maukah kita memadamkan api maksiat itu, dengan air mata mahal seperti di atas dan kita berbenah diri mulai sekarang juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-7521391432234031973?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/7521391432234031973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=7521391432234031973&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/7521391432234031973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/7521391432234031973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/khusyuk-yang-tiada-lagi.html' title='KHUSYUK YANG TIADA LAGI'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-2412247686242582448</id><published>2008-04-30T23:26:00.000-07:00</published><updated>2008-04-30T23:32:37.878-07:00</updated><title type='text'>INGATLAH PEMUTUS SEGALA KENIKMATAN</title><content type='html'>&lt;span style="color:#003333;"&gt;Jika seseorang rajin ingat pemutusan segala kenikmatan, yaitu kematian, ia menyatu dengan akhirat, lalu segera beramal sebelum kematian menjemputnya. Sarana efektif yang membantu orang untuk ingat kematian ialah kuburan, yang menasihati manusia tanpa bicara dan mengingatkan mereka tentang hari kembali yang tidak terelakkan. Lalu, hal itu mendorong mereka meningkatkan persiapan menghadapi hari Kiamat. Karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh kaum Muslim ingat kematian sebanyak mungkin. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbanyaklah ingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda di hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadinya, aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, Muhammad telah diberi izin menziarahi kuburan. Karena itu, ziarahi kuburan, karena mengingatkan kalian pada kematian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat Termujarab&lt;br /&gt;Tentang hadits di atas, Al-Manawi berkata, “Obat paling mujarab bagi orang yang hatinya keras dan bergelimang dosa ialah kuburan jika ia mendapat manfaat dengan banyak ingat padanya. Jika tidak, maka dengan sering menyaksikan orang-orang yang hendak meninggal dunia, karena melihat suatu kejadiaan secara langsung berbeda dengan hanya mendengarnya dari orang lain.”&lt;br /&gt;Abu Al-Itahiyah merasa perlu ziarah kubur, agar mendapatkan ibrah darinya. Ia berkata pada dirinya sendiri,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="color:#993399;"&gt;Diriku, ziarah kuburan dan ambillah ibrah darinya&lt;br /&gt;Sebab, di dalamnya banyak sekali pelajaran bagi yang menziarahinya&lt;br /&gt;Perhatikan, bagaimana kondisi orang-orang di dalamnya&lt;br /&gt;Dulu mereka kuat, tapi sekarang semua mati di dalamnya&lt;br /&gt;Dulu, mereka berambisi dan berharap, persis seperti dirimu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;Setelah mengadakan muhasabah terhadap diri sendiri, Al-Itahiyah menziarahi kuburan untuk mendengar wejangan penasihat bungkam ini, yang tidak tahu menahu bahasa syair, tapi bahasa yang jauh lebih membekas dari seluruh syair. Abu Al-Itahiyah berkata,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;“Aku menziarahi kuburan, yaitu kuburan raja di dunia dulu&lt;br /&gt;Dan orang-orang yang hanyut dalam syahwat&lt;br /&gt;Dulu, mereka budak makanan, minuman, pakaian parfum&lt;br /&gt; Ternyata, kini mereka tak lain tubuh-tubuh telanjang tanpa busana&lt;br /&gt;Dan wajah-wajah yang belepotan dengan tanah&lt;br /&gt;Tanah pun berubah menjadi tengkorak putih dan tulang lapuk&lt;br /&gt;Sepengetahuanku, kuburan itu pemandangan&lt;br /&gt;Yang mehilangkan kesedihan dan mengalirkan air mata&lt;br /&gt;Mahasuci Allah yang menundukan manusia dengan takdir-Nya&lt;br /&gt;Mahasuci Pencipta udara dan penggerak seluruh gerakan.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330000;"&gt;&lt;strong&gt;Dialog dengan Kuburan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#336666;"&gt;Tanah yang diam seribu bahasa punya suara yang hanya didengar oleh orang yang ingat pemutus segala kenikmatan (kematian) ketika ia berada di depannya untuk merenungkannya. Berdialog dengan kematian itu kenikmatan yang hanya diperoleh orang-orang yang ingin menjadi “orang-orang akhirat” dan meniru Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yang mencerai dunia dengan talak tiga.&lt;br /&gt;Saya pikir, Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i salah seorang dari orang-orang yang berdialog dengan kuburan dan memahami bahasa tanah yang bungkam ini. Setelah memakamkan salah seorang kerabatnya, Musthafa Shadiq Ar-Rafi’I berdiri di depan kuburan kerabatnya itu, guna berdialog denganya dan mendengar jawabannya. Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i berkata, “Aku bertanya pada kuburan, mana harta dan perabotan? Mana kecantikan dan daya tarik? Mana kesehatan dan kegagahan? Mana sakit dan kelemahan? Mana kedigdayaan dan kesombongan? Mana kehinaan?”&lt;br /&gt;Kata Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i lebih lanjut, “Itu semua tidak ada ke sini. Andai manusia mengambil ketenangan kuburan untuk dunia mereka, kedamainnya untuk selisihan mereka, dan keheningannya untuk kelelahan mereka, tentu mereka sanggup menundukkan kematian, seperti halnya merea menundukkan sistem alam raya.”&lt;br /&gt;Sebelum Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i, Abu Al-Itahiyah berdiri di kuburan seseorang. Abu Al-Itahiyah ingat kemewahan yang dulu didewa-dewakan manusia, badan segar bugar yang membuat mereka makin tampan mempesona, dan parfum yang baunya menyengat ke mana-mana. Ia betanya kepada kuburan, apa yang terjadi pada mereka setelah itu? Lebih lengkapnya, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;“Aku bertanya pada kuburan,&lt;br /&gt;‘Apa yang engkau perbuat terhadap wajah-wajah&lt;br /&gt;yang belepotan denganmu?’&lt;br /&gt;Kuburan menjawab, ‘Bau mereka memuakkanmu,&lt;br /&gt;Padahal, dulu mereka harum wangi&lt;br /&gt;Aku makan tubuh yang segar bugar&lt;br /&gt;Dulu, tubuh tersebut elok&lt;br /&gt;Tidak ada yang aku sisakan&lt;br /&gt;Kecuali tengkorak putih dan tulang-tulang lapuk.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#660000;"&gt;Tidak Ada yang Tersisa Kecuali Amal Perbuatan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Begitulah, segala sesuatu terhenti di kuburan, liang lahad. Tidak ada lagi senyum, canda tawa, perdebatan, dan teriakan. Tiada lagi pembangkangan dan arogansi. Tiada lagi harapan dan kerakusan. Tiada lagi keikhlasan dan riya’. Tiada lagi perasaan bangga dengan jabatan, kecantikan, ketampanan, sanak kerabat, status sosial tinggi, dan kecerdasan. Kedzaliman orang dzalim dan kehinaan orang hina pun tidak ada lagi. Wajah ayu dan tampan, tangan dzalim. Lidah bohong, mata yang berkhianat, dan hati yang keras; semuanya berubah menjadi tengkorak dan tulang-tulang lapuk serta menjadi barang mainan cacing dari semua arah. Tidak ada yang tersisa, kecuali amal perbuatan penghuni kuburan. Ia akan ditanya Munkar dan Nakir tentang amal perbuatannya. Tidak ada yang tersisa, kecuali pertanyaan kedua malaikat itu.&lt;br /&gt;Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i berkata, “Ke mana saja orang pergi, ia pasti ditanya banyak hal. Siapa namamu? Apa pekerjaanmu? Berapa umurmu? Bagaimana kabarmu? Apa yang engkau miliki? Apa aliranmu? Apa agamamu? Bagaimana pendapatmu? Itu semua tidak berlaku dua kuburan, seperti halnya semua bahasa tidak berarti banyak bagi orang bisu. Di kuburan, lidah azali menanyakan satu hal kepada manusia, ‘Apa amal perbuatan Anda?’”&lt;br /&gt;Di kuburan ada dua kemungkinan: amal perbuatan yang merubah kuburan menjadi taman surga atau amal perbuatan yang merubah Kuburan menjadi kubangan neraka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-2412247686242582448?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/2412247686242582448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=2412247686242582448&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/2412247686242582448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/2412247686242582448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/ingatlah-pemutus-segala-kenikmatan.html' title='INGATLAH PEMUTUS SEGALA KENIKMATAN'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-614641403705273932</id><published>2008-04-30T23:20:00.000-07:00</published><updated>2008-04-30T23:25:33.532-07:00</updated><title type='text'>INILAH DUNIA YANG KALIAN BURU</title><content type='html'>&lt;span style="color:#660000;"&gt;Di buku Az-Zuhdu, Imam Ahmad menyebutkan, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berjalan melewati tempat sampah, lalu berhenti di sana. Sepertinya, ia prihatin pada sahabat-sahabatnya dan mereka terganggu dengan bau tempat sampah itu. Umar bin Khaththab berkata kepada mereka, “Inilah dunia yang kalian buru.”&lt;br /&gt;Seperti itulah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu men-tarbiyah para pengikutnya. Ia ingatkan mereka tentang hakikat dunia yang diperebutkan manusia. Dalam pandangan Umar bin Khaththab, dunia hanyalah tempat sampah, yang sarat dengan barang-barang bekas dan tidak ada satu pun yang layak pakai. Apa saja di tempat sampah berbau busuk dan tidak utuh lagi. Ada hewan-hewan kecil, makanan basi, perabotan terpotong-potong, “peninggalan” manusia dan hewan. Karena itu, dunia tidak layak diburu jika perumpamaannya seperti itu. apalagi, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;“Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami pasti menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (Al-Kahfi: 6-7)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#9999ff;"&gt;Orang-Orang yang Tidur dalam Keadaan Sujud&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Pasca era Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, tibalah era salah seorang tokoh generasi tabi’in yang pernah hidup sezaman dengan Umar bin Khaththab dan terkesan dengan methode tarbiyahnya terhadap parapengikutnya. Tabi’in itu pindah ke Mesiruntuk menerapkan tarbiyah ala Umar bin Khaththab di sana. Salah seorang murid tabi’in itu, yang bernamaIbrahim bin Muhammad bin Al-Muntasyir, berkata, “Masruq mengendarai baghlah pada setiap pekan dan memboncengku dibelakangnya. Suatu hari, ia datang ke tempat sampah itu, lalu berkata, ‘Dunia ada di bawah kita’.”&lt;br /&gt;Persepsi masruq seperti itu tentang dunia membuatnya khawatir waktunya hilang sia-sia di selain dzikir kepada Allah Ta’ala. Istrinya berkata, “Masruq shalat hingga kakinya bengkak. Terkadang, aku duduk menangis, sebab tidak tega melihat apa yang diperbuat Masruq terhadap dirinya.”&lt;br /&gt;Sahabat Masruq sekaligus pakar tafsir, Said bin Jubair, ingat pertemuan hari jum’at dengannya. Kata Said bin Jubair, “Masruq berkata kepadaku, ‘Tidak ada lagi yang lebih menyenangkan dari menempelkan wajah kita kita tanah (sujud). Aku tidak pernah sedih karena sesuatu melebihi kesedihanku sebab tidak sujud kepada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Apa yang mesti disenangi Masruq di dunia ini, wong ia menganggap dunia sebagai tempat sampai di bawah kaki baghlah-nya dan berpuasa di siang hari yang panas membakar hingga tak sadarkan diri? Suatu hari, putrinya, Aisyah, datang kepada Masruq dan berkata kepadanya, “Ayah, batalkan puasamu. Minumlah.” Masruq berkata, “Putriku, apa yang engkau inginkan padaku? Aku hanya menginginkan diriku dirahmati pada hari, di mana satu harinya sama dengan lima puluh ribu tahun.”&lt;br /&gt;Masruq tidak kenal rasa panas, lapar, dan sakit ketika ingat panasnya Hari Kiamat, lapar dan kehausan saat itu. ia tahu hakikat dunia, lalu menghinanya dan tidak menjadi tawanannya. Adakah kelelhan yang melebihi kelelahan mengerjakan ibadah haji dan Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam sendiri mengkategorikan jihad tanpa kekuatan senjata? Kendati demikian, Masruq mengerjakan qiyamul lail tiap malam, hingga Abu Ishaq berkata, “Masruq melaksanakan ibadah haji dan tidak tidur melainkan dalam keadaan sujud. Itu ia kerjakan hingga pulang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#6600cc;"&gt;Tidak Ada Istirahat kecuali di bawah Pohon Thuba&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Siapa menginginkan akhirat dan berusaha keras untuk mendapatkannya, ia harus kelelahan. Sebab, dunia tidak diciptakan sebagai tempat istirahat dan tempat domisili. Para dai harus menyadari dunia itu medan ujian dan jembatan menuju akhirat. Karena itu, Ibnu Al-Qayyim berseru kepada orang-orang yang ingin istirahat di dunia dan menjadikan sikap menunda-nunda perbuatan sebagai jalan hidup mereka, hingga umur mereka habis tanpa mampu berbuat apa-apa, “Ahli ibadah tidak menemukan tempat istirahat, kecuali di bawah pohon Thubah. Pecinta Allah tidak dapat mendapatkan tempat domisili, kecuali di akhirat. Sibuklah anda untuk akhirat selama hidup di dunia, niscaya Anda terlindung setelah kematian.”&lt;br /&gt;Itu peringatan bagi setiap dai yang mengklaim waktu miliknya dan ia dapat menggunakannya sekehendak hatinya. Tidak, justru waktu seperti pedang. Jika Anda tidak memotongnya, Anda dipotong pedang itu. di akhirat kelak, penghuni surga tidak menyesali sesuatu melebihi penyesalan mereka terhadap waktu yang hilang di dunia, tanpa amal shalih di dalamnya. dulu, ditanyakan kepada ahli ibadah, “Kenapa Anda melelahkan jiwa Anda?” Ahli ibadah menjawab, “Aku menginginkan istirahat bagi jiwaku.”&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#999900;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-614641403705273932?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/614641403705273932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=614641403705273932&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/614641403705273932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/614641403705273932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/inilah-dunia-yang-kalian-buru.html' title='INILAH DUNIA YANG KALIAN BURU'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-6307690525721143552</id><published>2008-04-30T23:02:00.000-07:00</published><updated>2008-04-30T23:08:17.117-07:00</updated><title type='text'>KIAT - KIAT MENGUATKAN KESADARAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;color:#cc66cc;"&gt;&lt;strong&gt;Perilaku Orang-Orang Lalai&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc6600;"&gt;Tentang kondisi orang-orang lalai, Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah berkata, “Mereka tidak tahu kenapa mereka diciptakan dan apa yang dikehendaki pada mereka. Puncak keinginan mereka ialah meraih tujuan pribadi mereka. Ketika berhasil mendapatkannya, mereka tidak menggubris kecaman yang diarahkan kepada mereka. Mereka korbankan kehormatan demi mencapai tujuan pribadi dan lebih mengutamakan kenikmatan sesaat kendati menyengsarakan. Ketika berbisnis, mereka mengenakan baju penipu dengan gaya sombong, tidak jujur ketika berbisnis, dan menyembunyikan fakta.jika mereka mendapatkan uang, maka dengan syubat. Jika mereka makan, maka dengan syahwat tinggi. Mereka tidur pada malam hari, kendati sebenarnya mereka tidur di siang harinya. Tidur sejati tidak seperti itu. esok harinya, mereka berusaha meraih keinginan mereka dengan rakus seperti babi, atau anjing yang mengibaskan ekornya, tidak berkemanusiaan seperti singa, agresif seperti srigala, dan punya trik kotor seperti musang. Ketika meninggal dunia, mereka merintih karena tidak dapat melampiaskan hawa nafsu mereka, bukan karena tidak bertakwa. Itulah kadar ilmu mereka.”&lt;br /&gt;Betapa indah deskripsi kondisi dan perilaku orang-orang lalai di atas. Mereka lengket dan menempel dengan lumpur rawa dunia, menolak naik ke tingkat mulia, lebih suka kegelapan, benci cahaya dan siap saja yang menunjukan mereka kepada cahaya. Jika seseorang meninggalkan sifat-sifat yang disebut ibnu Al-Jauzi di atas, ia orang sadar.&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat untuk menguatkan kesadaran bagi orang yang ingin sadar. Di antara kiat-kiat itu adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Taubat&lt;br /&gt;Syarat taubat ada tiga: menyesal, tidak lagi mengerjakan maksiat, dan bertekad tidak akan kembali mengerjakan kemaksiatan. Ada syarat keempat terkait dengan hak-hak manusia, yaitu mengembalikan hak-hak itu kepada mereka. Syarat taubat paling penting ialah menyesal, yang membuat seseorang tidak ingin bermaksiat lagi dan bertekad tidak akan kembali kepada kemaksiatan. Imam Al-Jailani berkata muridnya, “Mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan kembalilah kepada-Nya dengan menyesal dan minta ampun, agar Dia membebeskanmu dari cengkraman musuh-musuhmu dan menyelamatakanmu dari gelombang laut kebinasaanmu. Coba pikirkan akibat perbuatan burukmu yang dapat engkau tinggalkan dengan mudah. Engkau berteduh di bawah pohon kelalaian. Keluarlah dari naungan pohon itu, sebab engkau telah melihat sinar matahari dan tahu jalan yang benar. Pohon kelalaian menjadi subur dan berkembang dengan air kebodohan. Sedang pohon kesadaran subur dan berkembang dengan air pemikiran (ilmu). Pohon taubat menjadi subur royo-royo dengan air penyesalandan pohon cinta bersemi dengan air muwafaqah (menyesuaikan diri dengan pihak yang dicintainya, yaitu Allah Rasulu-Nya).”&lt;br /&gt;Berjalan di atas jalan yang benar terasa amat mudah jika para pejalannya tahu kualitas air yang mengairi keempat jenis pohon di atas. Kelalaian hanya berkembang dengan ketidaktahuan terhadap hakikat jalan yang benar, rintangan-rintangannya, finis dan kehidupan sesudahnya. Kesadaran bersemi dengan selalu memikirkan semua itu. taubat tidak berkembang, akarnya tidak menguat, ranting-rantingnya tidak banyak, daun-daunnya tidak rimbun, dan bunga-bunganya tidak mekar, kecuali dengan sikap menyesali apa yang telah terjadi. Cinta tidak meningkat, kecuali dengan cara menyesuaikan perbuatan dengan apa yang diperintahkan Allah Ta’ala dan ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihis Sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Ingat Kematian&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu Alaihis Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbanyaklah ingat pemutusan seluruh kenikmatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hadits di atas, Rasulullah Shallallahu Alaihis Sallam mengumpamakan kematian dengan  pemutus seluruh kenikmatan dan itu bukti kematian mampu megikis habis sikap lalai ketika berada di puncaknya. Lalu, orang lalai ingat “hakikat” yang suatu saat menjemputnya dan datang kepadanya secara tiba-tiba. Jika ia ingat mati secara intens, ia sadar dan berusaha segera beramal semaksiamal mungkin, agar wajahnya bersinar putih saat menghadap Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Ingat Akibat Penundaan Siksa&lt;br /&gt;Jika Allah Ta’ala menunda pengiriman siksa kepada hamba-hamba-Nya, maka itu tidak sama dengan penundaan siksa oleh manusia terhadap sesamanya. Di antara rahmat Allah Ta’ala  kepada hamba-hamba-Nya ialah Dia memberi tempo waktu kepada mereka, menganugerahi kesempatan demi kesempatan kepada orang lalai agar “kembali”, dan membenamkannya ke dalam ujian dengan harapan ia bangkit. Jika seabrek kesempatan itu tidak banyak berguna baginya dalam hidupnya, maka Allah Ta’ala menyesatkannya dengan mengunci hatinya. Akibatnya, ia tidak dapat melihat, mendengar, dan memahami sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah mengunci mati hati dan pendengar mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah: 7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena akibat penundaan siksa teramat bahaya, Abu Al-Fadhl Jabrail bin Manshur berkata kepada orang lalai, “Sampai kapan Anda larut dalam kelalaian? Sepertinya, Anda menganggap remeh akibat penundaan siksa? Masa santai dan muda telah berlalu, sementara Anda tidak meraih keridhaan dai Tuhan Anda. Sekarang, yang tersisa adalah masa-masa hina dan malas, serta Anda tidak mendapatkan manfaat apa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.      Ingat Dosa-Dosa&lt;br /&gt;Ingat dosa-dosa membuat orang memandang dosa itu buruk dan bersemangat tidak terjerumus ke dalamnya pada masa mendatang. Juga membuatnya selalu waspada dan tidak lalai. Di antara orang yang rajin ingat dosa-dosa ialah orang ahli ibadah dan orang zuhud, Kahmas bin Al-Hasan. Diriwayatkan dari Imarah bin Zadzan yang berkata, “Kahmas bin Al-Hasan berkata kepadaku, ‘Hai Abu Salamah, aku pernah mengerjakan satu dosa dan aku menangisinya selama empat puluh tahun.’ Aku berkata, ‘dosa apa itu, wahai Abu Abdullah?’ Kahma bin Al-Hasan menjawab, ‘suatu ketika, salah seorang saudaraku mengunjungiku, lalu aku membeli ikan untuknya. Usai saudaraku makan ikan itu, aku pergi ke kebun salah seorang tetanggaku, lalu mengambil segenggam tanah. Saudaraku membersihkan tangannya dengan segenggam tanah itu. aku menangisi dosaku mengambil segenggam tanah tersebut selama empat puluh tahun’.”&lt;br /&gt;Kahmas bin Al-Hasan mengambil segenggam tanah, tapi ia menangisinya selama empat puluh tahun. Bagaimana kalau ia masih hidup, lalu melihat orang “merampok’ harta sebesar Gunung Tihamah? Itulah bentuk sikap tidak lalai yang mereka upayakan, lalu Allah Ta’ala membantu mereka dalam meniti jalan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-6307690525721143552?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/6307690525721143552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=6307690525721143552&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/6307690525721143552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/6307690525721143552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/kiat-kiat-menguatkan-kesadaran.html' title='KIAT - KIAT MENGUATKAN KESADARAN'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-8016103141443257312</id><published>2008-04-11T01:39:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T02:17:49.872-07:00</updated><title type='text'>JALAN-JALAN PAGI</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8rqukvBqI/AAAAAAAAACs/DgbaBsqnGYg/s1600-h/IMG_0453.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187913308810708642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8rqukvBqI/AAAAAAAAACs/DgbaBsqnGYg/s320/IMG_0453.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187906127625389714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8lIukvBpI/AAAAAAAAACk/pu1msf-B0_Q/s320/IMG_0432.JPG" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;span style="color:#003333;"&gt;Foto ketika jalan-jalan bersama siswa-siswa SMA Al Falah Ketintang, Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-8016103141443257312?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/8016103141443257312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=8016103141443257312&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8016103141443257312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8016103141443257312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/jalan-jalan-pagi.html' title='JALAN-JALAN PAGI'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8rqukvBqI/AAAAAAAAACs/DgbaBsqnGYg/s72-c/IMG_0453.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-4265033366923099781</id><published>2008-04-11T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T01:37:13.538-07:00</updated><title type='text'>FOTO PRIBADI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8bJOkvBoI/AAAAAAAAACc/ikDMrYSM9pw/s1600-h/100_4158.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187895141099046530" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8bJOkvBoI/AAAAAAAAACc/ikDMrYSM9pw/s320/100_4158.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8aaekvBnI/AAAAAAAAACU/Bi1AbF1qttM/s1600-h/100_4165.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187894337940162162" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8aaekvBnI/AAAAAAAAACU/Bi1AbF1qttM/s320/100_4165.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-4265033366923099781?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/4265033366923099781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=4265033366923099781&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/4265033366923099781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/4265033366923099781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/foto-pribadi.html' title='FOTO PRIBADI'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8bJOkvBoI/AAAAAAAAACc/ikDMrYSM9pw/s72-c/100_4158.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5547342776447333614</id><published>2008-04-11T00:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:53:19.062-07:00</updated><title type='text'>PAWAI BERSAMA AL FALAH</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8XCekvBmI/AAAAAAAAACM/_LyyxrXpk3E/s1600-h/Picture+051.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5187890627088418402" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8XCekvBmI/AAAAAAAAACM/_LyyxrXpk3E/s320/Picture+051.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Yayasan pendidikan Al Falah Surabaya mengadakan pawai dalam acara Maulid &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;Nabi Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5547342776447333614?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5547342776447333614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5547342776447333614&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5547342776447333614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5547342776447333614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/pawai-bersama.html' title='PAWAI BERSAMA AL FALAH'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R_8XCekvBmI/AAAAAAAAACM/_LyyxrXpk3E/s72-c/Picture+051.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5548870972675934268</id><published>2008-04-08T02:01:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T02:04:11.298-07:00</updated><title type='text'>Apa yang harus dilakukan setelah ingat kematian?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#660000;"&gt;Di Mustadrak-nya, Al-Hakim meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah melarang kalian menziarahi kubur: Sekarang, ziarahilah kuburan, karena menipiskan hati, membuat mata mengeluarkan airmata, mengingatkan kepada akhirat, dan jangan berkata jorok.” (Diriwayatkan Al-Hakim dan dishzhihkan Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas dan hadits-hadits lainnya memotivasi orang Mukmin untuk meninggalkan lingkungan “malas” dan tidak berperasaan, yang biasa ia jalani, menuju dunia baru, yang berperasaan dan ingat.&lt;br /&gt;Ingat kematian diperintahkan, namun bukan tujuan. Ingat kematian diperintahkan, agar mendorong orang beramal, yang merupakan sebab terpenting orang selamat dari neraka dan mendapat keridhaan Allah Ta’ala pada Hari Kiamat. Tangisan dan penyesalan karena ingat kematian dan akhirat tidak berarti bagi pelakunya jika tidak ditindaklanjuti dengan amal perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidur Panjang&lt;br /&gt;Penyair zuhud, Abu Al-Itahiyah, menyadari urgensi beramal setelah kematian. Ia berkata dan mengarahkan perkataannya kepada orang-orang yang sibuk membangun rumah di dunia dan tetek bengeknya, tapi lupa membangun rumah di negeri akhirat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai pembangun rumah, apa yang telah engkau siapkan untuk rumahmu di negeri lain?&lt;br /&gt;Hai penghampar permadani tebal,&lt;br /&gt;Anda jangan lupa tidur panjang dan besar&lt;br /&gt;Engkau telah dipanggil dan menjawab penggilan itu&lt;br /&gt;Coba pikirkan, kenapa engkau dipanggil?&lt;br /&gt;Bukankah Anda menghitung orang-orang hidup yang Anda lihat&lt;br /&gt;Lalu, Anda melihat mereka semua menjadi mayat-mayat?&lt;br /&gt;Anda pasti tiba di tempat mayit-mayit itu&lt;br /&gt;Dan tiba di terminal mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masa semua tidur tidak bisa disamakan dengan masa tidur di kuburan, bukankah masuk akal kalau persiapan menggelar hamparan untuk tidur panjang itu lebih penting diutamakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala Beramal&lt;br /&gt;Tidak pelak lagi, sibuk dengan dunia daripada akhirat penyebab terbesar lemahnya persiapan dan rendahnya semangat beramal untuk menghadapi hari-hari setelah kematian. Selalu ingat akhirat, hingga menjadi obsesi utama manusia unsur paling penting timbulnya semangat beramal. Ini karena perasaan sesaat hanya menghasilkan semangat beramal yang hanya berusia sesaat pula, atau kadang malah tidak menghasilkan semangat beramal sama sekali.&lt;br /&gt;Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai obsesi utamanya dan kesibukan prinsipilnya, maka dunia datang kepadanya dan mendorong orang tersebut mengambilnya. Di sisi lain, kita lihat dunia lari dari orang yang memburunya. Itulah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa akhirat menjadi obsesinya, maka Allah menjadikan hatinya kaya, melancarkan semua urusannya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah menjadikannya miskin, mengacaukan semua urusannya, dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syumaith bin Ajlan berkata, “Barangsiapa selalau I ngat kematian, ia tidak peduli apakah dunia itu sempit atau luas.”&lt;br /&gt;Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa selalu dan sering ingat kematian punya pengaruh signifikan di amal perbuatan seseorang dan persiapannya menyongsong hari-hari setelah kematiannya. Itu pula kesimpulan Al-Hasan Al-Bashri sebelum kita ketika ia berkata, “Jika seseorang seringa ingat kematian, ia melihat hasilnya di amal perbuatan yang ia lakukan. Barangsiapa berangan-angan panjang, amal perbuatannya buruk.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkecoh dengan Orang yang Berumur Panjang&lt;br /&gt;Ini sebab lain lemahnya persiapan hari-hari setelah kematian, sebab, penglihatan sebagian orang terhadap orang-orang berumur panjang membuat mereka lupa bahwa kematian tidak pilih kasih terhadap anak muda, orang tua, dan bayi. Ia ditipu setan dengan iming-iming akan berumur panjang, seperti orang-orang berumur panjang itu. karena itu, tundahlah amal perbuatan dan kerjakan kalau sudah tua saja! Itulah bujuk rayu setan kepadanya. Jawabnya, Allah Ta’ala berkehendak merahasiakan kapan terakhir hidup kita, agar itu mendorong kita beramal dan selalu melakukan persiapan menghadapi akhirat. Ibnu Al-Jauzi berkata, “Orang yang tidak tahu kapan kematian datang kepadanya harus selalu siap, tidak terkecoh dengan kesehatan dan masa muda. Sebab, jarang sekali orang meninggal dunia dalam usia tua. Justru banyak sekali orang meninggal dunia dalam usia muda. Karena itu, tidak banyak orang yang hidup hingga tua. Orang-orang dulu berkata,&lt;br /&gt;“Satu orang hidup lama&lt;br /&gt;Lalu, ia mengecoh banyak orang&lt;br /&gt;Dan membuat lupa pada orang-orang yang meninggal dunia dalam usia muda’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai Kematian&lt;br /&gt;Kematian ibarat badai yang menyerang daratan sedikit demi sedikit, lalu besar-besaran. Orang berakal ialah orang yang tidak hidup dalam ilusi ala anak Nabi Nuh Alaihis Salam. Ia kira dirinya selamat dari badai dengan berlindung di puncak gunung. Kematian juga seperti itu. barangsiapa tidak siap menghadapinya, ia ditelan dan ditenggelamkan kematian sebelum sempat berpikir untuk siap-siap. Ibnu Al-Jauzi berkata, “Badai kematian telah datang. Karena itu, naiklah ke perahu ketakwaan.”&lt;br /&gt;Perahu tersebut bukan perahu hiasan dan wisata. Namun perahu penyelamat dari badai yang akan membanjiri bumi. Itulah badai yang membuat orang zuhud, Said bin As-Saib, ketakutan. Dikisahkan, airmatanya tidak pernah “kering”. Airmatanya senantiasa mengucur sepanjang tahun. Jika shalat, ia menangis. Jika thawaf, ia menangis. Jika duduk membaca Al-Qur’an, ia menangis. Dan, jika Anda temui dia di jalan, ia menangis.&lt;br /&gt;Kendati demikian, jika ditanya, “Bagaimana kabar Anda pagi ini?” ia menjawab, “Pagi ini, aku sedang menunggu kematian tanpa persiapan maksimal.”&lt;br /&gt;Ini tidak berarti kita ingin sampai ketingkat putus asa dari rahmat Allah Ta’ala dan keluasan ampunan-Nya. Allah lebih penyayang daripada ibu kepada anaknya yang hilang. Kita tidak ingin pasrah tanpa amal perbuatan. Jika tidak beramal, kita dijemput kematian dengan tiba-tiba tanpa persiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5548870972675934268?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5548870972675934268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5548870972675934268&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5548870972675934268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5548870972675934268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/apa-yang-harus-dilakukan-setelah-ingat.html' title='Apa yang harus dilakukan setelah ingat kematian?'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-105411420852976400</id><published>2008-04-08T01:57:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T02:00:04.733-07:00</updated><title type='text'>CINTA DUNIA</title><content type='html'>&lt;span style="color:#993300;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#6600cc;"&gt;Wanita Tua Renta Berwajah Jelek&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Al-Ala’ bin Ziyad berkata, “Di mimpiku, aku lihat manusia membuntuti sesuatu, lalu aku ikut membuntutinya. Aku terkejut, ternyata yang mereka buntuti adalah wanita tua renta berwajah buruk dan mengenakan sejumlah pakaian mewah dan perhiasan. Aku bertanya kepada wanita tua itu, ‘Anda siapa?’ Ia menjawab, “Aku dunia.” Aku berkata, ‘aku berdosa kepada Allah, agar menjadikan benci padaku.’ Wanita itu menjawab, ‘itu terwujud jika engkau benci uang’.”&lt;br /&gt;Cinta harta pilar atau cinta dunia. Menurut tabiatnya, jiwa cinta harta dan memiliki harta senang hartanya bertambah banyak serta tidak ingin hartanya berkurang. Ini karena ia menduga dirinya pemilik asli harta dan lupa atau dibuat lupa oleh setan bahwa harta itu milik Allah Ta’ala yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.&lt;br /&gt;Selain itu, harta merupakan fitnah bagi manusia, kecuali bagi orang-orang yang tahu hakikat harta. Mereka diberi harta oleh Allah Ta’ala, lalu mereka gunakan ke dalam hal-hal positif. Harta ada di genggam tangan mereka, namun tidak menembus hati mereka. Karena itu, mereka dipuji Allah Ta’ala di al-Qur’an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak rela menjadi budak jiwa mereka dan lebih berhasyart menjadi penguasa yang bebas dari tekanan jiwa. Mereka pun memperoleh apa yang mereka idam-idamkan, berhak mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegar Menghadapi Rayuan Harta b&lt;br /&gt;Imam Abu Hanifah termasuk orang-orang yang mampu mengalahkan jiwa mereka, tidak ada kekasih selain Allah Ta’ala yang masuk ke hati mereka, dan mereka menolak tunduk kepada selain Dia. Khalifah Al-Mansur memerintahkan Abu Hanifah diberi subsidi sebesar sepulah ribu dirham dan orang yang ditunjuk untuk menjalankan tugas ini adalah Al-Hasan bin Quthubah.&lt;br /&gt;Abu Hanifah sudah merasa uang sebanyak itu dikirim untuknya. Lalu, ia “puasa” tidak bicara dengan siapa pun. Ia seperti tak sadarkan diri. Sesuatu ketika, uang itu tiba dibawa utusan Al-Hasan bin Quhthubah ke rumah Abu Hanifah. Utusan Al-Hasan Quhthubah masuk kerumah Abu Hanifah dengan membawa uang tersebut namun orang-orang berkata, “hari ini, Abu Hanifah tidak bicara sepatah kata pun.” Utusan Al-Hasan bin quhthubah berkata, “Kalau begitu, apa yang mesti aku lakukan?” Orang-orang berkata kepada utusan Al-Hasan bin Quhthubah, “Terserah Anda sendiri.” Lalu, utusan Al-Hasan bin Quhthubah meletakan uang tersebut di salah satu sudut rumah. Uang sepuluh ribu dirham pun berada di tempat itu. ketika Abu Hanifah meninggal dunia, anaknya, Hamad, sedang berpergian. Ketika Hammad datang setelah kematian ayahnya, ia membawa uang sepuluh ribu dirham itu ke rumah Al-Hasan bin Quhthubah. Hammad berkata, “Aku temukan ayahku berwasiat kepada, ‘Jika aku telah dimakamkan, ambillah uang sepuluh dirham di pojok rumah, lalu bawah kepada Al-Hasan bin Quhthubah dan katakan kepadanya, inilah barang yang negkau titipkan kepadaku’.”&lt;br /&gt;Abu Hanifah termasuk orang yang tahu hakikat harta, lalu berinteraksi dengannya berdasarkan pemahaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi Asset Anda   &lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri berkata kepada orang-orang yang dibutakan oleh kerakusan dan hati mereka tertutup, lalu tidak tahu hakikat harta dan fitnahnya, serta mengira seluruh hartanya itu milik mereka, “Manusia berkata, ‘Ini hartaku. Ini hartaku.’ Padahal, harta Anda tidak lain apa yang telah Anda makan hingga habis, pakaian yang Anda kenakan hingga rusak, dan apa yang Anda berikan demi mengharapkan pahala kelak.”&lt;br /&gt;Hakikat ini hanya dipahami orang-orang yang jiwa mereka tidak sudi terjerumus ke dalam “bangkai” (dunia), karena mereka terbiasa membawa jiwa mementingkab hal-hal besar. Jiwa mereka menempeldi hati burung hijau yang terbang melayang-layang di atas lahan surga. Dalam pandangan mereka, dunia tidak lebih dari bangkai dan pencari akhirat tidak layak mengarahkan obsesi kepadanya. Inilah yang dikatakan ibnu Al-Qayyim saat berkata, “Dunia adalah bangkai dan siang itu tidak mau menerkam bangkai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelezatan Dunia&lt;br /&gt;Orang-orang seperti di atas paham betul esensi dunia dan fitnahnya. Karena itu, mereka lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Mereka bandingkan antara ketidaklanggengan dunia dengan keabadian surga beserta kenikmatannya, lalu mereka memilih sesuatu yang abadi daripada sesuatu yang fana. Apa saja yang ada di dunia sifatnya temporer. Kelezatan juga bersifat sementara dan baru diperoleh setelah mengarungi seabrek kelelahan. Hakikat ini dijelaskan Ibnu Al-Jauzi saat berkata, “Di dunia ini, tidak ada orang yang lebih tolol dari orang yang mencari kelezatan dunia. Di dunia ini, sebenarnya tidak ada kelezatan. Yang ada ialah istirahat sejenak setelah penderitaan panjang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-105411420852976400?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/105411420852976400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=105411420852976400&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/105411420852976400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/105411420852976400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/cinta-dunia.html' title='CINTA DUNIA'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-3621452016155937554</id><published>2008-04-08T01:52:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T01:55:58.264-07:00</updated><title type='text'>HARI-HARI DUNIA DI AKHIRAT</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#660000;"&gt;Sebelumnya, sudah disebutkan penghuni dunia, yang dulunya paling mewah hidupnya. Ketika ia dicelupkan sekali saja ke neraka, ia lupa seluruh kenikmatan dunia, yang pernah ia rasakan. Ia pun bersumpah tidak pernah merasakan kenikmatan apa pun padahal, ia penghuni neraka, yang dulunya orang dunia yang paling mewah hidupnya.&lt;br /&gt;Beratnya siksa Hari Kiamat membuat manusia lupa semua perbuatan mereka di dunia. Di antara bentuk lupa mereka ialah mereka berselisih pendapat dan tidk ingat lagi berapa lama sesungguhnya mereka dulu hidup di dunia. Dalam hal ini, mereka terbagi ke dalam lima kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Pertama Mengatakan Sepuluh Hari&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Yaitu) di hari ditiup sangkakala (terompet) dan Kami kumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. Mereka berbisik-bisik di antara mereka, ‘Kalian tidak berdiam (Di dunia), melainkan hanya sepuluh (hari)’.” (Thaha: 102-103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang berdosa dikumpulkan tanpa cahaya dan wajah mereka berubah warnanya menjadi biru muram, karena beratnya siksa yang mereka alami dan dosa mereka yang tidak menyisahkan cahaya di wajah mereka. Sepertinya, kita lihat mereka di kaca TV saling berbisik sesama mereka, di pemandangan menjijikan. Mereka telanjang badan psersis seperti pertama kali mereka lahir ke dunia dan cemas ingat usia sebenarnya mereka hidup di dunia. Salah seorang dari mereka berkata kepada sebagian lain dengan suara pelan, “Kalian hidup hanya sepuluh hari di dunia.”&lt;br /&gt;Jumlah ini pun, sepuluh hari, masih dianggap terlalu banyak oleh kelompok kedua, yang di dalamnya terdapat orang-orang lurus, cerdas, dan bijak. Kelompok dua tidak mengakui jumlah tersebut dan menegaskan mereka hidup di dunia kurang dari sepuluh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Kedua Mengatakan Satu Hari&lt;br /&gt;Tentang kelompok ini, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami lebih tahu apa yang mereka lakukan, ketika orang yang paling lurus jalannya di antara mereka berkata, ‘Kalian tidak berdiam (di dunia), melainkan hanya sehari saja’.” (Thaha: 104)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh hari berkurang menjadi satu hari. Betapa hinanya dunia, yang mereka sembah selain Allah! Ya, dunia palsu yang mereka perjuangkan mati-matian dan mereka kira kekal abadi di dalamnya. lalu mereka kafir, mengembangkan praktek riba, minum minuman keras, berzina, berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah Ta’ala, wanita-wanita mereka tampil norak, mengerjakan apa saja yang diharamkan dan dilarang Allah. Mereka tidak pernah menduga akan bertemu Allah Ta’ala pada suatu waktu dan ditanya banyak hal. Mereka tidak pernah membayangkan fakta penting bahwa mereka sendiri yang mengecilkan arti dunia, hingga mengatakan hanya hidup sehari di dunia. Satu hari ini pun, yang tadinya dikurangi dari sepuluh hari, masih dianggap terlalu banyak oleh kelompok lain dan mereka tidak menerima bilangan itu, karena saking beratnya siksa akhirat, yang membuat mereka semakin lupa dan saling berselisih paham tentang masa sebenarnya mereka hidup di dunia. Ada kelompok lain yang menganggap sebentar masa hidup mereka di dunia, sangat cepat, dan tidak mengakui bilangan sebelumnya, untuk menegaskan bahwa mereka hidup di dunia kurag dari sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Ketiga Mengatakan Kurang dari Sehari&lt;br /&gt;Tentang kelompok ini, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah bertanya, ‘Berapa tahun lamanya kalian tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakan kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kalian tidak tinggal melainkan sebentar saja, kalau kalian mengetahui.’ Maka apakah kalian mengira sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mukminun: 112-115).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Qutb Rahimahullah berkata, “Allah Subhanahu sudah tahu berapa lama sesungguhnya mereka hidup di dunia. Pertanyaan Allah pada ayat di atas merendahkan arti dunia dan mengecilkan hari-hari mereka di dalamnya. mereka membeli hari-hari abadi di akhirat dengan dunia. Di akhirat, mereka merasakan hidup mereka di dunia dulu pendek dan tidak lama. Mereka putus asa dan dada mereka sesak. Masa hidup mereka tidak banyak berarti bagi mereka. Mereka berkata, ‘Kami tinggal di bumi sehari, atau setengah hari. Tanyakan kepada orang-orang menghitung.’&lt;br /&gt;Tapi itu jawaban sempit, putus asa, dan sedih! Jawaban balik atas jawaban orang kafir itu ialah, ‘Kalian hidup di bumi sebentar saja dibanding masa tingggal yang kalian jalani sekarang jika kalian bisa menghitung dengan baik.’&lt;br /&gt;Allah berfirman, ‘Kalian tidak tinggal melainkan sebentarsaja, kalau kalian mengetahui.’ Setelah itu, mereka dihina dan dikecam keras atas pendustaan mereka kepada akhirat. Selain itu, Allah Ta’ala memberi penjelasan hikmah hari kebangkitan yang dirahasiakan sejak awal penciptaan makhluk. Allah berfirman, ‘Maka apakah kalian mengira sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main dan kalian tidak akan dikembalikan kepada kami?”&lt;br /&gt;Mereka tidak hanya menyimpulkan masa hidup mereka di dunia setengah hari. Ada kelompok lain yang menolak pendapat sebelumnya dan menandaskan masa hidup mereka di dunia dulu kurang dari setengah hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-3621452016155937554?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/3621452016155937554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=3621452016155937554&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3621452016155937554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3621452016155937554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/hari-hari-dunia-di-akhirat.html' title='HARI-HARI DUNIA DI AKHIRAT'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-1853311830041290837</id><published>2008-04-08T01:42:00.000-07:00</published><updated>2008-04-08T01:46:00.841-07:00</updated><title type='text'>Kenapa Doa Tidak Segera Terkabul?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#330033;"&gt;Ada masalah penting yang perlu saya ingatkan kepada aktivis Islam. Yaitu, kadang, ada aktivis Islam berdoa kepada Allah Ta’ala dan minta sesuatu kepada-Nya. Ia berdoa dan berdoa, dengan mengiba kepada-Nya. Tapi, doanya tidak kunjung dikabulkan Allah Ta’ala. Sejak saat itu, ia tidak lagi berdoa dan tidak punya harapan doanya dikabulkan Allah Ta’ala. Sikap seperti itu dilarang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dioa salah seorang dari kalian dikabulkan selagi ia tidak buru-buru doanya dikabulkan. Ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Di riwayat Muslim disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan minta segera doa dikabulkan?’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,’Hamba itu berkat, aku berdoa dan berdoa, tapi doaku tidak dikabulkan’.” (Diriwayatkan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, aktivis Islam, ketahuilah, ada banyak sebab kenapa doa tidak segera dikabulkan Allah Ta’ala dan ada hikmah besar di balik tidak dikabulkannya doa dalam waktu cepat. Di antara sebab dan hikmah itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bisa jadi, penyebab tertundanya pengabulan doa Anda dikarenakan Anda belum memenuhi syarat-syarat diterimanya doa. Kadang, bentuknya ialah Anda tidak menghadirkan hati Anda saat berdoa, atau waktu berdoa Anda bukan waktu dikabulkannya doa, atau Anda tidak khusyuk, merendahkan diri, dan syarat-syarat doa penting lainnya.&lt;br /&gt;2. Kadang, tidak terkabulnya doa dikarenakan sebab tertentu, atau ada dosa yang Anda belum bertaubat darinya, atau ada dosa di mana Anda tidak bertaubat dengan jujur darinya, atau makanan Anda mengandung syubhat atau ada hak milik orang lain pada Anda dan Anda belum mengembalikannya. Karena itu, Anda harus bertaubat dengan taubat nashuhah, dengan melengkapi syarat-syaratnya dan mengembalikannya hak orang lain kepada pemiliknya terlebih dahulu. Inilah sebab terpenting tidak dikabulkannya dia. Disebutkan di hadits bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai Sa’ad (bin Abu Waqqash), makanlah makanan yang baik-baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga disebutkan di hadits shahih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, Rasulullah mengisahkan seseorang yang rambut  acak-acakan, berdebu, dan menengadahkan tangan ke langit untuk berdoa, ‘Ya Allah, ya Allah.’ Padahal, makanannya haram. Minumannya haram. Pakaiannya haram. Dan, diberi makan dari sumber haram. Bagaimana doanya dikabulkan?”&lt;br /&gt;(Diriwayatkan Muslim, At-Tirmidzi, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, aktivis Islam, Anda harus membersihkan “jalan-jalan” terkabulnya doa dari segala kotoran dosa.&lt;br /&gt;3. Bisa jadi, Allah Ta’ala sengaja menyimpan pahala doa dan baru Dia berikan kepada Anda do akhirat kelak atau Dia menghilangkan keburukan dari Anda. Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika di atas bumi ada orang Muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, maka Dia mengabulkan doa itu atau menghilangkan keburukan darinya, selagi ia tidak mengerjakan doa atau memutus hubungan kekerabatan.” Seseorang berkata, “Bagaimana kalau kita memperbanyak doa?” Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah lebih banyak lagi mengabulkan doanya atau menghilangkan keburukan darinya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di riwayat Al-Hakim ada tambahan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau Allah menyimpan pahala seperti doa itu untuknya.” (Diriwayatkan Al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, aktivis Islam, barangkali, ini lebih baik bagi Anda, sebab dengan disimpannya pahala doa di akhirat dan baru diberikan kepada Anda saat itu, maka itu mengangkat derajat dan martabat Anda. Saat itu, Anda berbahagia dan berharap seandainya seluruh pahala doa Anda disimpan dan baru dibagikan di akhirat.&lt;br /&gt;4. Penundaan terkabulnya doa merupakan ujian baru dari Allah Ta’ala kepada seseorang. Allah Ta’ala ingin menguji iman orang itu, dengan doa tidak segera dikabulkan, setan membisikan pikiran jahat kepada seseorang, dengan berkata kepadanya, “Apa yang Anda minta itu ada pada Allah. Kenapa doa Anda tidak segera dikabulkan?” Dan, bisikan-bisikan jahat lainnya. Orang Muslim harus melawan bisikan jahat seperti itu dan mengusirnya dari dirinya, dengan segala sarana. Ia harus tahu bahwa jika hikmah di balik doa tidak dikabulkan dengan segera ialah Allah Ta’ala ingin menguji hamba-Nya dengan cara memerangi iblis, maka hikmah itu sudah cukup baginya.&lt;br /&gt;5. Hikmah lain doa tidak segera dikabulkan ialah orang Muslim tahu hakikat penting. Yaitu, ia hamba Allah Ta’ala, Allah itu pemilik segala-galanya, dan pemilik berhak berbuat apa saja terhadap miliknya, dengan cara memberi atau tidak memberi. Jika Dia mau memberi, maka itu salah satu bentuk keadilan-Nya dan Dia punya alasan kuat di dalamnya. Anda juga tahu, ternyata Anda bukan buruh yang langsung marah jika gajinya tidak segera diberikan dan Anda tahu makna sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah Perdamaian Al-Hudaibiyah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku Rasulullah dan Allah tidak pernah akan menelantarkan aku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika doa tidak segera dikabulkan, maka iman seseorang teruji dan terlihat perbedaan antara orang beriman sejati dengan orang beriman gadungan. Sikap orang Mukmin tidak berubah terhadap Tuhannya ketika doanya tidak segera dikabulkan dan malah ia semakin rajin beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;Setiap aktivis Islam harus ingat bahwa ketika Nabi Ya’qub Alaihis Salam kehilangan anak kesayangannya, Nabi Yusuf Alaihis Salam, beliau tidak henti-hentinya berdoa dan berdoa. Tapi pengabulan doa beliau tertunda hingga waktu yang lama, hingga ada yang mengatakan, “Nabi Ya’qub berdoa selama empat puluh tahun.”&lt;br /&gt;Penderitaan dan cobaan yang dialami Nabi Ya’qub Alaihis Salam semakin meningkat. Anaknya yang lain, Bunyamin, hilang, dan kedua matanya buta karena sedih. Kendati demikian, beliau tetap optimis bahwa penderitaan ini semua suatu saat akan berakhir. Ketika itulah, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Yusuf: 83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kadang, doa yang tidak segera dikabulkan itu membuat Anda selalu berdiri di depan Allah Ta’ala, selalu merendahkan diri dan berlindung diri kepada-Nya. Sebaliknya, jika permintaan Anda dikabulkan, maka Anda lebih sibuk, lalu Anda tidak ingat kepada Allah Ta’ala, tidak meminta dan berdoa kepada-Nya, padahal keduanya inti ibadah. Inilah realitis sebagian besar kita. Buktinya, jika tidak ada cobaan, maka kita tidak berlindung diri kepada Allah Ta’ala, seperti dikatakan Ibnu Al-Jauzi Rahimahullah. Kadang, cobaan itu sendiri, saking beratnya, membuat Anda lupa Allah. Dan, jika ada sesuatu yang mengiuatkan posisi Anda di depan Allah Ta’ala, maka itu baik sekali bagi Anda. Ibnu Al-Jauzi meriwayatkan dari Yahya Al-Bakka’ (yang suka menangis) bahwa Yahya Al-Bakka’ bermimpi bertemu Allah Ta’ala. Di mimpi itu, Yahya AL-Bakka’ berkata, “Tuhanku, aku sudah sering berdoa kepada-Mu, tapi Engkau tidak kunjung mengabulkan doaku?” Allah berfirman, “Hai Yahya, Aku ingin selalu  mendengar suaramu.”&lt;br /&gt;7. Jika doa Anda segera dikabulkan Allah Ta’ala maka bisa jadi Anda malah berbuat dosa, atau berdampak buruk pada agama Anda, atau fitnah bagi Anda, atau apa yang Anda minta itu sekilas baik bagi Anda padahal sebenarnya tidak baik bagi Anda. Terutama, bagi orang yang tidak berdia dengan doa-doa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengajukan permintaan tertentu kepada Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari salah seorang generasi salaf bahwa ia minta perang meletus kepada Allah, lalu ada suara yang berkata kepadanya, “Jika engkau ikut perang, engkau ditawan. Dan, jika engkau ditawan, engkau masuk Kristen.”&lt;br /&gt;Setiap aktivis Islam harus memperhatikan doa-doa di Al-Qur’an dan Sunnah. Semua yang telah saya sebutkan mengingatkan kita pada firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.” (Al- Isra’: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Setiap dia punya ketentuandan takaran. Adalah tidak masuk akal, hari ini Anda berdoa Khilafah Islamiyah berdiri, lalu Anda tunggu itu terwujud besok pagi. Doa agung ini punya takaran, syarat, sebab, prolog, hasil, kerja keras, pengorbanan besar, kaderisasi generasi yang dididik Allah Ta’ala secara langsun dan Dia siapkan berkuasa di atas bumi. Adalah tidak realistis, salah seorang dari kita berdoa seperti doa tersebut hari ini dan minta terealisir beberapa hari lagi! Seorang ahli tafsir menyebutkan bahwa jarak antara doa Nabi Musa Alaihis Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau memberi kepad Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan di kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakan harta benda mereka, dan kunci mati hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” (Yunus: 88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terkabulnya doa dan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya permohonan kamu berdua dikabulkan.” (Yunus: 89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu empat puluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mari kita kaji. Pihak yang berdoa adalah Nabi Musa Alaihis Salam, salah seorang dari rasul-rasul Ulul Azmi, sedang pihak yang meng-amin-kannya ialah Nabi Harun Alaihis Salam, nabi mulia. Keduanya telah memenuhi semua syarat dan etika doa. Pihak yang didoakan celaka ialah Fir’aun dan konco-konconya, yang notabene manusia paling dzalim, fasik, dan kafir, saat itu. Meski begitu, doa Nabi Musa Alaihis Salam tidak segera dikabulkan Allah Ta’ala. Itulah takaran dan kelebihan doa itu. Yang bukan sembarang doa. Point ini penting bagi siapa saja yang merenungkan dan mengkajinya.&lt;br /&gt;OOO&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-1853311830041290837?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/1853311830041290837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=1853311830041290837&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1853311830041290837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1853311830041290837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/kenapa-doa-tidak-segera-terkabul.html' title='Kenapa Doa Tidak Segera Terkabul?'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-8755780050862635454</id><published>2008-04-07T21:12:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:13:25.298-07:00</updated><title type='text'>PENASIHAT YANG SELALU BUNGKAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#660000;"&gt;Penasehat model ini selalu diam, tidak berkata sepatah kata pun. Tapi, suaranya di lubuk hati manusia merupakan suara paling keras yang pernah ada. Ia penasehat, yang suaranya menggelegar. Ia tidak dapat berkata dengan bahasa teratur, tapi sorot matanya lebih berpengaruh dari semua perktaan penasihat. Ia tidak dapat menggerakan kedua tangan dan matanya ke kanan dan kiri, untuk membawa para pendengar pada ceramahnya, karena daya tariknya sudah tersedot padanya. Ia menarik hati, sebelum tubuh manusia.&lt;br /&gt;Penasihat itu ialah “lubang”, di mana seluruh menusia tidur di dalamnya, sesudah seluruh alat di tubuh mereka tidak befungsi lagi dan telah menunaikan tugas ujian yang dibebankan kepadanya, untuk melihat langsung hasil-hasil ujian di “lubang” itu. ya, penasihat itu adalah “lubang”, yang juga dinamakan kuburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ar-Rafi’i Memanggil Kuburan&lt;br /&gt;Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i menyeruh kuburan dengan berkata, “Wahai kuburan, engkau tidak henti-hentinya berkata kepada manusia, ‘Kemarilah.’ Semua jalan berakhir padamu. Semua orang melintas jalanmu. Semua orang kondisinya sama di sisimu. Mereka tidak pernah menguburkan raja yang tulangnya laksana emas di tempatmu, pahlawan yang ototnya seperti besi, walikota yang kulitnya bak sutra halus, menteri yang wajahnya bagai batu permata, orang kaya yang hatinya tak ubahnya seperti gudang harta, dan orang miskin yang keranjang sampah menempel di usus-ususnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam Menangisi Ibu Beliau&lt;br /&gt;Karena kuatnya kesan dan pengaruh nasihat kuburan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan kaum Muslimin menziarahinya, seperti terlihat di banyak hadits. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam menziarahi kuburan ibu beliau, lalu menangis dan siapa saja yang disekitar beliau ikut menangis. Beliau bersabda, ‘Aku minta izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampunan untuk ibuku, namun Dia tidak mengizinkanku. Aku pun minta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburannya, lalu Dia memberiku izin. Ziarahi kuburan, karena mengingatkan kepada akhirat’.” (Diriwayatkan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia lupa itu wajar. Ya, mereka lupa ending yang pasti terjadi pada mereka. Akibatnya, hati mereka keras membantu. Lalu, mereka tidak siap pergi ke akhirat dan tidak dapat mengambil manfaat dari nasihat yang didengar, akibat kekerasan hati mereka yang membuat mereka lupa tujuan asasi keberadaan mereka di dunia ini. Seorang penyair berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia lalai dan kematian menyadarkan mereka&lt;br /&gt;Mereka tidak sadar, hingga usia mereka habis&lt;br /&gt;Mereka mengantar keluarga mereka ke kuburan&lt;br /&gt;Dan melihat siapa saja yang dikubur&lt;br /&gt;Lalu, kembali ke mimpi-mimpi kelalaian mereka&lt;br /&gt;Sepertinya, mereka tidak pernah melihat sesuatu apa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tujuan utama dianjurkannya ziarah kubur ialah ingat kematian, yang membuat orang ingat akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-Orang yang Lari dari Kematian&lt;br /&gt;Karena hati keras dan lalai, sebagian orang tidak bisa mendengar apa pun yang mengingatnya pada kematian, karena mengira mampu lolos dari kematian atau “membelokkan” arah kematian di perjalanannya, hingga tidak mengenai dirinya. Pemikiran kekanak-kanakan ini dimentahkan Allah Ta’ala dengan firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya itu sesungguhnya akan menemui kalian.” (Al-Jumu’ah: 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i berkata, “Barangsiapa lari dari sesuatu, ia tinggalkan sesuatu itu di belakangnya. Kecuali kuburan. Barangsiapa lari darinya, ia malah mendapati kuburan di depannya. Kematiaan selalu menanti tanpa pernah bosan dan Anda selalu maju kepadanya, tanpa mundur sedikit pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang Diam Seribu Bahasa&lt;br /&gt;Jadi, menziarahi penasihat itu, kuburan, menguatkan hati dan menghilangkan kekerasan hati. Ketika Anda pergi ke masjid pada hari Jum’at, Anda mendengar satu penasihat (khatib). Jama’ah shalat membludak, namun penceramahannya satu orang. Hal ini tidak berlaku dikuburan. Semua kuburan berubah menjadi penasihat (penceramah) dan Anda mendengar nasihat mereka pada saat yang sama. Para pendengarnya sedikit, sedang penasihatnya banyak. Kondisi unik ini hanya terjadi di kuburan.&lt;br /&gt;Musthafa shadiq Ar-Rafi’i berkata, “Kita buku kuburan dan meletakkan mayit yang mulia dan tidak lagi mengidap penyakit dunia. Dunia terhenti di kuburan. Bahkan, tanah yang dapat bicara berusaha memahami tanah yang diam. Dan, tanah pun tahu umur sepanjang apa pun ternyata pada hakikatnya pendek, kekuatan setangguh apa pun akhirnya melemah, tujuan seluas apa pun akhirnya sempit, dan seluruh benua ternyata akhirnya kecil seperti kuburan.”&lt;br /&gt;Andai hati tidak keras dan manusia sibuk memanfaatkan seluruh sarana yang menunjang realisasi tujuan penciptaan mereka, tentu pada setiap kelahiran bayi, mereka ingat hari kelak mereka dimakamkan.&lt;br /&gt;Ibnu Al-Jauzi berkata, “Ayunan bayi tiada lain adalah liang lahad.”&lt;br /&gt;Sebagian bayi yang baru lahir dibalut dengan secarik kain putih dan diletakkan di ayunan tanpa mampu bergerak, mayit juga dibalut dengan kain putih dan itulah pakaian terakhir yang ia kenakan di dunia, lalu berada di hamparan bumi, tanpa gerak hingga hari Kebangkitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-8755780050862635454?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/8755780050862635454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=8755780050862635454&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8755780050862635454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8755780050862635454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/penasihat-yang-selalu-bungkam.html' title='PENASIHAT YANG SELALU BUNGKAM'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-1477117341164513626</id><published>2008-04-07T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:30:32.450-07:00</updated><title type='text'>PERBARUI IMAN ANDA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;color:#990000;"&gt;Akhi, aktivis Islam, perbarui iman Anda secara rutin. Rekonstruksi iman ini urgen bagi setiap orang Muslim secara umum dan aktivis Islam secara khusus. Sebab, kadang, karena sibuk mengerjakan tugas-tugas dakwah, atau mempelajari masalah-masalah dakwah, atau memikirkannya, atau mencurahkan segenap tenaga untuk aktivis Islam, atau aktivitas melawan musuh-musuh Islam dengan segala sarana yang disyariatkan Islam, itu membuat aktivis Islam tidak sempat mengurusi hatinya dan memberi perhatian penuh kepadanya. Padahal, orang Muslim berjalan kepada Allah Ta’ala dengan hatinya, bukan dengan orang tubuhnya. Kalaupun organ tubuh mengerjakan kebaikan, maka itu karena kebaikan hati dan semangatnya kepada kebaikan.&lt;br /&gt;Jika aspek ini dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan serius, maka aktivis Islam kehilangan ibadah-ibadah batin, misalnya ikhlas. Bahkan, bisa jadi, aktivis Islam tidak punya keikhlasan sejak awal iltizamnya. Ibadah-ibadah batin lainnya, seperti jujur, yakin, zuhud, tawakkal, takut, taubat, menyerahkan diri, dan cinta Allah Ta’ala, juga hilang dari dirinya. Beberapa saat kemudian, sang aktivis ingin kondisi hatinya pulih seperti kondisi semula saat ia awal bergabung ke kafilah dakwah. Itu semua akibat ia tidak memperlihatkan hatinya. Jika itu terus terjadi, bisa jadi, Anda melihat sang aktivis banyak membicarakan hal-hal yang tidak berguna, misalnya makan secara berlebihan, atau berinteraksi dengan orang lain bukan karena pertimbangan agama, atau banyak tidur, atau bermalas-malasan, atau tidak berusaha mengatur waktunya, atau menghabiskan waktunya padahal-hal haram atau makruh. Kalaupun waktunya digunakan pada hal-hal mubah, maka itu secara berlebihan dan tanpa memperhatikan aspek agama atau dunia. Ia tidak menggubris perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk merekonstruksi iman, tanpa melihat kualitas iman, amal, dan posisinya di gerakan dakwah. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbaruilah iman kalian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalllallahu Alaihi wa Sallam sering bersumpah dengan kalimat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, demi Dzat yang membolak-balik hati.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat ada kemerosotan pada sebagian aktivis dakwah, atau terjerumus ke dalam lautan syahwat dan syubhat. Kadang, hal ini betul-betul terjadi pada sebagian dari mereka. Penyebabnya tidak lain karena kurang memperhatikan aspek ini, memperbarui iman. Ini tanggung jawab bersama antara individu. Level qiyadah (pemimpin), dan gerakan dakwah secara umum.&lt;br /&gt;Saya seringkali melihat beberapa aktivis mencapai jenjang tertentu di gerakan dakwah dan menghabiskan sebagian umurnya dengan manis bersama dakwah. Setelah itu, ia berbalik dan keluar dari barisan aktivis. Penyebabnya ialah karena ia tidak memperhatikan hatinya. Bagaimana ia berjalan, kehabisan bekal, dan tidak berbekal dengan bekal apa-apa lagi?&lt;br /&gt;Bekal hatinya telah ia gunakan untuk mengarungi salah satu tahapan usianya dan habis di perjalanan. Akibatnya, ia tewas di tempat bahaya, yaitu kesesatan syubhat dan kehinaan syahwat. Beragam penyakit yang menyerang sebagian aktivis Islam di separoh perjalanan dakwah, misalnya cinta dunia, egois padahal dulunya itsar (lebih mementingkan orang lain atas kepentingan pribadi), rakus padahal sebelumnya zuhud dan wara’, bersikap kasar kepada kaum Mukminin padahal sebelumnya bersikap lembut kepada mereka, dekat dengan orang-orang dzalim padahal dulunya dekat dengan orang-orang beriman, ujub, sombong terhadap orang lain padahal sebelumnya rendah hati, congkak, dan menjadikan dirinya sosok penting padahal dulunya ikhlas; itu semua sebabnya karena hati tidak diberi porsi perhatian yang ideal dan iman tidak diperbarui individu, level qiyadah, dan gerakan dakwah itu sendiri. Semuanya bertanggung jawab dalam masalah ini.&lt;br /&gt;Saya tertarik dengan penafsiran seorang syaikh tentang firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (An-Nisa’: 136).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kajian, yang ia berikan kepada aktivis, saat didera cobaan, ia berkata, “Kok Al-Qur’an minta mereka beriman, padahal mereka sudah beriman? Bahkan, ayat berbunyi, ‘Hai orang-orang beriman, berimanlah.’ Apa makna iman yang dimintakan pada mereka?”&lt;br /&gt;Syaikh itu berkata lagi, “Ayat di atas minta mereka selalu memperbaharui iman, karena iman perlu diperbaharui secara rutin.”&lt;br /&gt;OOO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-1477117341164513626?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/1477117341164513626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=1477117341164513626&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1477117341164513626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1477117341164513626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/perbarui-iman-anda.html' title='PERBARUI IMAN ANDA'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-7213039852705379964</id><published>2008-04-07T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:27:16.815-07:00</updated><title type='text'>KEWAJIBAN BERBAKTI PADA ORANG TUA</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#003300;"&gt;Ada hakikat syar’i yang sudah diketahui seluruh ikhwah aktivis Islam tanpa kecuali, yaitu berbakti kepada kedua orang itu kewajiban agama paling penting dan durhaka kepada keduanya dosa besar. Mereka juga tahu wasiat yang disebutkan Al-Qur’an secara berulang-ulang dan mendorong mereka berbuat baik kepada kedua orang tua serta peringkat berbuat baik kepada kedua orang tua itu lebih tinggi dari peringkat perintah untul adil. Bahkan, Allah Ta’ala menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepada-Nya, di firman-Nya,&lt;br /&gt;“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala melarang seseorang berkata kepada salah seorang dari kedua orang tuanya, “Ah,” apalagi perkataan lebih dari itu.&lt;br /&gt;Faktanya, masih ada sebagian aktivis yang belum lama beriltizam dengan Islam tidak menunaikan kewajiban ini, berbakti kepada orang tua, dengan baik. Mereka bukan saja tidak berbuat baik kepada orang tuanya. Lebih dari itu, mereka tidak adil terhadap keduanya, bahkan durhaka kepada keduanya. Kadang, ada aktivis Islam yang berkata kasar kepada ayahnya, atau menginggikan suara di atas suara ayahnya, atau tidak taat kepadanya dalam hal-hal wajib dan mubah, atau mengumpat ibunya, atau membentak dan mencelanya.&lt;br /&gt;Khusus untuk mereka, saya katakan, sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua itu kewajiban agama, seperti halnya kewajiban berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad, dan shalat. Dan, durhaka kepada orang tua itu dosa besar dan tidak lebih kecil dosanya dari dosa zina, mencuri, dan dosa-dosa besar lainnya. Bisa jadi, durhaka kepada kedua orang tua lebih berat bobotnya daripada dosa-dosa besar. Akhi, kenapa Anda memilah-milah Islam? Anda terima sebagian ajarannya dan tolak sebagian lain? Padahal, Anda lantang mengecam orang-orang sekuler, dengan berkata keras kepada mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian lain?” (Al-Baqarah: 85).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Anda melarang sesuatu, lalu Anda sendiri mengerjakannya? Seorang penyair berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda jangan melarang salah satu akhlak, kemudian Anda mengerjakan kebalikannya Ini aib besar jika Anda lakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa Islam memuliakan orang tua, hingga pada taraf membolehkan Anda membatalkan shalat sunnah, untuk menjawab panggilan ibu atu ayah Anda. Itu terjadi jika salah sati dari keduanya memanggil Anda, tapi Anda sedang shalat sunnah.&lt;br /&gt;Anda harus ingat kisah Juraij,ahli ibadah Bani Israel, dengan ibunya, seperti dikisahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juraij orang ahli ibadah. Ia membangun biara dan menetap di sana. Pada suatu hari, ibunya datang ke biaranya, tapi ia sedang shalat. Ibunya berkata, ‘Juraij!’ Juraij berkata, ‘Tuhanku, ibuku memanggilku, tapi aku sedang shalat?’ Juraij memilih meneruskan shalatnya, lalu ibunya pulang. Besoknya, ibu Juraij datang lagi, tapi lagi-lagi Juraij sedang shalat. Ibunya memanggil, ‘Juraij!’ Juraij berkata, ‘Tuhanku, ibuku memanggilku, tapi aku sedang shalat?’ Juraij memilih meneruskan shalatnya, karena itu, ibunya memilih pulang. Esoknya, ibu Juraij datang lagi, tapi Juraij sedang shalat seperti dua hari sebelumnya. Ibu Juraij memanggil, ‘Juraij!’ Juraij berkata, ‘Tuhanku, ibuku memanggilku, tapi aku sedang shalat?’ Juraij lebih senang meneruskan shalatnya. Karena kesal, ibu Juraij berkata, ‘Ya Allah, jangan matikan Juraij, sebelum ia melihat wajah pelacur.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, orang-orang Bani Israel ngobrol membahas Juraij dan ibadahnya. Saat itu, ada wanita cantik sekali dan tidak ada tandingannya ketika itu. Wanita itu berkata, ‘Jika kalian mau, aku sanggup menggoda Juraij.’ Lalu, wanita itu menemui Juraij, tapi Juraij tidak bergeming untuk melihatnya. Setelah itu, wanita itu pergi menemui penggembala yang biasa tinggal di biara Juraij, lalu menggodanya. Penggembala itu pun menggauli si wanita, lalu si wanita hamil. Usai melahirkan anaknya, wanita itu berkata, ‘Ini anak Juraij.’ Orang-orang Bani Israel mendatangi Juraij, menyuruhnya turun, menghancurkan biaranya, dan memukuli Juraij. Juraij berkata, ‘Apa-apaan ini?’ Orang-orang Bani Israel menjawab, ‘Engkau telah berzina dengan wanita pelacur ini, hingga ia melahirkan anak.’ Juraij berkata, ‘Mana si jabang bayi?’ Orang-orang Bani Israel mendatangkan si bayi kepada Juraij, lalu Juraij berkata, ‘Izinkan aku shalat.’ Juraij pun mengerjakan shalat. Usai shalat, Juraij datang ke tempat bayi dan menekan perutnya, dengan berkata, ‘Nak, siapa sebenarnya ayahmu?’ Si bayi menjawab, ‘Penggembala itu.’ Orang-orang Bani Israel langsung menciumi Juraij dan berkata, ‘Kami akan membangun biara dari emas untukmu.’ Juraij berkata, ‘Tidak usah. Bangunlah biara dari tanah seperti sebelumnya.’ Mereka pun mengerjakan perintah Juraij.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juraij mengerjakan salah satu shalat sunnah dan menolak membatalkannya, untuk menjawab panggilan ibunya. Ia menduga meneruskan shalatnya itu lebih baik, daripada menjawab panggilan ibunya dan berbakti kepadanya. Hal itu dikerjakan Juraij, hingga tiga kali di hari yang berbeda. Pada ketiga kejadian itu, Juraij tidak menjawab panggilan ibunya. Karena itu, ibunya mendoakan keburukan untuknya. Allah Ta’ala mengabulkan doa ibunya, untuk mengajarinya pelajaran penting tentang urutan skala prioritas dalam agama Allah Ta’ala. Juga untuk mengajarinya bahwa berbakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada keduanya itu lebih baik dan mulia dalam timbangan seorang hamba di akhirat, daripada sekedar shalat sunnah. Karena urgensi besar ini yang perlu diketahui Juraij, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajarkannya kepada umat beliau, sebagai bentuk yang ungkapan kasih sayang beliau kepada mereka, agar mereka, terutama orang-orang shalih, penegak agama, dan orang-orang selevel dengan Juraij, tidak melakukan kesalahan yang dulu dikerjakan Juraij. Sebab, hukuman bagi mereka lebih berat dari orang-orang yang levelnya lebih rendah dari level mereka.&lt;br /&gt;Untuk ikhwah aktivis Islam yang tidak berbuat baik kepada orang tuanya juga saya katakan, ingatlah Uwais Al-Qarni, salah seorang generasi tabi’in yang pernah disabdakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama pasukan bantuan Yaman dari suku Murad dan Qarn. Tadinya, Uwais mengidap penyakit kusta, lalu Allah menyembuhkannya, kecuali kusta sebesar dirham. Ia punya ibu dan dan ia berbakti kepadanya. Jika ia bersumpah dengan nama Allah, maka Allah pasti mengabulkan sumpahnya. Jika engkau dapat minta dia memintakan ampunan untukmu, maka kerjakan.” (Diriwayatkan Muslim dan Abu Nu’aim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu selalu menanyakan kabar Uwais Al-Qarni setiapkali pasukan bantuan Yaman datang, hingga akhirnya bertemu dengannya. Ringkas cerita, Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada Uwais Al-Qarni, “Mintakan ampunan untukku.’ Uwais Al-Qarni pun memintakan ampunan untuk Umar bin Khaththab.&lt;br /&gt;Akhi, aktivis Islam, coba renungkan derajat tinggi yang diperoleh Uwais Al-Qarni dan betapa tingginya derajat itu! Demi Allah, jika saya menjelaskan ketinggian derajat itu di banyak halaman, maka itu tidak cukup. Cukuplah menjadi catatan kebanggan bagi Uwais Al-Qarni bahwa ia dipuji Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau mengisahkan kisahnya kepada salah seorang sahabat. Bahkan, beliau menyuruh Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, yang tidak diragukan pamornya, untuk meninta Uwais Al-Qrani memintakan ampunan baginya. Apakah Anda tidak tahu Umar bin Khaththab, kedudukannya di agama Allah Radhiyallahu Anhu dan sisi-Nya? Selain itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa andai Uwais Al-Qarni bersumpah dengan nama Allah Ta’ala, Dia mengabulkan sumpahnya. Lebih dari itu lagi, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh para sahabat untuk meminta Uwais Al-Qrani memintakan ampunan untuk mereka jika mereka bertemu dengannya. Di salah satu riwayat versi Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa di antara kalian bertemu dengan Uwais, hendaklah ia minta Uwais memintakan ampunan untuknya.” (Diriwayatkan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di riwayat lain disebutkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suruh dia memintakan ampunan untuk kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uwais Al-Qarni mendapatkan kedudukan dan tempat setinggi itu, karena ia berbakti kepada ibunya. Mahasuci Allah. Bagaimana seandainya ayah Uwais Al-Qrani masih hidup, lalu Uwais Al-Qarni berbakti kepada keduanya? Ini tentu pelajaran berharga bagi siapa saja yang masih punya hati, telinga, dan mata.&lt;br /&gt;Saya serukan kepada seluruh ikhwah aktivis Islam bahwa orang-orang yang paling berhak menerima dakwah kalian ialah orang tua, keluarga, dan sanak kerabat kalian. Apakah kalian tidak membaca firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara: 214).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, apakah Anda ingin masuk surga, sementara salah satu dari orang tua Anda masuk neraka? Apakah Anda mau disiksa pada Hari Kiamat, karena tidak mendakwahi orang tua, keluarga, dan sanak keluarga Anda, kepada kebenaran, petunjuk, dan cahaya Islam?&lt;br /&gt;Saya juga menyerukan setiap aktivis Islam untuk bersikap lembut kepada seluruh manusia, lebih khusus kepada orang tua, keluarga dan sanak kerabatnya. Jika Anda melihat salah satu seorang dari orang tua Anda melakukan salah satu kemaksiatan, hendaklah Anda bersikap lembut saat mendakwahinya. Ingatlah, jika Anda melihayt kemungkaran pada orang tua Anda, maka menurut neraca syar’i, Anda hanya diperbolehkan menggunakan pilihan pertama dari tiga pilihan dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Yaitu merubah kemungkaran tersebut dengan perkataan dan itu pun dilakukan dengan lembut dan tidak kasar. Anda hanya diperbolehkan tidak menaati keduanya dalam kemaksiatan. Sedang tidak menaati keduanya sepanjang hidup, hanya karena keduanya tidak mengerjakan salah satu kewajiban agama, maka itu tidak diperbolehkan. Anda harus taat kepada kedua orang tua Anda dalam perkara mubah, sunnah, atau wajib, kendati misalnya keduanya pelaku maksiat atau kafir sekalipun. Anda harus berinteraksi dengan baik kepada keduanya, mengabdi, dan berinfak kepada keduanya jika mampu.&lt;br /&gt;Anda jangan membuat kedua orang tua Anda merasa Anda remehkan atau Anda membuat keduanya merasa sebagai barang buangan di rumah, sedang Anda “raja” tunggal di dalamnya. Lalu, Anda memukul saudara-saudari Anda, karena sebab tertentu atau tanpa sebab, serta sombong kepada mereka, dengan dalih Anda ingin merubah kemungkaran di rumah!&lt;br /&gt;Kadang, sikap Anda seperti itu malah menjadi kemungkaran yang lebih besar, daripada kemungkaran yang masih diperdebatkan ulama. Andai Anda mendakwahi mereka dengan benar dan berdasarkan hati nurani, serta Anda mengajarkan agama kepada mereka, maka urusannya menjadi lancar seperti Anda inginkan atau lebih lancar dari prediksi Anda sebelumnya. Kadang, Anda menemukan, ternyata ada salah satu keluarga Anda yang jauh lebih baik dan lebih dekat kepada Allah Ta’ala daripada Anda.&lt;br /&gt;Menurut pengalaman panjang di kehidupan, saya dapati orang-orang yang durhaka kepada kedua orang tua itu tidak bertahan lama di atas kebenaran dan hanya “melangkah” beberapa langkah di salah satu gerakan dakwah. Tidak lama setelah itu, ia tergoda oleh dunia dan berjalan terlalu jauh dari dunia dakwah. Barangkali, penyebabnya, wallahu a’lam, bahwa siapa tidak punya kebaikan pada kedua orang tuanya, yang menjadi penyebab keberadaannya di dunia, maka ia tidak punya kebaikan di Islam dan gerakan dakwah. Dai dan level qiyadah di gerakan dakwah harus bertanya kepada kader-kader di bawah mereka tentang hubungan mereka dengan orang tua dan keluarga mereka, serta enjoy mengamalkan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra’: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, jika kemaksiatan seperti maksiat durhaka kepada orang tua itu tersebar luas maka meruntuhkan gerakan dakwah secara keseluruhan, menjadi pemicu Allah Ta’ala marah kepada mereka, dan turunnya kemurkaan-Nya. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari itu semua.&lt;br /&gt;Alhamdulillah, dalam kehidupan sehari-hari, kita perhatikan adanya hubungan akrab dan harmonis antara ikhwah aktivis Islam dan usrah (grup) mereka masing-masing. Setiap aktivis mencintai dan menghormati saudaranya sesama aktivis. Kita juga lihat sebagian besar usrah aktivis bisa beriltizam dengan Islam dan ajaran-ajarannya, dalam tempo waktu satu atau dua tahun. Bahkan, kira perhatikan di antara anggota usrah itu ada aktivis yang lebih kuat iltizam dan komitmennya dari aktivis lainnya. Ini kelebihan yang diberikan Allah Ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya.&lt;br /&gt;Ingatlah, bukan saja aktivis Islam yang sanggup tegar di atas kebenaran. Di sini, saya ingin bersaksi dengan jujur bahwa ayah, ibu, dan istri aktivis Islam itu juga menanggung beban penderitaan di jalan Allah Ta'ala selama bertahun-tahun. Mereka menjadi teladan kesabaran, ketegaran, di atas kebenaran, danberdiri setiap hari selama berjam-jam di bawah terik sinar matahari yang membakar di musim panas dan terkena hujan di musim hujan. Mereka merasakan penderitaan dan kesulitan yang lebih berat dari yang dialami aktivis Islam. Mereka menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun dan sabar berpisah dengan anak-anak dan suami mereka. Mereka rela tidak makan enak, untuk mereka berikan kepada anak-anak mereka. Kadang, sebagian dari mereka tidur dalam keadaan lapar. Mereka sabar dan mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dalam menjalani itu semua. Orang tua dan istri aktivis melakukan jihad agung, yang tidak kalah –atau malah lebih besar-dengan jihad anak-anak dan suami-suami mereka. Keteguhan dan kesabaran para orang tua dan istri aktivis berpengaruh kuat pada ketegaran anak-anak dan suami mereka di atas kebenaran dan menanggung penderitaan di jalan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;OOO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-7213039852705379964?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/7213039852705379964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=7213039852705379964&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/7213039852705379964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/7213039852705379964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/kewajiban-berbakti-pada-orang-tua.html' title='KEWAJIBAN BERBAKTI PADA ORANG TUA'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-3201769305576960216</id><published>2008-04-07T20:36:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:18:57.765-07:00</updated><title type='text'>BENTUK-BENTUK PENYESALAN PADA HARI KIAMAT</title><content type='html'>&lt;span style="color:#663300;"&gt;Dua Nikmat Berharga&lt;br /&gt;Al-Bukhari meriwayatkan di Shahih-nya sabda Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua nikmat, di mana banyak orang mengalami kerugiaan karena keduanya. Yaitu kesehatan dan waktu luang.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu baththal berkata, “Makna hadits di atas ialah orang punya waktu luang jika ia berbadan sehat. Jika seseorang punya waktu luang dan badan sehat, hendaklah oa berusaha sebisa mungkin tidak rugi, dalam bentuk tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya. Di antara bentuk syukur yang harus ia lakukan oalah mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Barangsiapa tidak mengerjakan hal ini, ia orang rugi.”&lt;br /&gt;Ibnu Al-Jauzi berkata, “Adakalahnya orang itu sehat, tapi tidak punya waktu luang, sebab sibuk kerja. Juga adakalahnya seseorang punya waktu luang, tapi tidak sehat. Jika seseorang punya waktu luang dan berbadan sehat, tapi malas melakukan ketaatan kepada Allah, ia orang rugi. Dunia itu ladang akhirat dan di dalamnya terdapat bisnis yang keuntungannya terlihat di akhirat. Barangsiapa menggunakan kesehatan dan waktu luangnya, ia orang yang patut ditiru. Dan, barangsiapa menggunakan keduanya dalam maksiat kepada Allah, ia orang rugi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Penyesalan Pertama: Kiamat Kecil&lt;br /&gt;Kiamat kecil yang dialami manusia ialah kematian. Seseorang mulai menyesal ketika detik-detik akhir usianya dan menyakini nyawanya tidak lama lagi keluar dari tubuhnya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dia yakin sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia). Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Kepada Tuhanmula pada hari itu kamu dihalau.” (Al-Qiyamah: 28-29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, ia ingat ribuan jam yang tidak ia gunakan untuk taat kepada Allah Ta’ala dan ia berharap dikembalikan ke dunia untuk beramal shalih. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata, ‘Tuhanku, kembalikan aku (Ke dunia), agar aku berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan’.” (Al-Mukminun: 99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah impian pertama seseorang. Ia berharap diberi kesempatan kembali ke dunia untuk beramal shalih. Ia lupa dirinya sekarang bicara dengan Dzat Yang Mengetahui seluruh hal ghaib, mata yang berkhianat, dan apa yang dirahasiakan hati. Allah Ta’ala sudah tahu kebohongannya. Andai ia dikembalikan ke dunia, ia pasti bermaksiat lagi dan malas mengerjakan kebaikan. Karena itu, permintaannya dijawab dengan jawaban tegas yang memupus seluruh harapan dan pertanyaan tipuan yang digunakan untuk lari dari siksa kubur. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu perkataan yang diucapkan saja dan di depan mereka ada dinding sampai hati mereka dibangkitkan.” (Al-Mukminun: 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Penyesalan Kedua: Gigit Tangan&lt;br /&gt;Penyesalan sepeti ini terjadi ketika seseorang akhirat melihat sahabat karibnya menyelamatkan dirinya dan tidak berdaya membelanya di sisi Allah Ta’ala. Saat-saat kongkow-kongkow, canda tawa, begadang, pesta pora di meja judi dan minuman keras; itu semuanya tidak dapat menyelamatkannya dari kondisi yang ia hadapi sekarang. Ia lihat penghuni neraka yang paling ringan siksanya ialah orang yang dua batu diletakkan di atas tapak kakinya, lalu otaknya mendidih. Di riwayatkan lain disebutkan, penghuni neraka tersebut punya dua sandal dan dua tali sandal dari neraka, lalu otak mendidih, seperti periuk mendidih. Penghuni neraka itu mengira tidak ada orang yang lebih berat siksanya daripada dirinya. Padahal, ia penghuni neraka yang paling ringan siksanya. (Diriwayatkan Al-Bukhari).&lt;br /&gt;Saat itulah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang dzalim mengigit dua tangannya sambil berkata, ‘Kecelakaan besar bagiku. Kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan teman akrab. Sesungguhnya ia telah menyesatkanku dari Al Qur’an ketika Al-Qur’an datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Kahfi: 49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lupa atau pura-pura lupa kalau ia diikuti dua malaikat yang mencatat kemaksiatan dan kebaikan seberat atom pun. Ia menyesal dan berharap tidak diberi buku catatan amal perbuatannya dan tidak tahu hari perhitungan. Ia berharap mati saja daripada melihat siksa yang sudah menanti. Ia pun ingat, ternyata harta, jabatan, dan kekuasaan, yang ia kira bermanfaat baginya di akhirat hingga membuat buta tidak melihat kebenaran, pembela-pembelanya, hanyut dalam kesesatan dan kemaksiatan itu sama sekali tidak berguna baginya sekarang, ia tahu betul yang bisa menyelamatkannya pada saat-saat seperti ini hanyalah amal shalih dan rahmat Allaah Ta’ala. Allah mengisahkan kisah orang seperti itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, ia berkata, ‘Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini). Dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Kekuasaanku telah hilang dariku’.” (Al-Haqqah: 25-29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ia berharap menjadi tanah yang diinjak kaki dan tidak disiksa dengan siksa dengan siksa akhirat. Ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah baiknya sekiranya aku dulu tanah.” (An-Naba’: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia, ia dulu ingin hidup selama mungkin. Sekarang, di akhirat, kita lihat dia ingin mati saja.&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk penyesalan hari itu beragam. Setiap kali pelaku maksiat melihat salah satu bentuk siksa, ia ingat waktu yang dulu ia sia-siakan, tidak menggunakannya untuk taat kepada Allah Ta’ala, dan merealisir tujuan penciptaan dirinya, yaitu beribadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Penyesalan Keempat: Ketika Neraka Didatangkan&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu Alihis wa Sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika itu, neraka, yang punya tujuh puluh ribu penahan, didatangkan. Di setiap penahan ada tujuh puluh ribu malaikat yang menariknya.” (Diriwayatkan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pelaku maksiat melihat neraka sebesar seperti itu, ditarik 4.900.000.000 malaikat, lidah besar menjulur panjang, leher yang punya mata, seperti disebutkan di hadits, yang diriwayatkan At-Tirmidzi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari Kiamat, leher keluar dari neraka. Leher itu punya dua mata yang bisa melihat, dua telinga yang dapat mendengar, dan lidah yang mampu bicara. Lidah leher itu berkata, ‘Aku mewakili tiga jenis manusia: orang yang menjadikan Tuhan selain Allah, orang sombong sekaligus bandel, dan para penggambar’.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dengar kemarahan dan hembusan nafas neraka saat berteriak dengan teriakan menakutkan, “Apakah masih ada tambahan orang untukku? Apakah masih ada tambahan orang untukku?” ketika itulah, pelaku maksiat ingat saat-saat maksiat, malas, menunda amal shalih, menipu Allah Ta’ala dengan taubat palsunya, dan waktu-waktu lain yang hilang sia-sia. Tapi, nostalgia semuanya itu tidak ada gunanya. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, tidak berguna lagi mengingat itu baginya.” (Al-Fajr: 23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berkata dengan penuh sesal,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alangkah baik kiranya aku dulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Quthb Rahimahullah berkata, “Kesempatan telah berlalu. Allah Ta’ala berfirman, ‘Tapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.’ Peringatan sudah berlalu dan tidak berguna lagi di sini, akhirat, bagi siapa pun. Ucapan orang kafir itu refleksi kesedihan atas hilangnya kesempatan di negeri amal, dunia. Ketika fakta ini terlihat, ‘Dia mengatakan, ‘Alangkah baik kiranya aku dulu mengerjakan )amal shalih) untuk hidupku ini.’ Terlihat ada kesedihan mendalam di balik harapan dan itulah kondisi paling menyakitkan yang dirasakan seseorang di akhirat.”&lt;br /&gt;Itulah bentuk penyesalan paling mengenaskan yang dialami manusia dan mereka tidak punya harapan untuk bisa memperbaiki kesalahan yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Penyesalan kelima: Ketika Berdiri di Neraka&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman’.” (Al-An’am: 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala mengungkap kondisi orang-orang kafir saat mereka berdiri di neraka pada Hari Kiamat, menyaksikan belenggu dan rantai di dalamnya, serta melihat dengan mata kepala mereka sendiri hal-hal dahsyat. Saat itulah, mereka berkata, ‘Duhai, betapa celakanya kita’.”&lt;br /&gt;Sungguh aneh, orang-orang kafir berkata saat berharap, “Dan kami menjadi orng-orang beriman.” Padahal, mereka dulu memerangi para dai kejalan Allah Ta’ala, kalimat tauhid, dan melecehkan siapa saja mengajak kepadanya. Kenapa kini, di akhirat, mereka berharap ingin menjadi orang-orang beriman? Kenapa itu baru terlontar sekarang dan tidak di dunia dulu? Itulah kemunafikan yang tetap menempel pada mereka, kendati mereka berdiri didepan neraka menyaksikan kedasyatannya. Mereka kira jiwa mereka tidak diketahui Allah a’ala dan dapat ngerjain Dia. Karena itu, mereka membuat trik dengan berbohong dan seluruh argumentasi kuat, agar selamat daru suksa yang pasti ini. Ini sungguh aneh penyesalan yang serat dengan penipuan atau penipuan yang penuh dengan penyesalan. Kedua hal itu menjijikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Penyesalan Keenam: Setelah Dilempar ke Neraka&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ketika muka mereka ditolak-balik dineraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andai kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu meraka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpahkan kami kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan besar.” (Al-Ahzab: 66-68)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, “Maksudnya, mereka diseret ke neraka dengan kepala terbalik dan wajah mereka dibola-balik di Neraka Jahanam. Mereka berharap andai mereka dikembalikan kedunia, mereka akan bersama orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul.”&lt;br /&gt;Sekarang mereka baru tahu, ternyata jalan yang dulu merekah tempuh itu jalan salah, sebab mereka mengikuti para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka, yang berjalan di jalan setan. Sekarang, mereka berani mengutuk pemimpin-pemimpin mereka dan bicara kepada mereka dengan bahasa lantang, setelah sebelumnya di dunia mereka hidup sebagai pengecut, hina, tidak berani mengatakan kebenaran, dan tidak punya nyali menolak kemungkaran. Setelah mereka dilempar ke neraka dan merasakan siksanya, perasaan mereka yang tadinya membeku itu hidup kembali dan mereka menyesal kenapa tidak mengikuti jalan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Tapi, waktu itu sudah tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-3201769305576960216?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/3201769305576960216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=3201769305576960216&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3201769305576960216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3201769305576960216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/bentuk-bentuk-pada-hari-kiamat.html' title='BENTUK-BENTUK PENYESALAN PADA HARI KIAMAT'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-3952166952189823987</id><published>2008-04-07T20:31:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:16:55.952-07:00</updated><title type='text'>AKTIFIS ISLAM</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;AKTIVIS ISLAM ITU BUKAN AKTIVIS TEMPORER&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, aktivis Islam, aktivitas Islam itu bukan aktivis yang bisa Anda kerjakan di sebagian waktu, lalu boleh Anda tinggalkan pada waktu lain. Sama sekali tidak. Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalam Islam ini lebih dari itu. Islam bukan sembarang aktivis, seperti misalnya aktivitas budaya, atau olahraga, atau kepanduan, yang biasa Anda geluti saat kuliah, lalu Anda tinggalkan setelah lulus. Atau aktivitas yang Anda jalani ketika Anda membujang, lalu Anda tinggalkan setelah menikah. Atau aktivis yang Anda beri waktu sebelum Anda menduduki jabatan tertentu, lalu Anda tinggalkan jika Anda punya jabatan tertentu, atau sukses membuka klinik, atau apotek, atau kantor konsultan, atau sibuk studi S1 atau S2. Tidak. Aktivitas Islam sama sekali tidak seperti itu.&lt;br /&gt;Aktivitas Islam dan masuknya Anda ke dalamnya adalah penyembahan Anda kepada Allah Ta’ala. Dan, orang Muslim tidak berhenti dari aktivitas Islam, karena merupakan tuntutan penyembahannya kepada Allah Ta’ala, hingga detik akhir kehidupannya. Akhi, apakah Anda tidak membaca firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini.” (Al-Hijr: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, sembahlah Allah Ta’ala hingga kematian datang kepadamu. Al-Qur’an tidak mengatakan, “Sembahlah Allah hingga Anda lulus dari universitas, atau hingga Anda punya jabatan tertentu, atau hingga Anda menikah, atau hingga Anda sukses membuka klinik, atau kantor konsultan.”&lt;br /&gt;Generasi salafush shalih memahami dengan baik ayat di atas. Kita lihat Ammar bin Yasir Radhiyallahu Anhu masih ikut berperang di jalan Allah Ta’ala, saat berusia sembilan puluh tahun. Saya katakan berperang, bukan sekedar berdakwah, atau mengajar, atau mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar. Di samping mengerjakan aktivitas itu semua, Ammar bin Yasir berperang di jalan Allah Ta’ala, saat ia berada di usia, di mana tulang-tulang sudah lemah, tubuh loyo, rambut beruban, dan kekuatan menurun.&lt;br /&gt;Abu Sufyan bin Harb Radhiyallahu Anhu memotivasi tentara untuk berperang, padahal si berusia tujuh puluh tahun. Begitu juga Al-Yaman dan Tsabit bin Waqsy. Keduanya berperang di Perang Uhud, kendati berusia lanjut dan diberi dispensi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau menempatkan keduanya di barisan belakang bersama kaum wanita. Kenapa kita pergi terlalu jauh? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakoni tujuh puluh empat tahun. Bahkan, beliau berumur enam puluh tahun saat hadir di Perang Tabuk, yang merupakan perang paling sulit bagi kaum Muslimin, dan memimpin kaum Muslimin di dalamnya.&lt;br /&gt;Kenapa sekarang kita lihat banyak aktivis Islam tidak lagi menjadi aktivis Islam setelah lulus kuliah, atau menikah, atau sibuk bisnis, atau punya jabatan?&lt;br /&gt;Mereka harus tahu bahwa permasalahan agama tidak main-main dan bisa disepelekan seperti itu. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kalian menganggapnya ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah itu besar.” (An-Nuur: 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana baiat (ikrar), yang dulu Anda berikan di depan Allah Ta’ala, bukan hanya di depan manusia? Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan perjanjian dengan Allah itu diminta pertanggung jawabnya.” (Al-Ahzab:15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana slogan, yang dulu sering Anda gembor-gemborkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami bangkit di jalan Allah&lt;br /&gt;Kami ingin meninggikan panji&lt;br /&gt;Kami beramal bukan untuk partai&lt;br /&gt;Tapi, kami siap menjadi tumbal bagi agama ini&lt;br /&gt;Silakan kejayaan agama muncul kembali lagi&lt;br /&gt;Atau darah kami tumpah karenanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat melanggar janji itu amat berat. Terutama, bagi orang yang tadinya tahu kebenaran, lalu berpaling darinya dan orang yang telah merasakan manisnya iman lalu terjerumus ke dalam kebatilan. Melanggar janji dengan Allah Ta’ala itu dosa paling besar kepada-Nya dan kaum Mukminin. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka barangsiapa melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu menimpa dirinya sendiri.” (Al-Fath: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang dirayu jiwanya yang menyuruh kepada keburukan dan digoda setan untuk ingkar janji harus merenungkan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara mereka ada orang yang berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, kami pasti bersedekah dan kami pasti termasuk orang-orang shalih.’ Maka setelah Allah memberi mereka sebagian karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). “ (At-Taubah: 75-76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga harus merenungkan dengan baik hukuman adil, seperti disebutkan di ayat berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka Allah menimbulkan kemunafikan di hati mereka sampai waktu mereka menemui Allah, karena mereka memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.” (At-Taubah: 77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas Islam itu agenda utama. Tragisnya, sebagian orang berhati sakit yang bergabung dengan ikhwah aktivis Islam di aktivitas Islam, di kampus, itu memandang aktivis Islam seperti proyek bisnis. Karenanya, proyek bisnis tersebut berakhir secara otomatis, bersamaan dengan selesainya waktu kuliah. Atau aktivitas Islam dianggap sebatas persahabatan di kampus, lalu bubar dengan berakhirnya masa studi.&lt;br /&gt;Orang-orang seperti itu saya katakan orang-orang berhati sakit. Sebab, biasanya, penyakit muncul dari orang yang imannya lemah, hatinya sakit, tekadnya pas-pasan, dan makna iman tidak menancap kuat di hati. Umumnya, aib itu ada di hati, bukan di akal. Aib terjadi sebab iman tidak beres, bukan karena minimnya ilmu. Juga karena pengaruh syahwat, bukan karena ketidakjelaskan. Juga karena cinta dunia, bukan karena minimnya kesadaran. Siapa ingin melakukan terapi, ia harus pergi kepada orang-orang yang berhati bersih, guna menghilangkan kotorannya dan mengobati penyakitnya. Sayangnya, dokter itu tidak banyak pada zaman sekarang. Yang saya maksud dengan dokter di sini ialah dokter hati. Sedang dokter tubuh, maka segudang.&lt;br /&gt;Sungguh, orang yang keluar dari kebenaran setelah mengetahuinya itu lebih mementingkan kesenangan sesaat dengan mengorbankan kesedihan sepanjang tahun, menceburkan diri ke sumur maksiat, dan berpaling dari tujuan besar menuju tujuan picisan. Akibatnya, ia hidup di penjara setan, terombang-ambing di lembah kebingungan, dan terbelenggu di penjara hawa nafsu. Seorang penyair berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ia menjadi seperti burung elang yang bulunya tercabut Ia merasa rugi setiap melihat burung lain terbang.”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-3952166952189823987?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/3952166952189823987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=3952166952189823987&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3952166952189823987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/3952166952189823987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/aktifis-islam.html' title='AKTIFIS ISLAM'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-7248170308782885609</id><published>2008-04-07T20:15:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T20:29:49.240-07:00</updated><title type='text'>FIGUR-FIGUR YANG BEROBSESI KEPADA AKHIRAT</title><content type='html'>&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Figur-Figur dari Generasi Sahabat&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;Generasi sahabat generasi istimewa dan tidak ada generasi sesudahnya yang selevel dengan mereka. Para sahabat menyatu dengan akhirat, hingga seperti sedang, hidup di dalamnya dan obsesi kepadanya begitu menguasai diri mereka. Seorang dari mereka minta izin kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengebiri dirinya, agar bisa beribadah dengan lebih serius. Tapi, Rasulullahu Shallallahu Alahi wa Sallam melarang tindakan seperti itu, sebab bertentangan dengan petunjuk beliau dan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Islam pada manusia. Jika seorang dari mereka berceramah usai shalat-shalat wajib, ia mendorong mereka cinta akhirat, lalu mereka merasa dekat dengannya. Jika mereka mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bercerita kepada mereka tentang surga dan kenikmatannya, maka salah seorang dari mereka rindu mati syahid saat itu juga, agar dapat segera merasakan kenikmatan-kenikmatan surga. Contoh-contoh dari mereka sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;1. Umair bin Al-Hammam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Umair bin Al-Hammam mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihis wa Sallam memberi iming-iming surga kepada para sahabat di Perang Badar, lalu ia membuang beberapa biji kurma dari kedua tangannya sambil berkata, “Ah, aku bisa masuk surga jika dibunuh orang-orang kafir itu.”&lt;br /&gt;Usai berkata seperti itu, Umair bin Al-Hammam bertempur, hingga gugur sebagai syahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;2. Anas bin An-Nadhr&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anas bin An-Nadhr menyatu dengan Akhirat, hingga merasa mencium aroma surga. Ia berkata kepada Anas bin Muadz saat bertemu dengannya di Perang Uhud, “Hai Sa’ad, demi Tuhannya Anas, aku mencium aroma surga dari balik Gunung Uhud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;3. Ja’far Abu Thalib&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang saksi mata dari Bani Murrah bin Auf, yang ikut bertempur di Perang Mu’tah menuturkan, “Demi Allah, aku lihat Ja’far bin Abu Thalib turun dari kudanya berwarna blonde, lalu menyembelihnya. Setelah itu, ia bertempur melawan musuh, hingga gugur sebagai syahid. Sebelum syahid, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sungguh dekat surga itu&lt;br /&gt;Indah dan airnya dingin&lt;br /&gt;Sungguh, siksa bagi orang-orang Romawi kian dekat&lt;br /&gt;Mereka kafir dan nasab mereka tidak jelas’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;4. Abdullah bin Mas’ud&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seperti para sahabat lainnya, Abdullah bin Masud Radhiyallahu Anhu mengaitkan apa yang ia lihat dengan akhirat. Diriwayatkan, ia berjalan melewati orang-orang yang sedang meniup alat peniup angin, lalu ia tidak sadarkan diri.&lt;br /&gt;Dikisahkan lainnya, Abdullah bin Mas’ud berjalan melewati pandai besi dan melihat satu batang besi yang menganga, lalu ia menangis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;5. Hammamah bin Abu Hammamah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, Hammama bin Abu Hammamah menginap pada suatu malam di rumah seorang tabi’in, Haram bin Hayyan Al-Abdi. Hammamah bin Abu Hammamah dilihat Haram bin Hayyam Al-Abdi menangis semalam suntuk. Haram bin Hayyam Al-Abdi berkata kepada Hammamah bin Abu Hammamah, “Kenapa engkau menangis?&lt;br /&gt;Hammamah bin Abu Hammamah menjawab, “Aku ingat suatu malam, di mana kubur menjadi berserahkan pada pagi harinya.”&lt;br /&gt;Pada malam kedua, Hammamah bin Abu Hammamah menginap lagi di rumah Haram bin Hayyam Al-Abdi dan menangis semalam suntuk. Haram bin Hayyam Al-Abdi berkata kepada Hammamah bin Abu Hammamah, “Kenapa menangis?”&lt;br /&gt;Hammamah bin Abu Hammamah menjawab, “Aku ingat suatu malam, di mana bintang-bintang berguguran pada esok paginya.”&lt;br /&gt;Bentuk lain keterikatan Hammamah bin Abu Hammamah dengan akhirat ialah ia berkata menyerbu Ashfahan pada zaman Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, “Ya Allah, Hammamah mengaku ingin segera bertemu dengan-Mu. Ya Allah, jika ia benar seperti itu, kuatkan keinginan karena kejujurannya. Jika bohong, buat dia berkeinginan seperti itu, kendati ia sebenarnya tidak menghendakinya. Ya Allah, jangan pulangkan Hammamah dari perjalannya.” Ia meninggal dunia di Ashfahan.&lt;br /&gt;Dikisahkan, Hammamah bin Abu Hammamah dan rekan sejawatnya, Haram bin Hayyam, bertemu pada suatu siang, lalu keduanya pergi ke pasar parfum dan berdoa minta surga kepada Allah. Lalu, keduanya pergi ke tukang besi dan minta perlindungan dari neraka. Setelah itu, keduanya pulang ke rumahnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ffff00;"&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;Generasi Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Itulah sebagian figur generasi sahabat yang saya tulis, demi menghormati mereka. Setelah mereka, datanglah generasi tabi’in dengan generasi tabi’ tabi’in, yang memberi contoh figur-figur hebat bagi umat ini, setelah para sahabat. Di antara mereka adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330099;"&gt;1. Al-Hasan Al-Bashri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri murid generasi sahabat dan seluruh hidupnya menyatu dengan akhirat. Shalih bin Hassan berkata, “Suatu ketika, Al-Hasan Al-Bashri berpuasa, lalu kami datang kepadanya dengan membawa makanan saat maghrib tiba.” Ketika Shalih bin Hassan berada di dekat Al-Hasan Al-Bashri, Shalih bin Hassan berkata, “Aku bacakan ayat ini kepada Al-Hasan Al-Bashri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya pada kami ada belenggu-belenggu berat dan neraka menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat dari kerongkongan dan adzab pedih.’ (Al-Muzammil: 12-13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri tidak menjamah makanan yang dibawah untuknya. Ia berkata, ‘bawa ke sana makanan ini.’ Kami pun mengambil makanan itu. ia meneruskan puasanya sampai esok paginya. Ketika ia ingin berbuka puasa, ia ingat ayat tadi, lalu berbuat seperti kemarin.&lt;br /&gt;Pada hari ketiga, anaknya pergi kepada Tsabit Al-Bunani, Yahya Al-Buka’, dan beberapa rekan Al-Hasan Al-Bashri, lalu berkata, ‘Tolong temui ayahku, sebab ia tidak makan makanan sedikit pun sejak tiga hari yang lalu. Setiapkali aku menghidangkan makanan untuk buka puasa, ia ingat ayat ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sesungguhnya pada kami ada belenggu-belenggu berat dan neraka menyala-nyala. Dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab pedih.’ (Al-Muzammil: 12-13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, teman-teman Al-Hasan Al-Bashri datang menemui Al-Hasan Al-Bashri dan lama berada di tempatnya, hingga akhirnya menyuapinya dengan seteguk tepung.”&lt;br /&gt;Al-Hasan Al-Bashri sengaja tidak makan bukan karena sok zuhud, namun karena kuatnya obsesi kepada akhirat yang ia miliki. Ingat kedahsyatan akhirat membuatnya tidak punya selera makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;2. Sufyan Ats-Tsauri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang Sufyan Ats-Tsauri, Imam Adz-Dzahabi berkata, “Ia syaikhul Islam. Imam para hafidz, dan tokoh ulama aktivis pada zamannya.”&lt;br /&gt;Ia berbicara seperti pernah melihat langsung karena begitu kuat lengketnya dengan akhirat dan dominasi obsesi kepada akhirat pada dirinya.&lt;br /&gt;Ibnu Mahdi berkata, “Jika kami berdiri berada dekat Sufyan Ats-Tsauri, ia seperti berdiri untuk menghadapi hari hisab.”&lt;br /&gt;Salah seorang pengikutnya, orang zuhud Yusuf bin Asbath, berkata tentang kelengketan Sufyan Ats-Tsauri dengan akhirat, “Setelah shalat Isya’, Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadaku, “Tolong ambilkan baskom untukku.” Lalu, ia mengambiolnya dengan tangan kananya dan meletakkan tangan kirinya di atas pipinya. Setelah itu, aku tidur dan baru bangun ketika fajar terbit. Aku lihat baskom masih ada di tangan Sufyan Ats-Tsauri dan tangan kirinya di atas pipinya. Aku berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, fajar telah terbit.’ Ia berkata, ‘Sejak menerima baskom tadi aku memikirkan akhirat hingga detik ini.”&lt;br /&gt;Para pengikutnya tidak hanya belajar hadits padanya. Mereka juga menirunya di semua hal kecil hidupnya siang malam, karena tahu Sufyan Ats-Tsauri tidak suka amal perbuatannya dipublikasikan. Terutama aktivitas malamnya saat ia bermunajat kepada Allah Ta’ala. Salah seorang muridnya pura-pura tidur untuk mengenalinya lebih dekat, agar bisa menceritakan apa yang ia lihat pada Sufyan Ats-Tsauri kepada orang-orang yang ingin memegang panji ini dan berjalan di atas jalan orang-orang yang gberobsesi kepada akhirat. Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Aku tidak pernah bergaul dengan orang yang lebih perasa dari Sufyan Ats-Tsauri. Aku pantau dia dari satu malam ke malam lain. Ternyata, ia hanya tidur di permulaan malam, lalu bangun dalam keadaan cemas dan gemetar, sambil berkata, ‘Neraka, neraka. Ingat neraka membuatku tidak bisa tidur dan lupa syahwat.’ Setelah itu, ia berwudhu dan berdo’a, ‘Ya Allah, Engkau tahu segala kebutuhanku dan aku hanya memintamu membebaskanku dari neraka. Tuhanku, kecemasan nikimat yang Engkau berikan kepadaku. Tuhanku, andai aku punya alasan kuat untuk mengisolir dari diri manusia, aku tidak bergaul dengan mereka sekejap mata pun.’ Setelah itu, ia shalat dan menangis, hingga tidak bisa membaca Al-Qur’an dan aku tidak dapat mendengar bacaannya, karena tangisnya menjadi-jadi. Aku tidak sanggup melihatnya, karena malu dan segan kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;3. Manshur bin Zadzan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Hajar, Manshur bin Zadzan orang terpercaya, tegar, dan ahli ibadah. Seorang syaikh dari wasith bernama Abu Said, tetangga Manshur bin Zadzan, berkata, “Pada suatu hari, aku lihat Manshur bin Zadzan wudhu. Usai wudhu, kedua matanya mengucurkan air mata. Ia menangis terus, hingga suaranya semakin keras. Aku berkata kepadanya, ‘Ada apa denganmu, semoga Allah merahmatimu?’ Manshur bin Zadzan berkata, ‘Adakah sesuatu yang lebih besar dari urusanku? Aku ingin berdiri di depan Dzat yang tidak tidur dan mengantuk. Tapi, aku khawatir Dia Memalingkan muka dariku.’ Demi Allah, aku menangis karena perkataannya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;4. Rabi’ah Asy-Syamiyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan Rabi’ah al-Adawiyah, wanita ahli ibadah yang tersohor itu, dan lebih “kecil” darinya. Ia istri orang ahli ibadah dan orang zuhud, Ahmad bin Abu Al-Hawari. Tentang Ahmad bib Abu Hawari, Yahya bin Muin berkata, “Aku pikir orang-orang Syam diberi hujan oleh Allah sebab orang seperti Ahmad bin Abu Hawari.”&lt;br /&gt;Wanita ahli ibadah dan lengket dengan akhirat ini, Rabi’ah Asy-Syamiyah, berkata, “Setiapkali mendengar adzan, aku ingat penyeru Hari Kiamat. Setiapkali melihat salju, aku lihat buku-buku catatan amal perbuatan berterbangan. Dan, setiapkali melihat belalang, aku ingat hari pengumpulan manusia di Padang Mahsyar.”&lt;br /&gt;Begitulah, generasi sahabat terangkai dengan generasi tabi’in dan tabi’ tabi’in, untuk membentuk sebuah “serial” yang tidak henti-hentinya menyuplai figur-figur yang berobsesi kepada akhirat, hingga akhirat tetap menyala di hati kaum Mukmin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-7248170308782885609?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/7248170308782885609/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=7248170308782885609&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/7248170308782885609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/7248170308782885609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/figur-figur-sahabat-rosulullah-yang.html' title='FIGUR-FIGUR YANG BEROBSESI KEPADA AKHIRAT'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-1222104254410255936</id><published>2008-04-07T19:55:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T20:07:51.675-07:00</updated><title type='text'>BREAKING THE TIME</title><content type='html'>Breaking The Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia normal, kita pasti berharap hidup sukses. Tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin hidupnya gagal. Namun bagai pepatah yang mengatakan “tak ada kesuksesan tanpa usaha”, kesuksesan bukanlah satu hal yang datang tiba-tiba. Ia datang kepada kita melalui jalan keteguhan, kecerdikan dan ketekunan.&lt;br /&gt;Tak, mungkin kita memanen tanaman tanpa adanya kemauan untuk menanamnya lebih dahulu. Kemudian mengetahui cara menanam yang benar dan sabar memeliharanya. Sukses dalam hidup merupakan hasil panen dari ‘bibit’ usaha yang kita tanam, Anda tak mungkin mengingkari ‘hukum tanaman’ itu. itulah hukum alam (sunnatullah) yang tak akan berubah sepanjang jaman.&lt;br /&gt;Jika Anda ingin berhasi dengan jalan pintas, misalnya memasang lotere, berjudi atau usaha spekulatif lainnya, Anda mungkin akan sukses. Kesuksesan itu adalah kesuksesan semu. Yang mudah datang dan hilang. Bahkan mungkin hilangnya kesuksesan itu disertai penderitaan berkepanjangan. Anda tentu tak menginginkan hal tersebut terjadi pada diri Anda bukan?&lt;br /&gt;Buku ini memberikan panduan kepada Anda bagaimana cara mencapai sukses yang Anda idamkan dengan cara mengelola waktu Anda dengan lebih baik lagi. Dengan penjelasan yang mudah dan praktis, buku ini menjelaskan secara berurutan langkah-langkah sederhana untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan yang bukan hanya bersifat parsial dan material, tapi juga bersifat integral (menyeluruh) dan spiritual (ruhani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku yang membahas bagaimana cara mengatur waktu. Lalu apa kelebihan buku ini dibandingkan buku lain yang sejenis? Buku ini bukan hanya membahas tentang mengatur waktu, tapi juga tentang ‘menerobos’ waktu (Breaking The Time). Membahas bagaimana agar Anda menguasai waktu, bukan dikuasai waktu. ‘Menghancurkan’ penjara waktu yang mengekang dan membuat Anda ‘bebas’ serta tidak merasa bersalah dengan pengaturan waktu. Justru merasa nyaman dan&lt;br /&gt;lapang dengan waktu Anda, walau sesibuk apapun. Inilah metode Breaking The Time (‘menerobos’ waktu), yang berbeda dengan cara pengaturan waktu yang biasa Anda ketahui.&lt;br /&gt;Metode Breaking The Time ini disusun berdasarkan bukti kongkrit di lapangan, bukan sekadar teori belaka. Dirancang agar mudah dipahami dan praktis untuk digunakan oleh siapapun.&lt;br /&gt;Jika Anda pernah membaca buku sejenis, buku ini akan memberikan petunjuk pelaksanan dalam menerapkan semua teori tentang cara mengatur waktu yang pernah Anda dapatkan. Teori hanya tinggal teori, jika tak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Buku ini menjawab ‘kebingungan’ Anda. Mengajak Anda mengurai ‘benang kusut’ teori-teori itu dan menunjukkan langkah praktis satu demi satu untuk menuju kesuksesan hidp melalui pengaturan waktu yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Anda pernah gagal dalam menggapai keinginan. Buku ini akan memberikan motivasi baru untuk memulainya kembali, serta menunjukkan jalan yang lebih mudah dalam melakukannya. Jadikan buku ini sebagai panduan dalam menjabarkan semua ide dan  keinginan&lt;br /&gt;ke langkah yang nyata. Anda mungkin belum mengetahui sebelumnya, bahwa ada cara yang mudah diingat dan sederhana untuk dilakukan dalam mengatur waktu demi mencapai sebagian besar keinginan Anda.&lt;br /&gt;Jadikan buku ini sebagai panduan dalam memjabarkan semua ide dan keinginan ke langkah yamg nyata . Anda mungkin belum mengetahui sebelumnya, bahwa ada cara yang mungkin diingat dan sederhana untuk dilakukan dalam mengatur waktu demi mencapai sebagaian besar keinginan Allah.&lt;br /&gt;Buku initerutama ditunjikan untuk para aktivis dan mereka yang sibuk yang ingin mengatur waktunya secara lebih baik lagi. Tapi secara umum, setiap orang yang ingin merahi sukses hendaknya membaca buku ini. Mahasiswa, pelajar, karyawan, pengusaha, kaum perofesional maupun aktivis organisasi dan dakwah dapat menjadikan buku ini sebagai rujukan untuk pengarahan aktivitas mereka agar tetap menuju keberhasilan.&lt;br /&gt;Buku ini juga cocok bagi mereka yang telah sukses dan ingin mempertahankan kesuksesanya. Juga untuk orang yang pernah gagal dan ingin memperbaiki kegagalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sibuk atau merasa kekurangan waktu, buku ini akan membantu mereka terampil mengatur waktu, sehingga menjadi efisein dan efektif. Bagi para manajer, supervisor, konsultan, pembimbing atau pengajar, buku ini akan memberi manfaat tentang&lt;br /&gt;bagaimana mengajari orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dalam menerapkan cara-cara mengatur waktu guna mencapai tujuan pribadi maupun organisasi.&lt;br /&gt;Anda bisa menggunakan buku ini pada tahap manapun dalam kehidupan Anda. Bagi yang masih belia akan sangat baik untuk memulai mempelajari buku ini dari awal. Sedang yang telah ber ‘umur’ mungkin dapat langsung membaca bagian-bagian yang dirasa masih perlu perbaikan.&lt;br /&gt;Buku ini sangat tepat jika membacanya pada saat kita perlu mengoreksi cita-cita atau tujuan hidup kita. Atau saat kita akan mengevaluasi langkah-langkah yang kita lakukan untuk mencapai cita-cita kita. Jika ingin lebih merasakan manfaatnya, Anda perlu mempraktekkan langsung apa yang ada pada buku ini. Praktek adalah kunci untuk merasakan manfaat sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan mengatur waktu (manajemen waktu)? Manajemen waktu adalah suatu keterampilan dalam mengatur waktu agar berhasil mencapai cita-cita atau tujuan hidup positif yang dikehendaki. Jika tujuan hidup positif telah tercapai berarti&lt;br /&gt;Anda telah menjadi orang yang sukses. Sebab orang yang sukses adalah orang yang berhasil mencapai tujuan hidup positif yang dikehendakinya.&lt;br /&gt;Di sekitar kita, ada empat macam orang. Orang yang tidak tahu tujuan hidupnya, orang yang tahu tujuan hidupnya tapi tak tahu bagaimana cara mencapainya, orang yang tahu tujuan hidupnya dan tahu bagaimana cara mencapainya, serta orang yang tahu tujuan hidup yang benar dan tahu bagaimana cara mencapainya. Termasuk manakah Anda?       &lt;br /&gt;Di kelompok manapun, Anda jelas membutuhkan keterampilan mengatur waktu (Time Management). Bahkan jika direnungkan, keterampilan mengatur waktu lebih utama untuk dipelajari daripada ketrampilan atau keahlian yang bersifat sektoral, seperti keterampilan di bidang komputer, arsitektur, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya. Sebab jika keterampilan sektoral hanya mengelola satu aspek dari kehidupan manusia yang kompleks, keterampilan manajemen waktu justru mengelola seluruh aspek kehidupan manusia agar tercapai keseimbangan dan keselarasan.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, keterampilan mengatur waktu kerap dianggap sepele. Barangkali karena anggapan bahwa keterampilan mengatur waktu akan bisa dengan sendirinya melalui pengalaman hidup, sehingga tak perlu dipelajari. Atau anggapan bahwa mengatur waktu dapat berarti merubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dilakukan, sehingga sulit untuk dilaksanakan. Atau mungkin juga ada anggapan hidup setiap manusia sudah merupakan takdir yang tak dapat diubah, sehingga tak perlu susah payah mengaturnya.&lt;br /&gt;Semua anggapan tersebut tentu saja keliru karena seperti keterampilan lain yang dapat dipelajari, keterampilan manajemen waktu juga dapat dipelejari dan dilakukan. Jadi masalahnya terletak pada kemauan. Maukah Anda untuk menata hidup lebih baik lagi? Maukah Anda mencapai cita-cita yang Anda inginkan? Maukah Anda hidup secara seimbang dan selaras, sehingga memperoleh ketenangan dan kepuasaan batin? Maukah Anda bangkit kembali setelah gagal? Jika jawabannya, ya. Berarti Anda membutuhkan buku ini untuk membantu Anda menata kembali kehidupan Anda.&lt;br /&gt;Beberapa manfaat yang didapatkan jika Anda terampil mengatur waktu, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Anda menjadi mantap dan semangat&lt;br /&gt;untuk menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu apa dan bagaimana cara mengisi hidup ini. Anda tidak mudah bingung dan terombang-ambing dalam mengambil keputusan. Sebab Anda tahu mau ke mana Anda melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Anda dapat hidup&lt;br /&gt;secara seimbang dan selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang yang perlu Anda layani akan terpenuhi secara cukup. Tidak ada lagi ketidakseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Atau antara kebutuhan fisik dan ruhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Anda dapat mencapai cita-cita&lt;br /&gt;atau tujuan hidup yang Anda kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Anda telah melakukan perencanaan untuk dapat meraihnya. Merencanakan adalah setengah dari keberhasilan Anda untuk mencapai apa yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Anda akan termotivasi untuk melakukan&lt;br /&gt;apa yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah memilih tujuan hidup yang Anda sukai dan Anda telah merencanakannya sendiri. Semua itu akan menantang Anda untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Anda akan dapat memanfaatkan waktu&lt;br /&gt;dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Anda akan berlalu secara produktif. Anda tak akan menyesali waktu yang telah berlalu di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Anda akan terhindar dari keletihan kronis dan&lt;br /&gt;stres yang dapat berakibat pada gangguan&lt;br /&gt;psikologis dan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan kegiatan membuat Anda terhindar dari keterdesakan waktu dan dari jebakan kegiatan yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ð&lt;br /&gt;Anda menjadi orang&lt;br /&gt;yang lebih percaya diri dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan lebih bersungguh-sungguh untuk meraih masa depan tanpa sikap pesimis. Kepercayaan diri dan kreativitas merupakan modal untuk meraih kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ñ&lt;br /&gt;Anda tak lagi kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Anda penuh dengan pengalaman beragam bersama orang lain. Anda akan menjadi orang yang suka bekerjasama dan bersosialisasi. Walaupun Anda dapat melakukan segala sesuatu sendirian, tapi Anda tahu hasil yang lebih besar akan Anda dapatkan jika bersinergi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatur waktu dengan metode Breaking The Time, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Tahapan tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Membuat Misi;&lt;br /&gt;2.      Menentukan Peran;&lt;br /&gt;3.      Membuat Visi Peran;&lt;br /&gt;4.      Membuat rencana Pekanan; dan&lt;br /&gt;5.      Membuat Rencana Harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tahapan Breaking The Time tersebut sebaiknya Anda pelajari dan praktekkan dengan sungguh-sungguh. Sebab masing-masing tahapan tersebut saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat Misi&lt;br /&gt;Menentukan Peran&lt;br /&gt;Membuat Visi Peran&lt;br /&gt;Membuat Rencana Pekanan&lt;br /&gt;Membuat Rencana Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3&lt;br /&gt;Model Breaking The Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan I&lt;br /&gt;Membuat Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana yang sesungguhnya dari dunia ini ialah&lt;br /&gt;yang memberimu kemuliaan diri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ali bin Abu Thalib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengendalikan waktu dengan metode Breaking The Time dimulai dari pembuat misi. Sebab misi menjawab pertanyaan yang paling mendasar dari keberadaan kita di dunia. Siapa sebenarnya kita? Dan apa maksud keberadaan kita di dunia? Setiap orang mungkin saja mempunyai jawaban berbeda-beda. Namun apa pun jawabannya, sadar atau tidak, mencerminkan misi hidup Anda.&lt;br /&gt;Istilah misi sebetulnya lebih populer dalam dunia bisnis dan manajemen. Perusahaan-perusahaan maju menjadikan misi sebagai ‘jiwa’ yang mewarnai tindakan dan pengambilan keputusan mereka. Misi dalam bisnis diartikan sebbagai maksud utama yang unik yang menggambarkan produk atau jasa utama dari perusahaan, segmen pasar yang diambil, dan ruang lingkup yang ditekankan agar dapat bersaing dengan perusahaan sejenis.&lt;br /&gt;Namun sebenarnya misi bukanlah monopoli dunia bisnis dan manajemen. Misi dapat digunakan dalam semua bidang, baik dalam lingkup kelompok maupun individu.&lt;br /&gt;Ketika misi digunakan dalam lingkup individu, misi berarti kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh seseorang. Ini mencakup seluruh nilai-nilai yang membentuk sifat, sikap, dan perilaku seseorang. Baik nilai yang berasal orang tua, keluarga, budaya, bangsa, mmaupun agama. Baik nilai-nilai yang mempengaruhi seseorang di masa lalu, kini maupun di masa depan. Pendek kata, misi adalah azas dari setiap pribadi. Misi merupakan intisari dari seluruh nilai-nilai yang mempengaruhi pola pikir dan perasaan seseorang. Misi adalah dasar kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;Seberapa penting misi bagi kehidupan kita? Sadar atau tidak, misi sangat mempengaruhi kehidupan kita. Semua tindakan dan keputusan kita dipengaruhi olehnya. Jika hidup ini berarti memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, maka misilah yang menuntun kita untuk menentukan pilihan tersebut.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, tak semua orang tahu bahwa ia memiliki misi hidup tertentu. Jika ditayangkan apa misi hidupnya? Biasanya ia tak dapat menjawabnya dengan pasti. Jawaban seperti, “Aku tak tahu apa misi hidupku. Bagiku hidup ini mesti dijalani apa adanya”, atau “Bagiku hidup ini bagai air yang mengalir saja”, menunjukkan ketidaktahuannya tentang misi hidup.&lt;br /&gt;Bahkan mereka yang sadar memiliki misi hidup tertentu kadangkala tak tahu apakah misi hidupnya itu baik atau tidak. Apakah misi tersebut dapat membantu mereka untuk sukses dalam hidup atau tidak? Namun yang jelas adalah bahwa setiap manusia pasti memiliki misi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, misi hidup dan dua macam yakni misi hidup positif dan negatif. Misi hidup positif adalah misi hidup yang luhur. Misi&lt;br /&gt;hidup yang dipengaruhi oleh nilai-nilai prinsip, seperti kebaikan, kejujuran, keadilan, kedamaian, kesetiaan, keselamatan, kesejahteraan, ketentraman dan kebahagiaan. Nilai-nilai tersebut berlaku universal dan abadi.&lt;br /&gt;Sebaliknya misi hidup negatif adalah misi yang dipengaruhi oleh nilai-nilai hedonis dan semu, seperti kedustaan, kelicikan, kezaliman, kesewenangan, kejahatan, kekikiran, keegoisan, dan ketidaksetiaan. Mungkin orang yang bersangkutan sendiri tidak menyadari bahwa misi hidupnya negatif. Namun orang lain cepat mengetahuinya, biasanya orang yang bermisi negatif terlihat pada cara-cara yang mereka gunakan dalam mencapai tujuan yaitu menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;Orang yang misi hidupnya negatif akan mengejar berbagai keinginan yang bersifat kepuasan nafsu pribadi, tanpa mempedulikan orang lain. Orientasi hidupnya diarahkan untuk mendapatkan berbagai hal yang bersifat semu dan materi. Ia mengejar sesuatu yang sebetulnya tak akan mampu membuatnya tenang dan hidup bahagia, kecuali sesaat. Sesuatu itu dapat berupa harta, uang, kedudukan, pekerjaan, keluarga, golongan, teman, musuh, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Contoh orang yang misi hidupnya negatif adalah orang yang menggunakan kelicikan untuk mencapai keinginannya. Ia berlaku curang dan menipu untuk mencapai tujuan. Contoh lain adalah orang yang tidak setia. Berkata baik di depan seseorang, tapi di belakangnya sering menjelek-jelekkannya. Atau orang yang sering tidak konsisten dengan apa yang diucapkannya. Sering melanggar ucapan atau janjinya sendiri.&lt;br /&gt;Orang yang bermisi positif adalah orang yang berpegang pada prinsip-prinsip universal, seperti kebaikan, kejujuran, kesetiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut berlaku dan diakui oleh seluruh manusia normal di seluruh dunia. Biasanya nilai-nilai tersebut juga merupakan norma dalam masyarakat beradab yang diajarkan secara turun temurun.&lt;br /&gt;Jika kita renungkan, nilai-nilai universal tersebut sesungguhnya berasal dari Allah Yang Maha Esa. Allah mengajarkan nilai-nilai luhur tersebut melalui para rasul-Nya. juga melalui hati nurani (fithrah) yang selalu mengajak kita ke arah kebaikan. Nilai-nilai universal ini melingkupi nilai-nilai yang bersifat semu. Artinya jika kita berpegang teguh pada nilai-nilai universal, kita bukan hanya mendapatkan kebahagiaan jiwa tapi juga kenikmatan materi.&lt;br /&gt;Sayangnya bagi sebagian orang, berpegang teguh pada nilai-nilai universal dianggap sulit. Banyak godaan dan cobaan yang menghadang sehingga membuat mereka, secara sadar atau tidak, lebih memilih misi hidup negatif. Yakni misi yang nilai-nilainya cenderung egois dan destruktif bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Positif Mendorong ke Luar Misi negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 5&lt;br /&gt;Lingkaran Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sadar tentang misi hidupnya tentu berbeda dengan orang yang&lt;br /&gt;tak tahu tentang misi hidupnya. Orang yang tahu misi hidupnya juga berbeda antara orang yang tahu apakah misi hidupnya positif atau negatif.&lt;br /&gt;Jika ingin terampil ‘menerobos’ waktu, Anda perlu menyadari apakah misi hidup Anda positif atau negatif. Untuk itu, beberapa ciri misi hidup yang positif di bawah ini akan dapat membantu Anda untuk mengidentifikasi apakah misi hidup Anda positif atau negatif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Luhur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi hidup positif adalah misi yang luhur dan ideal. Misi yang bersumber pada nilai-nilai universal yang berasal dari Allah. Bukan bersumber pada nilai-nilai negatif yang destruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Fleksibel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi juga harus fleksibel. Tidak terlalu kaku, dan memberi ruang bagi perubahan-perubahan cara untuk mencapai tujuan. Misi yang tidak fleksibel membuat orang yang menyandang misi tersebut kehilangan kreativitasnya dalam menerjemahkan misi tersebut ke dalam langkah operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi yang menarik berarti misi yang mampu memotivasi penyandangnya untuk senantiasa menjalankan dan mempertahankannya dalam berbagai situasi. Misi yang menarik juga bersifat optimistis dan menekankan harapan daripada kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritual di sini berarti misi bersifat non materi dan abstrak. Ia tak dapat diukur secara kuantitatif, hanya dapat dirasakan secara subyektif melalui pendekatan kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi harus jelek, sehingga mudah memahami dan menghayatinya. Misi yang jelas biasanya mengandung kata-kata yang tidak mempunyai makna ganda. Misi yang memakai kata-kata puitis mungkin menarik, tapi kadang kala sulit di mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi sebaiknya singkat dan padat. Dianjurkan hanya menggunakan satu kalimat. Jika terpaksa, boleh juga menggunakan beberapa kalimat, tapi sebaiknya tidak lebih dari tiga kalimat. Misi perlu dibuat singkat agar lebih mudah diingat dan dihafal.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat misi secara tertulis merupakan konsekuensi dari Breaking The Time. Misi harus tertulis agar lebih mudah diingat, dihafal, di mengerti dan dihayati. Misi yang tidak ditulis menunjukkan ketidaksungguhan dalam pembuatannya. Ketika memutuskan sebuah&lt;br /&gt;misi segera tuangkan dalam tulisan misi sebab dari sama akan segera tumbuh sebuah komitmen kuat dalam menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA CARA MEMBUAT MISI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 1&lt;br /&gt;Menjawab enam unsur misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan misi secara tertulis, sebaiknya mencakup jawaban dari berbagai unsur pertanyaan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Siapa saya&lt;br /&gt;2.      Mengapa saya ada?&lt;br /&gt;3.      Apa keunggulan/ kelebihan yang saya milik?&lt;br /&gt;4.      Untuk siapa saya bekerja?&lt;br /&gt;5.      Apa hasil/ produk dari pekerjaan saya?&lt;br /&gt;6.      Dimana saya mengerjakannya? (opsional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat contoh:&lt;br /&gt;Ahmad Saputra bekerja sebagai dosen Fakultas Psikologi pada sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Saat ini berusia 32 tahun, mempunyai seorang isteri dan 2 orang anak. Selain dosen, Ahmad juga sering berceramah dan mengisi pelatihan tentang prikologi serta pengembangan pribadi. Ia juga aktif dalam kegiatan pelayanan masyarakat. Di antaranya tercatat sebagai pengurus sebuah LSM psikologi remaja, pengurus kperasi serba usaha, dan pembina pengajian remaja di tempat tinggalnya. Ahmad dikenal sebagai orang yang aktif, kreatif, dan senantiasa optimis menatap masa depan. Ia juga sering menulis artikel di berbagai media massa ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempelajari buku ini, Ahmad bertekad untuk menata hidupnya lebih teratur. Ia perlu membuat misi hidupnya secara tertulis. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mencoba menjawab secara spontan dan jujur enam pertanyaan unsur misi pada selembar kertas. Ahmad menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Siapa Saya?&lt;br /&gt;Makhluk ciptaan Allah&lt;br /&gt;Mengapa saya ada?&lt;br /&gt;Untuk berbuat baik&lt;br /&gt;Apa keunggulan/&lt;br /&gt;Kelebihan yang saya&lt;br /&gt;miliki?&lt;br /&gt;Berpendidikan,&lt;br /&gt;Ulet dan kreatif&lt;br /&gt;Untuk siapa saya&lt;br /&gt;Bekerja?&lt;br /&gt;Untuk masyarakat&lt;br /&gt;di sekitar saya&lt;br /&gt;Apa hasil/produk&lt;br /&gt;dari pekerjaan saya?&lt;br /&gt;Pemberdayaan&lt;br /&gt;orang lain&lt;br /&gt;Dimana saya&lt;br /&gt;Mengerjakannya?&lt;br /&gt;Di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjawab pertanyaan mengenai misi, Anda perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Siapa saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban harus mencerminkan diri Anda sebagai manusia seutuhnya. Jangan menjawab secara parsial, misalnya: saya adalah asisten dosen, saya adalah anak dari bapak saya, saya adalah Ahmad Saputra (menyebutkan nama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Mengapa saya ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anda mengapa Anda lahir dan berada di dunia ini. Jawablah secara jujur dan apa adanya. Anda harus menjawab sesuai pendapat Anda, bukan menurut pendapat orang lain, pendapat pakar, atau buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Apa keunggulan / kelebihan&lt;br /&gt;yang saya miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sebetulnya mudah. Setiap orang pasti memiliki keunggulan. Jika merasa sulit karena tak tahu pasti apa keunggulan Anda, cobalah renungkan kegiatan apa yang Anda senangi? Atau apa hobi Anda? Bisa juga dengan melihat prestasi yang pernah Anda dapatkan di masa lalu. Biasanya keunggulan yang kita miliki berawal dari senang mengerjakannya atau karena kita ahli mengerjakannya (berprestasi). Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud keunggulan di sini adalah yang telah Anda miliki ketika Anda menulis misi ini, bukan yang akan Anda miliki di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Untuk siapa saya bekerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud bekerja bukanlah sebatas pekerjaan formal atau profsi Anda. Tapi adalah untuk siapa Anda hidup dan beraktivitas di dunia ini? Penekanannya kepada siapa yang Anda layani selama ini? Atau yang akan Anda layani di masa datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Apa hasil / produk&lt;br /&gt;dari pekerjaan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil/produk dapat berupa barang atau jasa. Jika hasil Anda banyak, pilih yang paling dominan. Hasil/produk dapat juga berupa manfaat yang Anda hasilkan dari aktivitas Anda yang paling menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Dimana saya mengerjakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban dari pertanyaan ini menunjuk pada tempat di mana Anda biasa beraktivitas selama ini. Tempat tersebut bisa merupakan areal yang sempit atau luas. Jika jawaban Anda merupakan areal yang sempit, seperti nama kelurahan, kecamatan atau kota tertentu, berarti Anda menekankan pada kekhasan misi Anda yang hanya cocok di tempat tersebut. Jika jawaban Anda berareal luas, bahkan dapat dilakukan di mana saja (misalnya Anda menjawab, “di dunia”), Anda dapat mengabaikan pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 2&lt;br /&gt;Menggabungkan jawaban&lt;br /&gt;pertanyaan tentang misi menjadi satu&lt;br /&gt;atau beberapa kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keenam unsur misi dijawab, langkah selanjutnya menyatukannya menjadi satu atau beberapa kalimat. Buat dalam KISS (Keep It Short and Simple), kalimat yang singkat dan sederhana. Susunan kalimat hendaknya memenuhi ciri dari misi yang baik, yaitu menarik, jelas, singkat, mengandung nilai-nilai luhur, bersifat spiritual dan fleksibel. Kalimat tidak harus memakai kata-kata yang persis sama dengan enam jawaban di atas.&lt;br /&gt;Setelah Ahmad menjawab enam pertanyaan yang berkaitan dengan misi, Ahmad mencoba menyusunnya menjadi satu kalimat. Ia menulis masing-masing jawaban tersebut pada karton yang dibuat seukuran kartu. Kemudian memindah-mindahkan posisi kartu sampai menjadi sebuah kalimat yang baik dan menarik.&lt;br /&gt;Akhirnya Ahmad menemukan kalimat yang tepat untuk misi hidupnya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya adalah makhluk ciptaan Allah yang&lt;br /&gt;berpendidikan, ulet dan kreatif yang bertekad untuk&lt;br /&gt;selalu berbuat baik dengan cara memberdayakan&lt;br /&gt;masyarakat di sekitar saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan selesainya langkah 2 ini, Anda telah membuat pernyataan misi secara tertulis. Misi tersebut sebaiknya dihapal dan dihayati. Misi akan berguna untuk menilaui setiap alternatif tindakan Anda ke depan. Setiap malam atau di pagi hari, Anda perlu melakukan instrospeksi apakah tindakan Anda yang lalu sesuai atau tidak dengan misi hidup Anda. Jika tidak, apa sebab dan dimana kendalanya. Kemudian perbaharui komitmen Anda agar lain kali senantiasa bertindak sesuai dengan misi hidup Anda.&lt;br /&gt;Pernyataan misi tertulis diubah setiap saat sesuai dengan keinginan Anda. Namun walau misi bersifat fleksibel, sebaiknya misi jangan terlalu sering diubah. Sebab misi mempengaruhi tindakan. Jika misi sering diubah maka tindakan kita menjadi tidak konsisten atau plin-plan. Kita seperti orang yang memintal benang, kemudian diurai lagi, demikian seterusnya. Selain itu, misi yang seriang diubah juga menunjukan kurang matangnya pribadi kita terhadap nilai-nilai yang kita yakini.&lt;br /&gt;Misi tak akan banyak gunanya jika Anda hanya membuatnya secara tertulis tapi tidak direalisasikan dalam tindakan. Misi yang selalu direlisasikan dalam tindakan akan membuat Anda menjadi diri Anda sendiri (be your self). Anda menjadi tidak  tergangu kepada selera atau keinginan orang lain. Pribadi Anda menjadi utuh dan terhindar dari split of personality (kepribadian yang pecah), sehingga menjadikan anda mantap dan tenang dalam hidup.&lt;br /&gt;Jika Anda selalu komitmen dengan misi anda, berarti Anda telah mempunyai modal awal yang baik untuk terampil mengatur waktu Anda. Anda telah mampu mengendalikan diri. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri untuk melangkah pada pada tahap selanjutnya dari Breaking The Time m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan II&lt;br /&gt;Menentukan Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan,&lt;br /&gt;maka ia akan turun dengan kehinaan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Shakespeare)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi hidup tak ada gunanya jika tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menerapkan misi, kita akan menerapkannya dalam berbagai peran hidup kita. Peran adalah posisi atau kedudukan di mana seseorang diharapkan melakukan perilaku tertentu.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki peran yang bermacam-macam. Peran-peran itu dijalankan oleh setiap orang secara berbarengan menurut takaran yang berbeda. Ada peran yang utama, karena waktu dan tenaga kita lebih banyak tercurah di sana. Ada pula peran pembantu, yang walau membutuhkan porsi waktu dan tenaga yang kecil, namun tetap juga harus diperhatikan. Pendek kata tidak ada orang yang hanya memiliki satu peran. Sebagai contoh, Anda mungkin mempunyai peran sebagai karyawan, di samping itu sebagai mahasiswa sekaligus anak dari sebuah keluarga.&lt;br /&gt;Orang yang tidak dapat seimbang dalam memenuhi semua perannya kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dan kekecewaan hidup. Misalnya, jika Anda terlalu sibuk bekerja di kantor (berperan sebagai karyawan), Anda mungkin dapat melalaikan peran Anda sebagai suami atau ayah dari anak-anak (peran sebagai keluarga). Hal ini disebabkan Anda tidak lagi mempunyai waktu yang cukup untuk mengurusi keluarga Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi/&lt;br /&gt;Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi&lt;br /&gt;Warga Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dll&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 9&lt;br /&gt;Lingkaran peran/ pekerjaan, keluarga, pengabdian, studi,&lt;br /&gt;warga masyarakat, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dibutuhkan kemampuan untuk dapat mengatur berbagai peran hidup Anda. Manajemen waktu bermanfaat untuk bisa mengatur berbagai peran hidup secara seimbang dan harmonis. Manajemen waktu mengajarkan kepada kita untuk dapat memenuhi setiap tuntutan peran tersebut secara proporsional. Sebab masing-masing peran dalam kehidupan kita merupakan bagian yang tak terpisah dari kebahagiaan dan kesuksesan kita. Orang yang mampu mengatur drinya sendiri berarti mampu memainkan perannya dengan baik. Bukan hanya pada satu peran, tapi pada semua peran dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kepedihan yang paling dalam dan sering terungkap dalam kaitan dengan mengatur diri dan waktu adalah ketika muncul ketidakseimbangan.&lt;br /&gt;Banyak orang yang setelah sekian lama menjalani hidup akhirnya sampai pada kesadaran yang menyakitkan bahwa betapa banyak hal penting dalam hidup mereka selama ini terabaikan. Mereka menyadari bahwa mereka telah menggunakan amat banyak waktu dan tenaga dalam satu bidang kehidupan –seperti bisnis, olahraga, atau pelayanan masyarakat—dengan mengorbankan bidang yang lain, seperti kesehatan, keluarga dan teman-teman. Mereka sadar akan adanya berbagai peran tersebut, tetapi tak tahu bagaimana cara mengalokasikannya. Peran mereka tampaknya terus menerus saling bertentangan dan bersaing, karena keterbatasan waktu maupun perhatian.&lt;br /&gt;Jelas, dibutuhkan keseimbangan antar peran jika kita tak mau menyesal di kemudian hari. Keseimbangan merupakan nilai universal yang selalu kita lihat perwujudannya setiap hari. Keseimbangan alam, keseimbangan kekuatan, keseimbangan neraca perdagangan, keseimbangan makanan (makanan yang komposisinya seimbang) merupakan bagian dari keseimbangan universal. Keseimbangan merupakan kunci dari kehormatan. Keseimbangan peran merupakan kunci dari kesuksesan dan ketenangan hidup.&lt;br /&gt;Tetapi, bagaimana kita dapat memelihara keseimbangan dalam peran hidup kita? Apakah itu berarti lari dari satu peran ke peran lain dengan cepat untuk menangani semuanya setiap hari? Atau, kita memusatkan diri pada satu peran, kemudian setelah selesai baru memperhatikan peran yang lain? Banyak di antara kita yang terbiasa sejak kecil untuk melihat peran sebagai “kotak-kotak” kehidupan yang terpisah. Kita pergi ke kelas-kelas yang berbeda di sekolah, kita memiliki mata pelajaran yang terpisah-pisah, kita memiliki buku teks yang berbeda-beda, dan tidak pernah terlintas di benak kita bahwa terdapat hubungan antara satu dengan yang lain. Pengotak-kotakan itu berubah menjadi watak kita juga. Siapa diri kita di tempat kerja berbeda dengan diri kita di tengah keluarga. Apa yang kita lakukan di depan orang banyak berbeda dengan apa yang kita lakukan ketika sendirian. Inilah dampak dari watak pengkotak-kotakan yang dapat berakibat pada ketidakseimbangan hidup kita.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, peran-peran itu merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang amat saling terkait, di mana masing-masing peran merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Sebagaimana dikatakan oleh Gandhi, “Orang tidak dapat melakukan sesuatu yang benar dalam satu bidang kehidupan sementara dia sibuk melakukan kesalahan di bidang lain. Kehidupan adalah satu keseluruhan yang tak terbagi”.&lt;br /&gt;Ketika Anda menerapkan keseimbangan peran dalam hidup Anda, itu tidak berarti sama dengan berlari di antara kotak-kotak kehidupan. Keseimbangan adalagh suatu ekuilibrium dinamis. Keseimbangan berarti bahwa semua bagian beroperasi secara bersama-sama secara sinergis dalam suatu keseluruhan yang amat saling terkait. keseiMbangan bukanlah berwujud ‘atau’ melainkan perwujudan dari ‘dan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu menciptakan sinergi antar peran kita. Sinergi antar peran dapat menghemat waktu maupun tenaga. Dengan mengajak anak ke toko buku, kita dapat mengembangkan diri sebagai upaya menjalankan&lt;br /&gt;peran pekerjaan sekaligus pada saat yang sama membina hubungan yang lebih baik dengan anak sebagai upaya menjalankan peran keluarga. Kalau kita harus memeriksa pabrik dan melatih seorang asisten baru, kita dapat memandang kegiatan pemeriksaan bersama dengan asisten itu sebagai cara melatih dia (sinergi peran pekerjaan dan peran pemberdayaan pegawai).&lt;br /&gt;Memahami sinergi antar peran akan membantu kita mengatasi dikotomi “atau”. Seorang wanita yang bekerja dan mempunyai anak dapat mengatasi dikotomi yang membingungkan antara bersama dengan anak-anak atau bekerja. Ia bergairah menjadi ibu karena memahami perannya sebagai ibu yang tak dapat ditinggalkan dan tidak lupa untuk mengembangkan potensinya melalui kerja.&lt;br /&gt;Kalau Anda memandang peran-peran sebagai bagian hidup yang terpisah-pisah maka sesungguhnya Anda sedang mengembangkan suatu mentalitas kelangkaan waktu. Anda merasa selalu dikejar-kejar waktu. Memanfaatkan waktu dalam satu peran berarti kita tidak dapat memanfaatkannya untuk peran yang lain. Ini berarti menang kalah (satu peran menang, peran lain kalah). Akhirnya kita berkompetisi dengan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi/&lt;br /&gt;Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;Sinergi&lt;br /&gt;Sinergi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 10. Sinergi antar peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan sinergi antar peran, Anda menumbuhkan mentalitas berlimpahnya waktu. Waktu Anda banyak dan dapat dipergunakan secara cukup untuk memenuhi peran Anda. Anda akan selalu berpikir menang dan menang. Memandang semua peran sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang saling terkait. Kecerdikan dan kreativitas dibutuhkan  untuk mampu melakukan sinergi antar peran dalam hidp keseharian Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LALU APA LANGKAH APLIKATIF&lt;br /&gt;UNTUK MENENTUKAN PERAN ANDA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 1&lt;br /&gt;Menginventarisir Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah menginventarisir (mendata) peran Anda selama ini. Setiap orang akan berbeda dalam menginventarisir jumlah perannya. Tidak ada patokan yang khusus untuk mengklasifikasikan peran, tapi beberapa petunjuk di bawah ini dapat Anda gunakan untuk mengklasifikasi peran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Aktivitas yang membutuhkan tanggung jawab Anda;&lt;br /&gt;2.      Aktivitas yang sering/rutin Anda lakukan (setiap hari, setiap pekan, setiap bulan atau setiap tahun),&lt;br /&gt;3.      Aktivitas yang berhubungan dengan orang lain;&lt;br /&gt;4.      Aktivitas yang membutuhkan cukup banyak waktu untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat misi, Ahmad Saputra mencoba menginventarisir perannya. Hasil catatannya tercantum seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n      Dosen&lt;br /&gt;n      Penceramah&lt;br /&gt;n      Instruktur&lt;br /&gt;n      Ayah&lt;br /&gt;n      Suami&lt;br /&gt;n      Anak (dari orang tuanya)&lt;br /&gt;n      Saudara (dari keluarga besarnya)&lt;br /&gt;n      Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)&lt;br /&gt;n      Penulis artikel&lt;br /&gt;n      Pengurus LSM&lt;br /&gt;n      Pengurus koperasi&lt;br /&gt;n      Pembina pengajian remaja&lt;br /&gt;n      Pemain bola&lt;br /&gt;n      Membaca buku&lt;br /&gt;n      Sholat dan ibadah lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 2&lt;br /&gt;Menyeleksi peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menginventarisir peran, Anda perlu melakukan seleksi peran. Seleksi peran dilakukan dengan dua cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Menyisihkan peran&lt;br /&gt;yang tidak sesuai dengan misi hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang telah dinventarisir harus dinilai secara jujur apakah sesuai dengan misi atau tidak. Peran yang tidak sesuai dengan misi harus Anda tinggalkan. Artinya, Anda tidak lagi melakukan aktivitas tersebut. Jangan segan-segan untuk menghilangkan peran yang tidak sesuai dengan misi Anda. Anda harus berani mengambil keputusan, jangan takut meninggalkan peran yang tidak sesuai dengan misi hidup Anda. Misalkan ketika Anda menginventarisir peran terdapat peran sebagai pengedar narkoba, padahal misi hidup Anda adalah pemberdayaan terhadap orang lain, maka tinggalkan peran sebagai pengedar narkoba. Ubah usaha Anda agar sesuai dengan misi hidup Anda. Contoh lain, jika misi hidup Anda mencari ridho Allah, maka tinggalkan peran yang menjauhi Anda dari ridho Allah, seperti bekerja pada tempat yang tidak halal atau maksiat. Jika Anda belum mampu meningalkan peran yang tidak sesuai dengan misi Anda, jadikan ia sebagai peran tersendiri. Lalu buat visi untuk meninggalkannya di masa depan (akan diterangkan pada bagian ‘Membuat Visi peran’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Mengelompokkan peran-peran sejenis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelompokkan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah peran. Sebaiknya peran yang kita miliki tidak lebih dari tujuh buah agar mudah membagi waktunya. Kelompokkan peran berdasarkan sifatnya yang sama. Misalnya peran berdasarkan sifatnya yang sama. Misalnya peran sebagai ayah, suami, dan saudara dapat dikelompokkan dalam satu peran yang sama, yakni peran keluarga. Peran olahraga dan belajar dapat dikelompokkan dalam peran pengambangan diri. Namun peran yang menurut Anda sangat penting bagi misi Anda, sebaiknya jangan dikelompokkan. Biarkan ia menjadi satu peran tersendiri karena Anda membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk menjalankannya.&lt;br /&gt;Kelompokkan juga peran menjadi peran utama atau peran pembantu. Peran utama adalah peran yang sangat penting untuk pencapaian misi hidup Anda. Peran yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengerjakannya. Sedang peran pembantu adalah peran yang perlu ada sebagai tuntutan untuk menunjang pencapaian misi hidup Anda. Peran yang tidak membutuhkan waktu terlalu banyak dibanding peran utama.&lt;br /&gt;Anda juga perlu membuat peran pengembangan diri secara tersendiri. Peran ini sebaiknya selalu ada dan tidak digabung dengan peran lainnya. Hal ini agar Anda senantiasa mempunyai waktu untuk mengembangkan diri, baik secara moral, intelektual, sosial maupun fisik.&lt;br /&gt;Ahmad Saputra meneruskan langkahnya untuk menentukan peran dengan menseleksi peran yang tlah diiventarisir. Mula-mula ia mengelompokkan peran-peran sejenis atau yang sifatnya hampir sama. Ia mengelompokkan peran penceramah dan instruktur dalam satu peran. Peran ayah, suami, anak dan saudara dalam satu peran keluarga. Peran pengurus LSM dan koperasi dalam satu peran organisator. Peran pemain bola, membaca buku dan sholat dalam satu peran pengembangan diri. Peran dosen, penulis artkel, warga masyarakat dibiarkannya tetap dalam satu peran, karena Ahmad menganggap peran tersebut penting dalam mengaplikasikan misinya.&lt;br /&gt;Setelah itu Ahmad menilai apakah peran-peran tersebut sesuai dengan misi hidupnya. Ternyata, menurut Ahmad, semua peran tersebut sesuai dengan misi hidupnya. Daftar peran Ahmad berubah menjadi seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Dosen&lt;br /&gt;-         Pembicara (Penceramah, Instruktur)&lt;br /&gt;-         Keluarga (Ayah, Suami, Anak, Saudara)&lt;br /&gt;-         Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)&lt;br /&gt;-         Penulis artikel&lt;br /&gt;-         Organisator (Pengurus LSM, Pengurus koperasi, Pembina pengajian remaja)&lt;br /&gt;-         Pengembangan diri (Pemain bola, Membaca buku, Sholat dan ibadag lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang telah ditentukan sebaiknya ditinjau pada waktu-waktu tertentu. Paling lama Anda perlu mengevaluasi peran Anda tiga bulan sekali. Anda perlu mengavaluasi apakah peran-peran itu masih relevan dengan misi atau tidak. Apakah ada peluang yang membuat Anda perlu memasukkan peran yang baru? Apakah ada tantangan atau ancaman yang memaksa Anda perlu mengubah atau meninggalkan peran-peran tertentu? Misalkan Anda yang tadinya sebagai karyawan mendapat promosi sebagai direktur keuangan, maka Anda perlu mengubah peran Anda. Atau mungkin Anda trpaksa meninggalkan peran sebagai karyawan, karena di-PHK oleh perusahaan Anda. Bisa juga Anda berhenti sebagai pengurus koperasi karena pergantian pengurus. Karena itu, peran bukanlah sesuatu yang statis, ia fleksibel dan dapat diubah sesuai dengan kebutuhan, peluang atau tantangan yang ada, asalkan ia tetap sesuai dengan misi Anda. Jika misi hidup Anda berubah, maka dapat dipastikan akan banyak peran hidup Anda yang juga berubah m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan III&lt;br /&gt;Membuat Visi Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Visi membuat kita bergairah dengan pemahaman&lt;br /&gt;akan sumbangan khas yang dapat kita buat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Stephen R. Covey)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Anda menentukan peran sesuai dengan misi yang Anda buat, tibalah saatnya bagi Anda untuk ‘bermimpi’. Sekarang, Anda perlu membuat visi tentang masa depan Anda. Visi ibarat mimpi karena kita membayangkan sesuatu yang masih bersifat harapan. Visi adalah kemampuan untuk melihat apa yang saat ini belum terwujud.&lt;br /&gt;Kekuatan visi sungguh luar biasa! Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki ‘gambaran peran yang berorientasi ke masa depan’ berhasil lebih baik di sekolah dan lebih handal dalam menghadapi tantangan hidup. Tim dan organisasi yang memiliki pemahaman kuat mengenai suatu misi tidak akan mampu mewujudkan misinya tanpa kehadiran visi. Keberhasilan individu, kelompok, atau organisasi salah satunya akibat kekuatan visi yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila visi kita terbatas, hanya sebatas harapan tentang apa yang akan terjadi pada esok hari atau lusa, kita cenderung membuat&lt;br /&gt;pilihan berdasarkan apa-apa yang persis berada di depan kita. Kita bereaksi terhadap apa-apa yang mendesak, dorongan perasaan sesaat, atau suasana hati. Kita membuat pilihan berdasarkan pertimbangan orang lain atau kecenderungan lingkungan di sekitar kita. Kita menjadi tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Langkah kita terombang-ambing. Keputusan-keputusan kita menjadi tidak konsisten dan berubah-ubah setiap hari.&lt;br /&gt;Apabila visi kita terlalu membumbung tinggi, berdasarkan ilusi yang sama sekali tidak beranjak dari kemampuan-kemampuan kita saat ini, maka pada saatnya visi itu tidak dapat mencapai hasil yang kita harapkan. Visi kita tak lebih merupakan sesuatu yang hampa. Akhirnya kita tak percaya lagi pada harapan-harapan kita.&lt;br /&gt;Apabila visi kita berdasarkan pandangan sosial, kita akan membuat pilihan-pilihan atas dasar harapan-harapan orang lain. Kita tidak menggerakkan potensi dan bakat kita sendiri. Kita tak lagi memiliki hubungan dengan jati diri kita yang unik. Kita hidup berdasarkan kemauan orang lain – keluarga, teman, lawan, media massa. Akhirnya, kita menjadi asing terhadap diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Ketika Anda membuta visi, Anda perlu membuatnya berdasarkan kemauan Anda sendiri. Anda perlu membuatnya berdasarkan potensi dan bakat Anda sendiri. Berdasarkan kemampuan dan kelebihan yang Anda miliki saat ini. Atau yang Anda pandang merupakan kelebihan dan kemampuan yang akan Anda miliki. Bukan berdasarkan pandangan orang lain tentang kemampuan dan kelebihan Anda.&lt;br /&gt;Visi adalah cita-cita dan harapan tentang masa depan Anda sendiri. Anda akan bergairah mencapai visi Anda, jika visi sesuai dengan misi hidup Anda. Pada saat itu visi berubah menjadi motivator yang begitu kuat, yang pada gilirannya menjadi ‘pembakar’ semangat Anda. Ini merupakan energi yang membuat hidup Anda menjadi suatu petualangan yang menarik. Suatu petualangan untuk eraih cita-cita, sehingga Anda berani berkata ‘ya!’ terhadap peluang atau pilihan yang sesuai dengan cita-cita Anda. Sebaliknya berani berkata ‘tidak!’ dengan damai dan penuh keyakinan diri terhadap hal-hal yang kurang sesuai dengan cita-cita Anda.&lt;br /&gt;Visi yang sesuai dengan misi hidup Anda akan membuat Anda semakin mampu mengatasi ketakutan, kesulitan, keraguan, kelesuan dan banyak hal lain yang membuat Anda tak dapat mencapai sesuatu. Sebagai contoh, Khobab bin Arts, sahabat Nabi Muhammad saw yang berasal dari kalangan budak mampu mengatasi segala penderitaan, siksaan dan kesulitan yang dialaminya karena memiliki visi yang sama dengan misi hidupnya. Suatu ketika ia datang kepada Nabi mengeluhkan siksaan yang dialaminya. Pada waktu itu Islam baru dipeluk oleg segelintir orang di kota Mekkah. Nabi Muhammad saw berkata kepadanya, “Wahai Khobab, bersabarlah. Demi Allah sesungguhnya aku melihat sebentar lagi apa yang kita perjuangkan akan memperoleh hasilnya. Aku melihat Islam akan dipeluk oleh seluruh orang di jazirah Arab ini, sehingga orang akan bepergian dengan aman tanpa merasa takut diganggu sedikitpun”. Visi ini, membuat Khobab tegar bertahan mengatasi segala penderitaan yang dialaminya. Kelak ia tercatat dalam sejarah sebagai salah satu sahabat utama Nabi yang sukses di dunia (menjadi gubernur) dan sukses di akhirat (mati syahid).&lt;br /&gt;Pikirkan juga Gandhi, yang muncul dari latar belakang ketakutan, kekurangan, dan ketidakamanan pada masa penjajahan Inggris di India. Ia pada dasarnya mempunyai sifat pemalu dan sulit bergaul. Namun ketika melihat ketidakadilan yang dialami orang India, lahirlah visi dalam benak dan hatinya. Visi yang menumbuhkan gagasan sebuah masyarakat egaliter. Di mana setiap orang berkedudukan sama tanpa ada yang menindas hak azasi orang lain. Menjelang akhir hidupnya, ia berkata, “Saya memandang diri saya tidak lebih daripada orang biasa dengan keampuan di bawah rata-rata. Saya sama sekali tidak meragukan bahwa setiap orang, pria maupun wanita, dapat mencapai apa yang telah saya capai, apabila ia mengupayakan usaha yang sama dan menumbuhkan-kembangkan harapan maupun keyakinan yang sama.”&lt;br /&gt;Ketika Khobab bin Arts dan Mahatma Gandhi memfokuskan diri pada visinya, kelemahan-kelemahan pribadinya lenyap. Mereka bertumpu pada kelebihan dan potensi unik yang dimilikinya, sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi orang-orang besar. Visi menciptakan pertumbuhan dan pengembangan diri. Visi membuat orang bergairah, sungguh-sungguh dan cerdik. Kekuatan visi tak dapat disangkal merupakan kunci dari kesuksesan hidup seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-Ciri Visi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang baik adalah visi yang bercirikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Terukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang baik adalah visi yang dapat diukur. Kalimat yang digunakan dalam visi sebaiknya bersifat kuantitatif dan spesifik. Jika visi yang dibuat masih memberikan ruang untuk penafsiran ganda, maka perlu dilengkapi dengan indikator keberhasilan visi yang bersifat kuantitatif. Visi yang abstrak dan terlalu global membuat tujuan menjadi kabur, sehingga evaluasi pencapaian visi menjadi sulit dilakukan. Gairah untuk mencapai visi juga menjadi rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Fleksibel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau visi bersifat terukur, namun visi juga perlu memberi ruang untuk terjadinya fleksibilitas pencapaian visi. Misalnya dengan tidak terlalu memberi batasan-batasan yang begitu mendetail terhadap indikator keberhasilan visi. Visi yang fleksibel juga berarti visi yang dapat diubah jika situasi memang mengharuskannya demikian. Sebaiknya visi perlu ditinjau minimal tiga bulan sekali. Hal ini karena peluang dan tantangan di zaman globalisasi saat ini amat cepat berubah. Anda tak prlu takut merubah visi Anda, jika Anda melihat peluang dan tantangan baru di depan Anda. Namun visi yang terlalu cepat berubah juga kurang baik, misalnya berubah setiap pekan atau setiap bulan, karena hal itu berarti Anda sama saja dengan tidak mempunyai tujuan yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Terjangkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang baik juga visi yang dapat dijangkau. Tidak merupakan khayalan tanpa dasar sama sekali. Visi perlu bertolak dari kemampuan yang Anda miliki saat ini. Namun visi juga jangan telalu mudah untuk dijangkau, karena hal itu akan membuat Anda menjadi reaktif dan kurang termotivasi untuk mencapainya. Visi perlu menggambarkan tujuan masa depan kita dalam ‘beberapa langkah’, bukan dalam ‘ratusan atau ribuan langkah’ juga bukan dalam ‘satuan langkah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi perlu menarik untuk dicapai. Artinya, Anda sendiri merasa senang dan tertantang untuk mencapai visi tersebut. Untuk itu visi harus merupakan kehendak yang datang dari hati nurani Anda sendiri, bukan berdasarkan cermin sosial –keinginan orang lain atau kehendak lingkungan. Visi yang tidak menarik membuat Anda tidak bergairah untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi sebaiknya menggunakan kalimat yang jelas dan mudah dipahami oleh Anda sendiri. Hindari penggunaan kata yang terlalu puitis atau yang dapat ditafsirkan dengan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya kalimat visi juga jangan terlalu panjang. Jika terpaksa memakai kalimat yang panjang. Pecah kalimat tersebut dalam beberapa kalimat. Jadi, buatlah visi dengan kalimat yang singkat dan sederhana. Keep it short and simple!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Anda sulit untuk menuliskan visi Anda, apalagi menuliskannya sampai kepada tingkat yang lebih spesifik, yakni visi dari setiap peran hidup Anda. Anda bukan hanya perlu membayangkan&lt;br /&gt;bagaimana masa depan Anda, tapi juga bagaimana gambaran masa depan dari setiap peran Anda. Bagaimana gambaran peran Anda sebagai karyawan, suami, atau pemimpin organisasi setahun atau beberapa tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;Apabila Anda belum pernah menuliskan pernyataan visi pribadi, atau kalau Anda telah memilikinya, tetapi menginginkan sebuah perspektif yang berbeda, mungkin latihan visualisasi di bawah ini dapat membantu Anda dalam membuat visi.&lt;br /&gt;Bayangkan ulang tahun Anda yang ke-60 atau syukuran perkawinan perak Anda. Bayangkan sebuah acara syukuran yang semarak di mana teman-teman, orang yang Anda cintai, dan para kolega dari segala penjuru tempat yang pernah Anda singgahi dalam hidup Anda, datang untuk menyatakan rasa hormat mereka. Bayangkan serinci mungkin, sejauh Anda bisa yaitu seperti tempat, orang, dan dekorasinya.&lt;br /&gt;Dalam benak, lihatlah mereka satu per satu menyalami Anda. Bayangkan mereka mewakili peran yang Anda mainkan dalam hidup –mungkin sebagai orang tua, guru, manajer atau pegawai negeri. Bayangkan juga bahwa Anda telah berhasil memenuhi semua peran itu sampai batas kemampuan Anda. Apa yang kiranya akan dikatakan mereka? Kualitas Anda yang mana yang akan mereka kenang? Sumbangan istimewa apa yang akan mereka sebutkan? Pandanglah mereka yang hadir dalam acara itu. pengaruh penting apa yang telah Anda buat dalam hidup mereka?&lt;br /&gt;Sementara Anda embayangkan dan merenungkan hal-hal tersebut, berusahalah menulis peran Anda dan penghargaan yang Anda inginkan agar mereka katakan pada kesempatan tersebut.&lt;br /&gt;Cara lain untuk melatih Anda membuat visi adalah semisal membayangkan dengan mata terpejam selama satu menit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang sukses:&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang bahagia, santai, dan puas;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda sepuluh tahun mendatang;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang lebih berat (atau ringan) 10 kilogram;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang sedang mengerjakan sesuatu yang Anda mimpikan untuk dikerjakan;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda sedang bercengkerama dengan cucu; dan&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang mempunyai banyak uang di bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan Anda, ketika Anda menatap visi yang dapat ditampilkan dalam hidup Anda? Sekarang, bagaimana seandainya Anda mampu mencapai visi itu dan memastikannya bahwa visi itu sesuai dengan misi hidup Anda yang positif?&lt;br /&gt;Latihan ini akan memberi Anda suatu pemahaman mendalam akan gairah dan kekuatan potensial yang dimiliki oleh visi. Sesungguhnya upaya untuk menciptakan visi yang menggairahkan kita untuk mencapainya membutuhkan kemampuan imajinasi yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Bayangkan Gambar Apakah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menvisualisasikan gambar di atas, anda bisa menyebut gambar&lt;br /&gt;tersebut sebagai gapura, terowongan, huruf N, huruf U terbalik, pegangan&lt;br /&gt;pintu, isi staples, kursi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN CARA YANG SAMA COBA BAYANGKAN GAMBAR APAKAH INI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 14&lt;br /&gt;Gambar latihan visualisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat Visi Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat misi hidup dan menentukan peran yang tepat, kini tibalah bagi Anda untuk membuat pernyataan visi secara tertulis. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 1&lt;br /&gt;Menciptakan visi besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda perlu membuat visi hidup secara global. Visi hidup ini berlaku sepanjang hidup dan biasanya merupakan gambaran yang umum tentang akhir dari masa depan kita. Karena bersifat global, visi ini tidak dapat dikatakan sebagai visi yang sebenarnya. Ia hanya berfungsi sebagai penuntun dalam membuat visi dari setiap peran hidup kita.&lt;br /&gt;Setelah melakukan latihan visualisasi, Ahmad Saputra membuat pernyataan visi hidupnya seperti berikut, “Menjadi pribadi yang berhasil meningkatkan kualitas diri secara maksimal dan memberdayakan orang-orang di sekitar saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 2&lt;br /&gt;Menciptakan visi peran Anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi besar yang berlaku seumur hidup perlu dijabarkan dalam visi setiap peran. Sebab jika tidak dijabarkan, gambarannya masih terlalu umum, sehingga sulit devaluasi tingkat keberhasilannya dari  waktu ke waktu.&lt;br /&gt;Berbeda dengan visi besar yang target waktu pencapaiannya seumur hidup. Visi [eran memiliki jangka waktu pencapaian tertentu. Anda dapat memakai tenggang waktu tiga bulan, enam bulan, atau setahun. Namun waktu yang disarankan adalah tiga atau enam bulan. Hal ini karena lingkungan di sekitar kita kerap cepat berubah, sehinga perlu diantisipasi dengan visi peran yang fleksibel.&lt;br /&gt;Setiap habis waktu pencapaian visi peran, Anda perlu mengevaluasinya. Mana di antara visi peran Anda yang sudah tercapai dan mana yang belum. Apa saja faktor keberhasilan dan kegagalan Anda dalam mencapai visi peran yang telah ditentukan. Hal ini sangat berguna dalam membuat kembali visi peran Anda untuk periode mendatang, dan menyesuaikannya dengan peluang dan tantangan baru yang Anda hadapi. Khusus untuk pengembangan diri Anda perlu dibuat visi peran tersendiri yang tidak boleh dihilangkan. Hal ini agar kualitas diri Anda senantiasa meningkat secara intelektual, moral, sosial, dan fisik.&lt;br /&gt;Visi peran perlu dibuat dalam kalimat yang memenuhi ciri visi yang baik –teratur, fleksibel, terjangkau, menarik, jelas, dan singkat. Jika visi peran masih sulit untuk dapat diukur, Anda perlu membuat keterangan berupa indikator keberhasilan visi yang berisi parameter kuantitatif dari visi yang dibuat.&lt;br /&gt;Visi peran perlu dibuat tertulis pada lembar Visi Peran. Hal ini agar mudah dibaca dan diingat. Kebiasaan tidak menuliskannya tujuan (Visi) adalah kebiasaan buruk. Sebab jika hanya mengandalkan ingatan, besar kemungkinan kita akan lupa. Lupa menyebabkan kita, tanpa disadari, tak lagi konsisiten dengan visi awal kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Peran&lt;br /&gt;Visi 2003&lt;br /&gt;(Jan s.d. Mar 2003&lt;br /&gt;Indikator&lt;br /&gt;Keberhasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen&lt;br /&gt;-          Menjadi dosen berdedikasi tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Mengajar minimal 6 sks/semester;&lt;br /&gt;-          Mencapai angka kredit min. 20;&lt;br /&gt;-          Presentasi kehadiran min. 90% dari jumlah jam mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara (Penceramah, Instruktur)&lt;br /&gt;-          Berhasil menjadi pembicara profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Menjadi pembicara min. 3x per bulan;&lt;br /&gt;-          Membaca buku psikologi/perkembangan pribadi min. 2 buah per bulan;&lt;br /&gt;-          Membuat modul pelatihan 2 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga (Ayah, Suami, Anak, Saudara&lt;br /&gt;-          Berhasil terus menerus meningkatkan intelektual, moral dan sosial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Firdaus masuk lima besar, hafal ½ juz Al-Qur’an, bisa mengetik di komputer, bisa naik sepeda kecil, berat badan proporsional;&lt;br /&gt;-          Nisa masuk TK, hafal 4 doa harian, bisa fatal 26 huruf abjad, berat badan proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)&lt;br /&gt;-          Dikenal oleh masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Sholat jama’ah min. 1 x per hari di mesjid;&lt;br /&gt;-          Silaturrahim ke tetangga min 1 x per dua pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis artikel&lt;br /&gt;-          Tercapainya produktivitas yang cukup tinggi dalam menulis;&lt;br /&gt;-          Aktif dalam kepengurusan organisasi.&lt;br /&gt;-          Menulis artikel min. 3 x per bulan;&lt;br /&gt;-          Tulisan diterbitkan pada koran nasional min 1 x per buln;&lt;br /&gt;-          Mengkliping artikel psikologi/pengembangan pribadi min. 2 artikel perminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisator (Pengurus LSM, Pengurus koperasi, Pembina pengajian remaja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Mengikuti rapat pengurus LSM min 1 x per bulan;&lt;br /&gt;-          Terlaksananya program “No Drugs” di LSM pada Februari 2003;&lt;br /&gt;-          Tercapainya prkembangan koperasi sesuai dengan visi/misinya;&lt;br /&gt;-          Hadir dalam pengajian remaja 4 x per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Peran&lt;br /&gt;Visi 2003&lt;br /&gt;Indikator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan diri (Fisik, Intelektual, Moral, dan Sosial)&lt;br /&gt;-          Tercapainya pengembangan diri yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Olahraga main bola min. 1 x per pelan;&lt;br /&gt;-          Membaca buku min. 3 x per bulan;&lt;br /&gt;-          Mengikuti seminar min. 1 x;&lt;br /&gt;-          Tilawah Al-Qur’an min. 4 lembar per hari;&lt;br /&gt;-          Menghadiri pengajian min. 1 x per pekan;&lt;br /&gt;-          Silaturrahim ke orang tua min. 1 x per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Saputra melanjutkan pembuatan visinya dengan membuat Lembar Visi Peran dari bulan Januari sampai dengan Maret yang akan datang. Ia juga membuat indikator keberhasilan dari setiap visi perannya. Hasilnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 3&lt;br /&gt;Letakkan di tempat yang mudah dilihat&lt;br /&gt;atau mudah dibawa-bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya, Lembar Visi Peran dibuat dalam kertas yang cukup besar mudah dibaca. Tempel lembar visi peran Anda di tempat yang mudah dilihat. Misalnya, pada dinding kamar, dekat cermin atau di balik lemari pakaian. Lembar visi juga bisa ditulis pada kertas kecil agar mudah di bawa-bawa. Misalnya, dapat mudah disimpan dalam dompet atau tas Fungsi visi peran yang mudah dilihat atau dibawa-bawa adalah agar Anda selalu ingat dengan visi Anda. Setiap pagi sebelum Anda beraktivitas lilahatlah dan baca kembali visi peran Anda. Semakin sering Anda membaca dan mengingat-ingat visi peran Anda, semakin menyerap visi Anda dalam pikiran bawah sadar Anda. Semakin terserap di alam bawah sadar Anda, tanpa Anda sadari, semakin terkendali gerak hidup Anda menuju ke arah pencapaian visi peran. Hal ini karena, menurut penelitian, sebagian besar pola hidup dan kebiasaan kita sebenarnya dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar kita, bukan oleh pikiran sadar kita m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan IV:&lt;br /&gt;Membuat Rencana Pekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu adalah kehidupan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hasan Al Banna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiba saatnya bagi Anda untuk merealisasikan apa yang tela dibuat! Anda telah memiliki komitmen manajemen waktu dengan metode Breaking The Time dengan membuat pernyataan misi, peran, dan visi peran Anda. Komitmen itu tak ada gunanya jika tidak ada upaya untuk mencapainya. Pada tahapan ini, Anda akan mendapatkan manfaat tentang bagaimana cara menjabarkan visi peran dalam rencana pekanan.&lt;br /&gt;Mengapa perlu menjabarkan visi peran dalam rencana pekanan? Bukan rencana bulanan atau langsung kepada rencana harian? Hal ini karena visi peran merupakan sasaran jangka panjang, sehingga perlu ada sasaran jangka menengah. Rencana pekanan merupakan sasaran jangka menengah yang lebih cocok digunakan daripada rencana bulanan. Sebab rentang waktu rencana bulanan terlalu panjang, sehingga sulit mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran. Sedang rencana pekanan rentang waktunya tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu sempit, sehingga cukup efektif untuk mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran. Jika visi peran langsung dituangkan dalam rencana harian, maka tidak ada sasaran jangka menengah sebagai arah yang merupakan perantara sasaran jangka panjang (rencana harian). Sebenarnya dengan membuat rencana pekanan berarti Anda telah serius menyesuaikan waktu dengan apa yang menurut Anda penting. Visi peran menggembarkan apa yang menurut Anda penting. Jadi mengatur waktu pekanan berarti menyesuaikan waktu Anda dengan pencapaian visi peran. Persoalan pengaturan waktu mulai muncul ketika Anda tidak laggi menggunakan waktu sesuai dengan visi peran, sehingga membiarkan waktu berjalan tanpa arah yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai pada cara membuat rencana pekanan, kita perlu mengetahui tiga sifat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Waktu tidak dapat diganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu akan terus berjalan, tanpa ada yang dapat menghentikannya. Waktu bagaikan air yang terus mengalir menuju muara. Di mana setiap orang mempunyai ‘muaranya’ masing-masing. Pada ‘muara’ itulah kehidupan seseorang berakhir dan menemui ajalnya. Kita tidak tahu kapan waktu hidup kita berakhir. Namun yang jelas setiap orang mempunyai jatah waktu berbeda-beda. Ada yang singkat, ada pula yan panjang, tergantung jatah umur yang disediakan Tuhan kepadanya. Jatah waktu itu akan terus berlalu tanpa peduli apakah diisi dengan aktivitas yang penting atau tidak.&lt;br /&gt;Jika Anda membiarkan waktu berjalan tanpa aktivitas yang sesuai dengan misi hidup berarti Anda telah menyia-nyiakan waktu. Anda tak dapat mengganti waktu yang telah Anda sia-siakan itu dengan waktu yang lain. Anda merugi karena telah membiarkan salah satu modal kehidupan Anda berlalu tanpa ada hasil bagi masa depan Anda. Biasanya yang timbul hanyalah penyelesaian di kemudian hari. Penyesalan yangtak ada gunanya, karena waktu tak dapat diganti oleh apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Waktu dapat melenakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu tanpa terasa. Banyak orang yang merasa hidupnya amat singkat. Masa kecil yang sudah puluhan tahun ditinggalkannya terasa seperti baru kemarin. Begitu pula masa remaja dan masa dewasa terasa berlalu amat cepat. waktu memang melenakan. Ia membuat orang lupa bahwa waktu terus berjalan menuju batasnya, dan ketika batas itu tiba tak dapat seorang pun yang dapat mengundurkannya walau sedetik. Ketika itulah mungkin kita baru menyadari bahwa waktu itu ada dan sangat berharga. Namun ini adalah kesadaran yang terlambat dan penyesalan yang tak ada guna. Karena itu, sejak dini Anda perlu menyadari bahwa waktu dapart membuat Anda terlena dan membiarkannya berlalu dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Waktu adalah momen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu merupakan kesepatan yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Para pakar sejarah memperkirakan, jika para pendiri negara Indonesia tidak memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 mungkin sampai saat ini bangsa Indonesia masih dijajah. Jika Amerika tidak membom atom Hiroshima dan Nagasaki pada 15 Agustus 1945 mungkin Perang Dunia II akan berlangsung lebih lama lagi. Dalam dunia bisnis dikenal istilah waktu adalah uang. Maksudnya adalah bahwa setiap peluang harus diambil dengan cepat. kalau tidak, akan segera diambil oleh pesaing. Begitu pula dalam dunia militer, penyerangan terhadap musuh harus diatur waktunya sedemikian rupa, sehingga hal itu merupakan momen yang tepat untuk memperleh kemenangan. Jadi waktu adalah momen. Kesempatan emas yang belum tahu tentu terulang lagi.&lt;br /&gt;Kehidupan setiap manusia juga terdiri dari momen-momen yang seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Ada orang yang menyia-nyiakan masa mudanya tanpa belajar. padahal mada muda adalah momen untuk belajar. Ada juga orang yang menyia-nyiakan bakatnya dengan tetap bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan bakatnya. Akhirnya, ia menyia-nyiakan bakatnya yang sebetulnya dapat mengubah taraf hidupnya.&lt;br /&gt;Orang yang mampu mengatur waktu seharusnya jeli memanfaatkan setiap momen dalam hidupnya. Ia jeli mengambil setiap peluang yang ada dan menggunakannya untuk keberhasilan hidupnya. Sebaliknya orang yang kurang mampu mengatur waktu akan sering menyia-nyiakan momen dalam hidupnya, sehingga momen tersebut terbuang percuma. Padahal ia merupakan peluang emas yang mungkin tidak dapat terulang kembali di waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT WAKTU&lt;br /&gt;TIDAK DAPAT DIGANTI&lt;br /&gt;MOMEN&lt;br /&gt;MELENAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 15. Sifat Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan waktu yang buruk menunjukkan bahwa kita tidak mampu menyesuaikan antara waktu dengan misi dan visi peran kita. Ketidakmampuan menyesuaikan waktu dengan misi berarti menelantarkan nilai-nilai yang kita anggap penting. Sedang ketidak&lt;br /&gt;mampuan menyesuaikan waktu dengan visi peran berarti kita tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Kita tidak akan memperoleh apa-apa yang berarti dalam kehidupan ini. Padahal orang yang sukses dan berhasil adalah orang-orang yang melakukan aktivitas yang berarti dan bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang merupakan indikasi dari pengaturan waktu yang buruk tampak dari beberapa kebiasaan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Sebagian besar jadwal waktunya&lt;br /&gt;ditentukan oleh orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kurang mampu mengatur waktu akan mengisi sebagian besar waktunya dengan janji dan rencana orang lain, sehingga waktu yang diatur sendiri oleh dirinya menjadi sangat berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Orang seperti ini hidup dengan program orang lain. Ia terjebak pada rutinitas menjemukan yang membuat ia sulit mengevaluasi apakah program dari orang lain itu sesuai atau tidak dengan misi hidupnya. Penentuan jadwal waktu oleh orang lain bisa saja ditolerir jika sesuai dengan misi hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Sering menghadiri acara-acara&lt;br /&gt;yang kurang penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang kurang penting adalah acara yang tidak sesuai dengan misi hidup atau kurang menunjang pencapaian visi peran kita. Banyak orang yang terjebak dengan acara yang kurang penting karena merasa tidak enak menolak ajakan orang lain atau karena tidak mampu memanfaatkan waktu luang, sehingga akhirnya waktunya dihabiskan untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan misi hidup atau pencapaian visi peran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Suka menunda-nunda pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari suka menunda-nunda pekerjaan adalah bertumpuknya pekerjaan pada suatu waktu, sehingga ketika ‘deadline’nya tiba, kita terburu-buru dalam mengerjakannya. Akhirnya, hasil pekerjaan itu tidak maksimal atau malah tidak selesai.&lt;br /&gt;Orang yang suka menunda-nunda pekerjaan biasanya karena menunggu perasaan mood (gairah) lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan. Padahal mood tidak datang sesuai kemauan kita, bahkan seringkali ia tidak muncul ketika kita inginkan. Karena itu tak perlu menunggu mood lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan, lakukan saja apa yan harus dilakukan. Malah seringkali mood itu datang justru ketika kita sedang melakukan suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Suka melakukan pekerjaan&lt;br /&gt;dalam kondisi mendesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang memiliki kebiasaan rampung bekerja karena dikejar deadline. Ia tidak bisa bekerja kecuali dalam kondisi terdesak. Kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Stres berkepanjangan dapat mengakibatkan berbagai penyakit jiwa dan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Terlalu banyak menghabiskan waktu&lt;br /&gt;untuk santai dan bersenang-senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersantai dan bersenang-senang bukanlah suatu hal yang tabu kita lakukan. Namun jika dilakukan tanpa perencanaan, kita akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bersenang-senang. Akibatnya waktu kita banyak terbuang untuk sesuatu yang kurang bermanfaat. Biasanya ini terjadi karena ‘balas dendam’. Setelah selesai melakukan pekerjaan yang urgen (mendesak) dan mengurus tenaga, kita lalu ‘balas dendam’ dengan bersantai sepuas mungkin. Karena itu, hindari sebanyak mungkin bekerja dalam situasi urgen agar tidak ‘balas dendam’ dengan bersantai sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Sering merasa terlalu sibuk&lt;br /&gt;dan kekurangan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan terlalu sibuk dan kekurangan waktu hanya akan dialami oleh mereka yang tak mampu mengatur waktunya dengan baik. Orang yang tidak mengatur waktunya tak akan tahu mana pekerjaan penting yang harus dilakukan dan mana pekerjaan yang tidak penting yang tidak perlu dilakukannya. Akibatnya ia akan merasa terlalu banyak yang harus dilakukannya dan tak sebanding dengan waktu yang tersedia. Karena itu wajar jika ia merasa terlalu sibuk dan kekurangan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ð&lt;br /&gt;Sering merasa bersalah karena tak mampu&lt;br /&gt;menyelasaikan suatu pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering merasa bersalah karena belum melaksanakan apa yang mesti dilakukan merupakan dampak dari pengatuan waktu yang buruk. Perasaan ini biasanya muncul dalam bentuk penyesalan. Menyesal karena tidak melakukannya dari dulu, menyesal karena terlalu banyak membuang waktu untuk kagiatan yang tidak bermanfaat, dan menyesal karena menyia-nyiakan peluang dan kesempatan. Hingga akhirnya merasa dirinya tidak banyak kemajuan atau gagal meraih cita-cita yang diharapkannya, padahal umur semakin bertambah dan jatah waktu hidup semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ñ&lt;br /&gt;Banyak masalah yang tertunda&lt;br /&gt;penyelesaiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak mampu mengatur waktu akan banyak menunda pekerjaan yang mestinya dilakukan. Menunda pekerjaan pada hakikatnya menumpuk masalah, sehingga masalah semakin bertambah dan semakin sulit untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ò&lt;br /&gt;Sering bingung&lt;br /&gt;dalam mengambil keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logis dariorang yang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik adalah bingung dengan prioritas pekerjaanya. Mana yang harus lebih dulu dilakukan dan mana yang dapat ditunda. Wajar saja akhirnya ia bingung mengambil keputusan, karena bagaimana ia dapat mengambil keputusan dengan baik jika menentukan prioritas pekerjaan saja sudah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ó&lt;br /&gt;Produktivitas kerja&lt;br /&gt;berkurang atau tidak efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan waktu yang buruk berdampak pada produktivitas kerja. Ini disebabkan karena terbiasa melakukan pekerjan dalam kondisi terburu-buru dan terdesak, sehingga hasilnya tanggung dan kurang berkualitas. Atau karena salah menentukan tingkat kepentingan pekerjaan itu sendiri, sehingga produktifvitasnya tidak sesuai dengan yang diharapkan (tidak efektif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering melakukan pekerjaan&lt;br /&gt;secara tidak efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dampak selanjutnya dari pengaturan waktuyang buruk adalah tidak efisien dalam bekerja. Terlalu banyak sumber daya yang dihabiskan daripada hasil yang diperoleh. Salah satunya karena melakukan pekerjaan dalam kondisi terburu-buru, biasanya dalam situasi seperti itu akan banyak tenaga dan biaya yang terkuras lebih dari semestinya.&lt;br /&gt;Jika indikasi di atas sering dialami berarti Anda perlu waspada. Sebab kemungkinan besar Anda mengalami problem mengatur waktu (manajemen waktu). Jika Anda tidak segera memperbaikinya dengan cara mengatur kembali waktu Anda, maka Anda akan mengalami dampak dari pengaturan waktu yang buruk, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Menimbulkan rasa stress dan bersalah;&lt;br /&gt;2.      Mengabaikan apa yang penting dan bermakna dalam hidup;&lt;br /&gt;3.      Selalu terburu-buru, sehingga memprioritaskan jadwal daripada hubungan;&lt;br /&gt;4.      Kurang luwes dan spontan;&lt;br /&gt;5.      Tidak mempunyai waktu untuk pengembangan diri;&lt;br /&gt;6.      Terjebak pada berbagai masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi; dan&lt;br /&gt;7.      Tidak sukses mencapai tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari diri dari berbagai dampak pengaturan waktu yang buruk, Anda perlu menjaga agar sebagian besar aktivitas Anda selalu sesuai dengan misi hidup dan visi peran Anda serta tidak dikerjakan dalam kondisi mendesak. Perhatikan matrk manajemen berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai Misi Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai Visi Peran&lt;br /&gt;Mendesak&lt;br /&gt;Tidak Mendesak&lt;br /&gt;I.                     Hindari sebisa mungkin (Jangan dibiasakan)&lt;br /&gt;II.                   Lakukan sekarang juga (proaktif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Sesuai Visi Peran&lt;br /&gt;III.                 Delegasikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.                 Lakukan jika ada peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sesuai Misi Hidup dan Visi Peran&lt;br /&gt;V.                   Berani berkata “tidak”&lt;br /&gt;VI.                 Jangan lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 16. Matrik Manajemen Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Matrik Manajemen Waktu, terlihat enam kuadran waktu. Kuadran waktu I adalah aktivitas yang mendesak dan sesuai misi hidup sekaligus sesuai visi peran. Kuadran Waktu II adalah aktivitas tidak mendesak dan sesuai misi hidup sekaligus sesuai visi peran. Kuadran waktu III adalah aktivitas mendesak yang sesuai misi hidup, tapi tidak sesuai visi peran. Kuadran waktu IV adalah aktivitas yang tidak mendesak dan sesuai misi hidup, tapi tidak sesuai visi peran. Kuadran waktu V adalah aktivitas yang mendesak tapi tidak sesuai misi hidup sekaligus tidak sesuai dengan visi peran. Kuadran waktu VI adalah aktivitas yang tidak mendesak dan tidak sesuai misi hidup sekaligus tidak sesuai dengan visi peran.&lt;br /&gt;Jika dicermati kuadran waktu terbaik adalah kuadran II, kuadran yang bisa membuat kita mencapai misi hidup dan dapat menjalankan peran dengan baik. Kuadran yang perlu dilakukan sekarang juga secara proaktif, tanpa menunggu mood dan tanpa perlu menghindari kita dari stres dan penyesalan, serta membawa kita kepada kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Anda perlu berupaya agar waktu Anda lebih banyak berada pada kuadran II.&lt;br /&gt;Sedang kuadran IV adalah kuadran yang memungkinkan fleksibilitas dan peluang. Anda bisa juga menggunakan waktu Anda di kuadran tersebut sebagai prioritas kedua. Kuadran IV adalah kuadran yang memungkinkan Anda mengembangkan diri secara mental, spiritual, sosial, dan fisik. Kuadran yang memungkinkan Anda ‘keluar’ dari jadwal tanpa merasa bersalah karena Anda masih berada pada misi hidup Anda.&lt;br /&gt;Untuk kuadran lainnya, Anda perlu bersikap sesuai dengan yang disebutkan pada matrik. Misalnya, untuk aktivitas yang termasuk kuadran I hindari sebisa mungkin. Untuk kuadran III, delegasikan ke orang lain. Kuadran V, Anda harus bernai berkata ‘tidak’. Sedang kuadran VI, jangan Anda lakukan walau betapa besar godaannya.&lt;br /&gt;Memang tak mungkin kita menghilangkan sama sekali aktivitas kuadran I, III, V dan VI karena hal itu pasti terjadi. Namun kita harus berupaya dengan disiplin yang tinggi untuk memperbanyak waktu kita di kuadran II (atau paling tidak kuadran IV). Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan waktu di kuadran II adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Jangan menunda-nunda melakukan pekerjaan:&lt;br /&gt;2.      Dahulukan tindakan pencegahan (preventif) daripada tindakan kuratif (pengobatan);&lt;br /&gt;3.      Hati-hati dengan waktu luang di antara dua waktu sibuk yang acapkali melenakan;&lt;br /&gt;4.      Sempatkan membuat perencanaan, walau sederhana; dan&lt;br /&gt;5.      Sempatkan melakukan evaluasi dan instrospeksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi dari Matrik Manajemen Waktu dapat terlihat dari cara Anda melakukan aktivitas pekanan. Agar aktivitas pekanan Anda lebih banyak berada di kuadran II, sebagai kuadran terbaik, Anda perlu membuat rencana pekanan. Untuk itu, Anda perlu mempunyai Lembar Waktu Pekanan seperti Gambar 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan ke:&lt;br /&gt;Ahad&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Rabu&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt;Jum’at&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt;PRIORITAS PEKANAN&lt;br /&gt;Janji Temu / Komitmen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas Hari Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR KERJA PEKANAN&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 17. Lembar waktu pekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar Waktu Pekanan (seperti Gambar 17) perlu diisi dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Isi pada kolom Peran berbagai peran Anda sesuai dengan Lembar Visi Peran.&lt;br /&gt;2.      Isi aktivitas untuk pencapaian visi peran Anda di kolom Janji. Namun jika Anda belum mengetahui waktunya secara pasti isi pada kolom Prioritas Hari Ini atau Prioritas Pekan Ini. Prioritas Hari Ini adalah hal-hal yang harus Anda kerjakan dalam sehari tapi Anda belum mengetahui pasti jadwalnya. Sedangkan Prioritas Pekan Ini adalah hal-hal yang harus Anda lakukan dalam sepekan, tapi Anda belum mengetahui pasti kapan hari mengerjakannya.&lt;br /&gt;3.      Pada waktu mengisi aktivitas yang sesuai visi peran. Nomori aktivitas tersebut dengan nomor peran yang terdapat pada kolom Peran.&lt;br /&gt;4.      Sebaiknya semua peran ada aktivitasnya dalam Lembar Waktu Pekanan. Namun jumlah aktivitasnya belum tentu sama. Biasanya peran-peran utama akan mendapatkan jatah waktu yang lebih banyak daripada peran pembantu. Misalnya, peran sebagai karyawan jumlah waktunya akan lebih banyak daripada peran sebagai warga masyarakat.&lt;br /&gt;5.      Untuk menjaga agar Anda dapat memenuhi berbagai tugas dan tanggung jawab, idealnya setiap peran ada aktivitasnya dalam Lembar Waktu Pekanan. Jika ada peran yang tidak ada aktivitasnya dalam Lembar Waktu Pekanan hal itu hanya dapat ditolerir untuk sementara. Upayakan agar dalam Lembar Waktu Pekanan pekan selanjutnya peran tersebut ada aktivitasnya. Toleransi untuk tidak melaksanakan suatu peran dalam sepekan adalah relatif. Jika hal itu termasuk peran utama maka tidak boleh terlalu lama. Jika termasuk peran pembantu maka tergantung dari sejauh mana tuntutan terhadap peran teersebut. Namun hindari ada peran yang sama sekali tidak ada aktivitasnya selama jangka waktu pencapaian visi peran.&lt;br /&gt;6.      Upayakan agar Lembar Pekanan Anda tidak seluruhnya terisi dengan aktivitas. Beri ruang kosong antara satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Hal ini untuk menjaga kemungkinan adanya aktivitas Kuadran IV (aktivitas berdasarkan peluang, aktivitas pengembangan diri dan membina hubungan).&lt;br /&gt;7.      Aktivitas padaLembar Waktu Pekanan harus lebih banyak aktivitas Kuadran II, bukan kuadran lainnya. Jika Anda terpaksa membuat janji untuk aktivitas kuadran lainnya batasi agar jangan terlalu banyak.&lt;br /&gt;8.      Lembar Waktu Pekanan sebaiknya diisi tiap pekan (hariyang dianjurkan adalah hari ahad malam atau senin pagi). Evaluasi lembar Waktu Pekanan untuk pekan lalu. Evaluasi mana yang belum. Jika belum, evaluasi apa sebabnya. Kemudian isi Lembar Waktu Pekanan untuk pekan ini yang dibutuhkan untuk mengisi Lembar Waktu Pekanan hanya 15-30 menit. Luangkan waktu Anda untuk mengisinya. Karena hal itu akan mengarahkan Anda kepada pencapaian visi peran secara berangsur-angsur m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita lihat, bagaimana Ahmad Saputra mengisi Lembar Waktu Pekanannya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan ke:&lt;br /&gt;Ahad&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Rabu&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt;Jum’at&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt;PRIORITAS PEKANAN&lt;br /&gt;Janji Temu / Komitmen&lt;br /&gt;- Membuat Modul         Á&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;   Pelatihan&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Ceramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;- Membuat Proposal     Å&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Ceramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;   Program ‘No Drugs’&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Ceramah&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kliping Artikel           Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Instruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Instruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Instruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim tetangga    Ã&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak    Â&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak    Â&lt;br /&gt;Bersama anak    Â&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian RemajaÅ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut Æ pengajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut Æ pengajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas Hari Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Baca buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Breaking The Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia normal, kita pasti berharap hidup sukses. Tidak ada seorang pun di antara kita yang ingin hidupnya gagal. Namun bagai pepatah yang mengatakan “tak ada kesuksesan tanpa usaha”, kesuksesan bukanlah satu hal yang datang tiba-tiba. Ia datang kepada kita melalui jalan keteguhan, kecerdikan dan ketekunan.&lt;br /&gt;Tak, mungkin kita memanen tanaman tanpa adanya kemauan untuk menanamnya lebih dahulu. Kemudian mengetahui cara menanam yang benar dan sabar memeliharanya. Sukses dalam hidup merupakan hasil panen dari ‘bibit’ usaha yang kita tanam, Anda tak mungkin mengingkari ‘hukum tanaman’ itu. itulah hukum alam (sunnatullah) yang tak akan berubah sepanjang jaman.&lt;br /&gt;Jika Anda ingin berhasi dengan jalan pintas, misalnya memasang lotere, berjudi atau usaha spekulatif lainnya, Anda mungkin akan sukses. Kesuksesan itu adalah kesuksesan semu. Yang mudah datang dan hilang. Bahkan mungkin hilangnya kesuksesan itu disertai penderitaan berkepanjangan. Anda tentu tak menginginkan hal tersebut terjadi pada diri Anda bukan?&lt;br /&gt;Buku ini memberikan panduan kepada Anda bagaimana cara mencapai sukses yang Anda idamkan dengan cara mengelola waktu Anda dengan lebih baik lagi. Dengan penjelasan yang mudah dan praktis, buku ini menjelaskan secara berurutan langkah-langkah sederhana untuk mencapai keberhasilan. Keberhasilan yang bukan hanya bersifat parsial dan material, tapi juga bersifat integral (menyeluruh) dan spiritual (ruhani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak buku yang membahas bagaimana cara mengatur waktu. Lalu apa kelebihan buku ini dibandingkan buku lain yang sejenis? Buku ini bukan hanya membahas tentang mengatur waktu, tapi juga tentang ‘menerobos’ waktu (Breaking The Time). Membahas bagaimana agar Anda menguasai waktu, bukan dikuasai waktu. ‘Menghancurkan’ penjara waktu yang mengekang dan membuat Anda ‘bebas’ serta tidak merasa bersalah dengan pengaturan waktu. Justru merasa nyaman dan&lt;br /&gt;lapang dengan waktu Anda, walau sesibuk apapun. Inilah metode Breaking The Time (‘menerobos’ waktu), yang berbeda dengan cara pengaturan waktu yang biasa Anda ketahui.&lt;br /&gt;Metode Breaking The Time ini disusun berdasarkan bukti kongkrit di lapangan, bukan sekadar teori belaka. Dirancang agar mudah dipahami dan praktis untuk digunakan oleh siapapun.&lt;br /&gt;Jika Anda pernah membaca buku sejenis, buku ini akan memberikan petunjuk pelaksanan dalam menerapkan semua teori tentang cara mengatur waktu yang pernah Anda dapatkan. Teori hanya tinggal teori, jika tak tahu bagaimana cara mewujudkannya. Buku ini menjawab ‘kebingungan’ Anda. Mengajak Anda mengurai ‘benang kusut’ teori-teori itu dan menunjukkan langkah praktis satu demi satu untuk menuju kesuksesan hidp melalui pengaturan waktu yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Anda pernah gagal dalam menggapai keinginan. Buku ini akan memberikan motivasi baru untuk memulainya kembali, serta menunjukkan jalan yang lebih mudah dalam melakukannya. Jadikan buku ini sebagai panduan dalam menjabarkan semua ide dan  keinginan&lt;br /&gt;ke langkah yang nyata. Anda mungkin belum mengetahui sebelumnya, bahwa ada cara yang mudah diingat dan sederhana untuk dilakukan dalam mengatur waktu demi mencapai sebagian besar keinginan Anda.&lt;br /&gt;Jadikan buku ini sebagai panduan dalam memjabarkan semua ide dan keinginan ke langkah yamg nyata . Anda mungkin belum mengetahui sebelumnya, bahwa ada cara yang mungkin diingat dan sederhana untuk dilakukan dalam mengatur waktu demi mencapai sebagaian besar keinginan Allah.&lt;br /&gt;Buku initerutama ditunjikan untuk para aktivis dan mereka yang sibuk yang ingin mengatur waktunya secara lebih baik lagi. Tapi secara umum, setiap orang yang ingin merahi sukses hendaknya membaca buku ini. Mahasiswa, pelajar, karyawan, pengusaha, kaum perofesional maupun aktivis organisasi dan dakwah dapat menjadikan buku ini sebagai rujukan untuk pengarahan aktivitas mereka agar tetap menuju keberhasilan.&lt;br /&gt;Buku ini juga cocok bagi mereka yang telah sukses dan ingin mempertahankan kesuksesanya. Juga untuk orang yang pernah gagal dan ingin memperbaiki kegagalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang sibuk atau merasa kekurangan waktu, buku ini akan membantu mereka terampil mengatur waktu, sehingga menjadi efisein dan efektif. Bagi para manajer, supervisor, konsultan, pembimbing atau pengajar, buku ini akan memberi manfaat tentang&lt;br /&gt;bagaimana mengajari orang yang berada di bawah tanggung jawabnya dalam menerapkan cara-cara mengatur waktu guna mencapai tujuan pribadi maupun organisasi.&lt;br /&gt;Anda bisa menggunakan buku ini pada tahap manapun dalam kehidupan Anda. Bagi yang masih belia akan sangat baik untuk memulai mempelajari buku ini dari awal. Sedang yang telah ber ‘umur’ mungkin dapat langsung membaca bagian-bagian yang dirasa masih perlu perbaikan.&lt;br /&gt;Buku ini sangat tepat jika membacanya pada saat kita perlu mengoreksi cita-cita atau tujuan hidup kita. Atau saat kita akan mengevaluasi langkah-langkah yang kita lakukan untuk mencapai cita-cita kita. Jika ingin lebih merasakan manfaatnya, Anda perlu mempraktekkan langsung apa yang ada pada buku ini. Praktek adalah kunci untuk merasakan manfaat sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan mengatur waktu (manajemen waktu)? Manajemen waktu adalah suatu keterampilan dalam mengatur waktu agar berhasil mencapai cita-cita atau tujuan hidup positif yang dikehendaki. Jika tujuan hidup positif telah tercapai berarti&lt;br /&gt;Anda telah menjadi orang yang sukses. Sebab orang yang sukses adalah orang yang berhasil mencapai tujuan hidup positif yang dikehendakinya.&lt;br /&gt;Di sekitar kita, ada empat macam orang. Orang yang tidak tahu tujuan hidupnya, orang yang tahu tujuan hidupnya tapi tak tahu bagaimana cara mencapainya, orang yang tahu tujuan hidupnya dan tahu bagaimana cara mencapainya, serta orang yang tahu tujuan hidup yang benar dan tahu bagaimana cara mencapainya. Termasuk manakah Anda?       &lt;br /&gt;Di kelompok manapun, Anda jelas membutuhkan keterampilan mengatur waktu (Time Management). Bahkan jika direnungkan, keterampilan mengatur waktu lebih utama untuk dipelajari daripada ketrampilan atau keahlian yang bersifat sektoral, seperti keterampilan di bidang komputer, arsitektur, kedokteran, ekonomi, dan sebagainya. Sebab jika keterampilan sektoral hanya mengelola satu aspek dari kehidupan manusia yang kompleks, keterampilan manajemen waktu justru mengelola seluruh aspek kehidupan manusia agar tercapai keseimbangan dan keselarasan.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, keterampilan mengatur waktu kerap dianggap sepele. Barangkali karena anggapan bahwa keterampilan mengatur waktu akan bisa dengan sendirinya melalui pengalaman hidup, sehingga tak perlu dipelajari. Atau anggapan bahwa mengatur waktu dapat berarti merubah kebiasaan yang sudah bertahun-tahun dilakukan, sehingga sulit untuk dilaksanakan. Atau mungkin juga ada anggapan hidup setiap manusia sudah merupakan takdir yang tak dapat diubah, sehingga tak perlu susah payah mengaturnya.&lt;br /&gt;Semua anggapan tersebut tentu saja keliru karena seperti keterampilan lain yang dapat dipelajari, keterampilan manajemen waktu juga dapat dipelejari dan dilakukan. Jadi masalahnya terletak pada kemauan. Maukah Anda untuk menata hidup lebih baik lagi? Maukah Anda mencapai cita-cita yang Anda inginkan? Maukah Anda hidup secara seimbang dan selaras, sehingga memperoleh ketenangan dan kepuasaan batin? Maukah Anda bangkit kembali setelah gagal? Jika jawabannya, ya. Berarti Anda membutuhkan buku ini untuk membantu Anda menata kembali kehidupan Anda.&lt;br /&gt;Beberapa manfaat yang didapatkan jika Anda terampil mengatur waktu, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Anda menjadi mantap dan semangat&lt;br /&gt;untuk menjalani hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu apa dan bagaimana cara mengisi hidup ini. Anda tidak mudah bingung dan terombang-ambing dalam mengambil keputusan. Sebab Anda tahu mau ke mana Anda melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Anda dapat hidup&lt;br /&gt;secara seimbang dan selaras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang yang perlu Anda layani akan terpenuhi secara cukup. Tidak ada lagi ketidakseimbangan antara pekerjaan dan keluarga. Atau antara kebutuhan fisik dan ruhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Anda dapat mencapai cita-cita&lt;br /&gt;atau tujuan hidup yang Anda kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Anda telah melakukan perencanaan untuk dapat meraihnya. Merencanakan adalah setengah dari keberhasilan Anda untuk mencapai apa yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Anda akan termotivasi untuk melakukan&lt;br /&gt;apa yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda telah memilih tujuan hidup yang Anda sukai dan Anda telah merencanakannya sendiri. Semua itu akan menantang Anda untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Anda akan dapat memanfaatkan waktu&lt;br /&gt;dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Anda akan berlalu secara produktif. Anda tak akan menyesali waktu yang telah berlalu di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Anda akan terhindar dari keletihan kronis dan&lt;br /&gt;stres yang dapat berakibat pada gangguan&lt;br /&gt;psikologis dan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan kegiatan membuat Anda terhindar dari keterdesakan waktu dan dari jebakan kegiatan yang tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ð&lt;br /&gt;Anda menjadi orang&lt;br /&gt;yang lebih percaya diri dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda akan lebih bersungguh-sungguh untuk meraih masa depan tanpa sikap pesimis. Kepercayaan diri dan kreativitas merupakan modal untuk meraih kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ñ&lt;br /&gt;Anda tak lagi kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Anda penuh dengan pengalaman beragam bersama orang lain. Anda akan menjadi orang yang suka bekerjasama dan bersosialisasi. Walaupun Anda dapat melakukan segala sesuatu sendirian, tapi Anda tahu hasil yang lebih besar akan Anda dapatkan jika bersinergi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatur waktu dengan metode Breaking The Time, ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Tahapan tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Membuat Misi;&lt;br /&gt;2.      Menentukan Peran;&lt;br /&gt;3.      Membuat Visi Peran;&lt;br /&gt;4.      Membuat rencana Pekanan; dan&lt;br /&gt;5.      Membuat Rencana Harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tahapan Breaking The Time tersebut sebaiknya Anda pelajari dan praktekkan dengan sungguh-sungguh. Sebab masing-masing tahapan tersebut saling melengkapi dan saling menguatkan satu sama lain m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat Misi&lt;br /&gt;Menentukan Peran&lt;br /&gt;Membuat Visi Peran&lt;br /&gt;Membuat Rencana Pekanan&lt;br /&gt;Membuat Rencana Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 3&lt;br /&gt;Model Breaking The Time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan I&lt;br /&gt;Membuat Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana yang sesungguhnya dari dunia ini ialah&lt;br /&gt;yang memberimu kemuliaan diri”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ali bin Abu Thalib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengendalikan waktu dengan metode Breaking The Time dimulai dari pembuat misi. Sebab misi menjawab pertanyaan yang paling mendasar dari keberadaan kita di dunia. Siapa sebenarnya kita? Dan apa maksud keberadaan kita di dunia? Setiap orang mungkin saja mempunyai jawaban berbeda-beda. Namun apa pun jawabannya, sadar atau tidak, mencerminkan misi hidup Anda.&lt;br /&gt;Istilah misi sebetulnya lebih populer dalam dunia bisnis dan manajemen. Perusahaan-perusahaan maju menjadikan misi sebagai ‘jiwa’ yang mewarnai tindakan dan pengambilan keputusan mereka. Misi dalam bisnis diartikan sebbagai maksud utama yang unik yang menggambarkan produk atau jasa utama dari perusahaan, segmen pasar yang diambil, dan ruang lingkup yang ditekankan agar dapat bersaing dengan perusahaan sejenis.&lt;br /&gt;Namun sebenarnya misi bukanlah monopoli dunia bisnis dan manajemen. Misi dapat digunakan dalam semua bidang, baik dalam lingkup kelompok maupun individu.&lt;br /&gt;Ketika misi digunakan dalam lingkup individu, misi berarti kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh seseorang. Ini mencakup seluruh nilai-nilai yang membentuk sifat, sikap, dan perilaku seseorang. Baik nilai yang berasal orang tua, keluarga, budaya, bangsa, mmaupun agama. Baik nilai-nilai yang mempengaruhi seseorang di masa lalu, kini maupun di masa depan. Pendek kata, misi adalah azas dari setiap pribadi. Misi merupakan intisari dari seluruh nilai-nilai yang mempengaruhi pola pikir dan perasaan seseorang. Misi adalah dasar kepribadian seseorang.&lt;br /&gt;Seberapa penting misi bagi kehidupan kita? Sadar atau tidak, misi sangat mempengaruhi kehidupan kita. Semua tindakan dan keputusan kita dipengaruhi olehnya. Jika hidup ini berarti memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, maka misilah yang menuntun kita untuk menentukan pilihan tersebut.&lt;br /&gt;Namun sayangnya, tak semua orang tahu bahwa ia memiliki misi hidup tertentu. Jika ditayangkan apa misi hidupnya? Biasanya ia tak dapat menjawabnya dengan pasti. Jawaban seperti, “Aku tak tahu apa misi hidupku. Bagiku hidup ini mesti dijalani apa adanya”, atau “Bagiku hidup ini bagai air yang mengalir saja”, menunjukkan ketidaktahuannya tentang misi hidup.&lt;br /&gt;Bahkan mereka yang sadar memiliki misi hidup tertentu kadangkala tak tahu apakah misi hidupnya itu baik atau tidak. Apakah misi tersebut dapat membantu mereka untuk sukses dalam hidup atau tidak? Namun yang jelas adalah bahwa setiap manusia pasti memiliki misi hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, misi hidup dan dua macam yakni misi hidup positif dan negatif. Misi hidup positif adalah misi hidup yang luhur. Misi&lt;br /&gt;hidup yang dipengaruhi oleh nilai-nilai prinsip, seperti kebaikan, kejujuran, keadilan, kedamaian, kesetiaan, keselamatan, kesejahteraan, ketentraman dan kebahagiaan. Nilai-nilai tersebut berlaku universal dan abadi.&lt;br /&gt;Sebaliknya misi hidup negatif adalah misi yang dipengaruhi oleh nilai-nilai hedonis dan semu, seperti kedustaan, kelicikan, kezaliman, kesewenangan, kejahatan, kekikiran, keegoisan, dan ketidaksetiaan. Mungkin orang yang bersangkutan sendiri tidak menyadari bahwa misi hidupnya negatif. Namun orang lain cepat mengetahuinya, biasanya orang yang bermisi negatif terlihat pada cara-cara yang mereka gunakan dalam mencapai tujuan yaitu menghalalkan segala cara.&lt;br /&gt;Orang yang misi hidupnya negatif akan mengejar berbagai keinginan yang bersifat kepuasan nafsu pribadi, tanpa mempedulikan orang lain. Orientasi hidupnya diarahkan untuk mendapatkan berbagai hal yang bersifat semu dan materi. Ia mengejar sesuatu yang sebetulnya tak akan mampu membuatnya tenang dan hidup bahagia, kecuali sesaat. Sesuatu itu dapat berupa harta, uang, kedudukan, pekerjaan, keluarga, golongan, teman, musuh, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Contoh orang yang misi hidupnya negatif adalah orang yang menggunakan kelicikan untuk mencapai keinginannya. Ia berlaku curang dan menipu untuk mencapai tujuan. Contoh lain adalah orang yang tidak setia. Berkata baik di depan seseorang, tapi di belakangnya sering menjelek-jelekkannya. Atau orang yang sering tidak konsisten dengan apa yang diucapkannya. Sering melanggar ucapan atau janjinya sendiri.&lt;br /&gt;Orang yang bermisi positif adalah orang yang berpegang pada prinsip-prinsip universal, seperti kebaikan, kejujuran, kesetiaan dan keadilan. Nilai-nilai tersebut berlaku dan diakui oleh seluruh manusia normal di seluruh dunia. Biasanya nilai-nilai tersebut juga merupakan norma dalam masyarakat beradab yang diajarkan secara turun temurun.&lt;br /&gt;Jika kita renungkan, nilai-nilai universal tersebut sesungguhnya berasal dari Allah Yang Maha Esa. Allah mengajarkan nilai-nilai luhur tersebut melalui para rasul-Nya. juga melalui hati nurani (fithrah) yang selalu mengajak kita ke arah kebaikan. Nilai-nilai universal ini melingkupi nilai-nilai yang bersifat semu. Artinya jika kita berpegang teguh pada nilai-nilai universal, kita bukan hanya mendapatkan kebahagiaan jiwa tapi juga kenikmatan materi.&lt;br /&gt;Sayangnya bagi sebagian orang, berpegang teguh pada nilai-nilai universal dianggap sulit. Banyak godaan dan cobaan yang menghadang sehingga membuat mereka, secara sadar atau tidak, lebih memilih misi hidup negatif. Yakni misi yang nilai-nilainya cenderung egois dan destruktif bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Positif Mendorong ke Luar Misi negatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 5&lt;br /&gt;Lingkaran Misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sadar tentang misi hidupnya tentu berbeda dengan orang yang&lt;br /&gt;tak tahu tentang misi hidupnya. Orang yang tahu misi hidupnya juga berbeda antara orang yang tahu apakah misi hidupnya positif atau negatif.&lt;br /&gt;Jika ingin terampil ‘menerobos’ waktu, Anda perlu menyadari apakah misi hidup Anda positif atau negatif. Untuk itu, beberapa ciri misi hidup yang positif di bawah ini akan dapat membantu Anda untuk mengidentifikasi apakah misi hidup Anda positif atau negatif:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Luhur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi hidup positif adalah misi yang luhur dan ideal. Misi yang bersumber pada nilai-nilai universal yang berasal dari Allah. Bukan bersumber pada nilai-nilai negatif yang destruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Fleksibel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi juga harus fleksibel. Tidak terlalu kaku, dan memberi ruang bagi perubahan-perubahan cara untuk mencapai tujuan. Misi yang tidak fleksibel membuat orang yang menyandang misi tersebut kehilangan kreativitasnya dalam menerjemahkan misi tersebut ke dalam langkah operasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi yang menarik berarti misi yang mampu memotivasi penyandangnya untuk senantiasa menjalankan dan mempertahankannya dalam berbagai situasi. Misi yang menarik juga bersifat optimistis dan menekankan harapan daripada kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Spiritual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritual di sini berarti misi bersifat non materi dan abstrak. Ia tak dapat diukur secara kuantitatif, hanya dapat dirasakan secara subyektif melalui pendekatan kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi harus jelek, sehingga mudah memahami dan menghayatinya. Misi yang jelas biasanya mengandung kata-kata yang tidak mempunyai makna ganda. Misi yang memakai kata-kata puitis mungkin menarik, tapi kadang kala sulit di mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi sebaiknya singkat dan padat. Dianjurkan hanya menggunakan satu kalimat. Jika terpaksa, boleh juga menggunakan beberapa kalimat, tapi sebaiknya tidak lebih dari tiga kalimat. Misi perlu dibuat singkat agar lebih mudah diingat dan dihafal.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat misi secara tertulis merupakan konsekuensi dari Breaking The Time. Misi harus tertulis agar lebih mudah diingat, dihafal, di mengerti dan dihayati. Misi yang tidak ditulis menunjukkan ketidaksungguhan dalam pembuatannya. Ketika memutuskan sebuah&lt;br /&gt;misi segera tuangkan dalam tulisan misi sebab dari sama akan segera tumbuh sebuah komitmen kuat dalam menjalankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA CARA MEMBUAT MISI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 1&lt;br /&gt;Menjawab enam unsur misi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan misi secara tertulis, sebaiknya mencakup jawaban dari berbagai unsur pertanyaan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Siapa saya&lt;br /&gt;2.      Mengapa saya ada?&lt;br /&gt;3.      Apa keunggulan/ kelebihan yang saya milik?&lt;br /&gt;4.      Untuk siapa saya bekerja?&lt;br /&gt;5.      Apa hasil/ produk dari pekerjaan saya?&lt;br /&gt;6.      Dimana saya mengerjakannya? (opsional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lihat contoh:&lt;br /&gt;Ahmad Saputra bekerja sebagai dosen Fakultas Psikologi pada sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Saat ini berusia 32 tahun, mempunyai seorang isteri dan 2 orang anak. Selain dosen, Ahmad juga sering berceramah dan mengisi pelatihan tentang prikologi serta pengembangan pribadi. Ia juga aktif dalam kegiatan pelayanan masyarakat. Di antaranya tercatat sebagai pengurus sebuah LSM psikologi remaja, pengurus kperasi serba usaha, dan pembina pengajian remaja di tempat tinggalnya. Ahmad dikenal sebagai orang yang aktif, kreatif, dan senantiasa optimis menatap masa depan. Ia juga sering menulis artikel di berbagai media massa ibukota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mempelajari buku ini, Ahmad bertekad untuk menata hidupnya lebih teratur. Ia perlu membuat misi hidupnya secara tertulis. Langkah pertama yang dilakukannya adalah mencoba menjawab secara spontan dan jujur enam pertanyaan unsur misi pada selembar kertas. Ahmad menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan&lt;br /&gt;Jawaban&lt;br /&gt;Siapa Saya?&lt;br /&gt;Makhluk ciptaan Allah&lt;br /&gt;Mengapa saya ada?&lt;br /&gt;Untuk berbuat baik&lt;br /&gt;Apa keunggulan/&lt;br /&gt;Kelebihan yang saya&lt;br /&gt;miliki?&lt;br /&gt;Berpendidikan,&lt;br /&gt;Ulet dan kreatif&lt;br /&gt;Untuk siapa saya&lt;br /&gt;Bekerja?&lt;br /&gt;Untuk masyarakat&lt;br /&gt;di sekitar saya&lt;br /&gt;Apa hasil/produk&lt;br /&gt;dari pekerjaan saya?&lt;br /&gt;Pemberdayaan&lt;br /&gt;orang lain&lt;br /&gt;Dimana saya&lt;br /&gt;Mengerjakannya?&lt;br /&gt;Di dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjawab pertanyaan mengenai misi, Anda perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Siapa saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban harus mencerminkan diri Anda sebagai manusia seutuhnya. Jangan menjawab secara parsial, misalnya: saya adalah asisten dosen, saya adalah anak dari bapak saya, saya adalah Ahmad Saputra (menyebutkan nama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Mengapa saya ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anda mengapa Anda lahir dan berada di dunia ini. Jawablah secara jujur dan apa adanya. Anda harus menjawab sesuai pendapat Anda, bukan menurut pendapat orang lain, pendapat pakar, atau buku-buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Apa keunggulan / kelebihan&lt;br /&gt;yang saya miliki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini sebetulnya mudah. Setiap orang pasti memiliki keunggulan. Jika merasa sulit karena tak tahu pasti apa keunggulan Anda, cobalah renungkan kegiatan apa yang Anda senangi? Atau apa hobi Anda? Bisa juga dengan melihat prestasi yang pernah Anda dapatkan di masa lalu. Biasanya keunggulan yang kita miliki berawal dari senang mengerjakannya atau karena kita ahli mengerjakannya (berprestasi). Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud keunggulan di sini adalah yang telah Anda miliki ketika Anda menulis misi ini, bukan yang akan Anda miliki di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Untuk siapa saya bekerja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud bekerja bukanlah sebatas pekerjaan formal atau profsi Anda. Tapi adalah untuk siapa Anda hidup dan beraktivitas di dunia ini? Penekanannya kepada siapa yang Anda layani selama ini? Atau yang akan Anda layani di masa datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Apa hasil / produk&lt;br /&gt;dari pekerjaan saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil/produk dapat berupa barang atau jasa. Jika hasil Anda banyak, pilih yang paling dominan. Hasil/produk dapat juga berupa manfaat yang Anda hasilkan dari aktivitas Anda yang paling menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Dimana saya mengerjakannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban dari pertanyaan ini menunjuk pada tempat di mana Anda biasa beraktivitas selama ini. Tempat tersebut bisa merupakan areal yang sempit atau luas. Jika jawaban Anda merupakan areal yang sempit, seperti nama kelurahan, kecamatan atau kota tertentu, berarti Anda menekankan pada kekhasan misi Anda yang hanya cocok di tempat tersebut. Jika jawaban Anda berareal luas, bahkan dapat dilakukan di mana saja (misalnya Anda menjawab, “di dunia”), Anda dapat mengabaikan pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 2&lt;br /&gt;Menggabungkan jawaban&lt;br /&gt;pertanyaan tentang misi menjadi satu&lt;br /&gt;atau beberapa kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keenam unsur misi dijawab, langkah selanjutnya menyatukannya menjadi satu atau beberapa kalimat. Buat dalam KISS (Keep It Short and Simple), kalimat yang singkat dan sederhana. Susunan kalimat hendaknya memenuhi ciri dari misi yang baik, yaitu menarik, jelas, singkat, mengandung nilai-nilai luhur, bersifat spiritual dan fleksibel. Kalimat tidak harus memakai kata-kata yang persis sama dengan enam jawaban di atas.&lt;br /&gt;Setelah Ahmad menjawab enam pertanyaan yang berkaitan dengan misi, Ahmad mencoba menyusunnya menjadi satu kalimat. Ia menulis masing-masing jawaban tersebut pada karton yang dibuat seukuran kartu. Kemudian memindah-mindahkan posisi kartu sampai menjadi sebuah kalimat yang baik dan menarik.&lt;br /&gt;Akhirnya Ahmad menemukan kalimat yang tepat untuk misi hidupnya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya adalah makhluk ciptaan Allah yang&lt;br /&gt;berpendidikan, ulet dan kreatif yang bertekad untuk&lt;br /&gt;selalu berbuat baik dengan cara memberdayakan&lt;br /&gt;masyarakat di sekitar saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan selesainya langkah 2 ini, Anda telah membuat pernyataan misi secara tertulis. Misi tersebut sebaiknya dihapal dan dihayati. Misi akan berguna untuk menilaui setiap alternatif tindakan Anda ke depan. Setiap malam atau di pagi hari, Anda perlu melakukan instrospeksi apakah tindakan Anda yang lalu sesuai atau tidak dengan misi hidup Anda. Jika tidak, apa sebab dan dimana kendalanya. Kemudian perbaharui komitmen Anda agar lain kali senantiasa bertindak sesuai dengan misi hidup Anda.&lt;br /&gt;Pernyataan misi tertulis diubah setiap saat sesuai dengan keinginan Anda. Namun walau misi bersifat fleksibel, sebaiknya misi jangan terlalu sering diubah. Sebab misi mempengaruhi tindakan. Jika misi sering diubah maka tindakan kita menjadi tidak konsisten atau plin-plan. Kita seperti orang yang memintal benang, kemudian diurai lagi, demikian seterusnya. Selain itu, misi yang seriang diubah juga menunjukan kurang matangnya pribadi kita terhadap nilai-nilai yang kita yakini.&lt;br /&gt;Misi tak akan banyak gunanya jika Anda hanya membuatnya secara tertulis tapi tidak direalisasikan dalam tindakan. Misi yang selalu direlisasikan dalam tindakan akan membuat Anda menjadi diri Anda sendiri (be your self). Anda menjadi tidak  tergangu kepada selera atau keinginan orang lain. Pribadi Anda menjadi utuh dan terhindar dari split of personality (kepribadian yang pecah), sehingga menjadikan anda mantap dan tenang dalam hidup.&lt;br /&gt;Jika Anda selalu komitmen dengan misi anda, berarti Anda telah mempunyai modal awal yang baik untuk terampil mengatur waktu Anda. Anda telah mampu mengendalikan diri. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri untuk melangkah pada pada tahap selanjutnya dari Breaking The Time m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan II&lt;br /&gt;Menentukan Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang naik panggung tanpa persiapan,&lt;br /&gt;maka ia akan turun dengan kehinaan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Shakespeare)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi hidup tak ada gunanya jika tidak ada penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menerapkan misi, kita akan menerapkannya dalam berbagai peran hidup kita. Peran adalah posisi atau kedudukan di mana seseorang diharapkan melakukan perilaku tertentu.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan ini, setiap orang memiliki peran yang bermacam-macam. Peran-peran itu dijalankan oleh setiap orang secara berbarengan menurut takaran yang berbeda. Ada peran yang utama, karena waktu dan tenaga kita lebih banyak tercurah di sana. Ada pula peran pembantu, yang walau membutuhkan porsi waktu dan tenaga yang kecil, namun tetap juga harus diperhatikan. Pendek kata tidak ada orang yang hanya memiliki satu peran. Sebagai contoh, Anda mungkin mempunyai peran sebagai karyawan, di samping itu sebagai mahasiswa sekaligus anak dari sebuah keluarga.&lt;br /&gt;Orang yang tidak dapat seimbang dalam memenuhi semua perannya kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dan kekecewaan hidup. Misalnya, jika Anda terlalu sibuk bekerja di kantor (berperan sebagai karyawan), Anda mungkin dapat melalaikan peran Anda sebagai suami atau ayah dari anak-anak (peran sebagai keluarga). Hal ini disebabkan Anda tidak lagi mempunyai waktu yang cukup untuk mengurusi keluarga Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi/&lt;br /&gt;Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi&lt;br /&gt;Warga Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dll&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 9&lt;br /&gt;Lingkaran peran/ pekerjaan, keluarga, pengabdian, studi,&lt;br /&gt;warga masyarakat, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dibutuhkan kemampuan untuk dapat mengatur berbagai peran hidup Anda. Manajemen waktu bermanfaat untuk bisa mengatur berbagai peran hidup secara seimbang dan harmonis. Manajemen waktu mengajarkan kepada kita untuk dapat memenuhi setiap tuntutan peran tersebut secara proporsional. Sebab masing-masing peran dalam kehidupan kita merupakan bagian yang tak terpisah dari kebahagiaan dan kesuksesan kita. Orang yang mampu mengatur drinya sendiri berarti mampu memainkan perannya dengan baik. Bukan hanya pada satu peran, tapi pada semua peran dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kepedihan yang paling dalam dan sering terungkap dalam kaitan dengan mengatur diri dan waktu adalah ketika muncul ketidakseimbangan.&lt;br /&gt;Banyak orang yang setelah sekian lama menjalani hidup akhirnya sampai pada kesadaran yang menyakitkan bahwa betapa banyak hal penting dalam hidup mereka selama ini terabaikan. Mereka menyadari bahwa mereka telah menggunakan amat banyak waktu dan tenaga dalam satu bidang kehidupan –seperti bisnis, olahraga, atau pelayanan masyarakat—dengan mengorbankan bidang yang lain, seperti kesehatan, keluarga dan teman-teman. Mereka sadar akan adanya berbagai peran tersebut, tetapi tak tahu bagaimana cara mengalokasikannya. Peran mereka tampaknya terus menerus saling bertentangan dan bersaing, karena keterbatasan waktu maupun perhatian.&lt;br /&gt;Jelas, dibutuhkan keseimbangan antar peran jika kita tak mau menyesal di kemudian hari. Keseimbangan merupakan nilai universal yang selalu kita lihat perwujudannya setiap hari. Keseimbangan alam, keseimbangan kekuatan, keseimbangan neraca perdagangan, keseimbangan makanan (makanan yang komposisinya seimbang) merupakan bagian dari keseimbangan universal. Keseimbangan merupakan kunci dari kehormatan. Keseimbangan peran merupakan kunci dari kesuksesan dan ketenangan hidup.&lt;br /&gt;Tetapi, bagaimana kita dapat memelihara keseimbangan dalam peran hidup kita? Apakah itu berarti lari dari satu peran ke peran lain dengan cepat untuk menangani semuanya setiap hari? Atau, kita memusatkan diri pada satu peran, kemudian setelah selesai baru memperhatikan peran yang lain? Banyak di antara kita yang terbiasa sejak kecil untuk melihat peran sebagai “kotak-kotak” kehidupan yang terpisah. Kita pergi ke kelas-kelas yang berbeda di sekolah, kita memiliki mata pelajaran yang terpisah-pisah, kita memiliki buku teks yang berbeda-beda, dan tidak pernah terlintas di benak kita bahwa terdapat hubungan antara satu dengan yang lain. Pengotak-kotakan itu berubah menjadi watak kita juga. Siapa diri kita di tempat kerja berbeda dengan diri kita di tengah keluarga. Apa yang kita lakukan di depan orang banyak berbeda dengan apa yang kita lakukan ketika sendirian. Inilah dampak dari watak pengkotak-kotakan yang dapat berakibat pada ketidakseimbangan hidup kita.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, peran-peran itu merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang amat saling terkait, di mana masing-masing peran merupakan satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Sebagaimana dikatakan oleh Gandhi, “Orang tidak dapat melakukan sesuatu yang benar dalam satu bidang kehidupan sementara dia sibuk melakukan kesalahan di bidang lain. Kehidupan adalah satu keseluruhan yang tak terbagi”.&lt;br /&gt;Ketika Anda menerapkan keseimbangan peran dalam hidup Anda, itu tidak berarti sama dengan berlari di antara kotak-kotak kehidupan. Keseimbangan adalagh suatu ekuilibrium dinamis. Keseimbangan berarti bahwa semua bagian beroperasi secara bersama-sama secara sinergis dalam suatu keseluruhan yang amat saling terkait. keseiMbangan bukanlah berwujud ‘atau’ melainkan perwujudan dari ‘dan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu menciptakan sinergi antar peran kita. Sinergi antar peran dapat menghemat waktu maupun tenaga. Dengan mengajak anak ke toko buku, kita dapat mengembangkan diri sebagai upaya menjalankan&lt;br /&gt;peran pekerjaan sekaligus pada saat yang sama membina hubungan yang lebih baik dengan anak sebagai upaya menjalankan peran keluarga. Kalau kita harus memeriksa pabrik dan melatih seorang asisten baru, kita dapat memandang kegiatan pemeriksaan bersama dengan asisten itu sebagai cara melatih dia (sinergi peran pekerjaan dan peran pemberdayaan pegawai).&lt;br /&gt;Memahami sinergi antar peran akan membantu kita mengatasi dikotomi “atau”. Seorang wanita yang bekerja dan mempunyai anak dapat mengatasi dikotomi yang membingungkan antara bersama dengan anak-anak atau bekerja. Ia bergairah menjadi ibu karena memahami perannya sebagai ibu yang tak dapat ditinggalkan dan tidak lupa untuk mengembangkan potensinya melalui kerja.&lt;br /&gt;Kalau Anda memandang peran-peran sebagai bagian hidup yang terpisah-pisah maka sesungguhnya Anda sedang mengembangkan suatu mentalitas kelangkaan waktu. Anda merasa selalu dikejar-kejar waktu. Memanfaatkan waktu dalam satu peran berarti kita tidak dapat memanfaatkannya untuk peran yang lain. Ini berarti menang kalah (satu peran menang, peran lain kalah). Akhirnya kita berkompetisi dengan diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesi/&lt;br /&gt;Pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;Sinergi&lt;br /&gt;Sinergi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 10. Sinergi antar peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan sinergi antar peran, Anda menumbuhkan mentalitas berlimpahnya waktu. Waktu Anda banyak dan dapat dipergunakan secara cukup untuk memenuhi peran Anda. Anda akan selalu berpikir menang dan menang. Memandang semua peran sebagai bagian dari suatu keseluruhan yang saling terkait. Kecerdikan dan kreativitas dibutuhkan  untuk mampu melakukan sinergi antar peran dalam hidp keseharian Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LALU APA LANGKAH APLIKATIF&lt;br /&gt;UNTUK MENENTUKAN PERAN ANDA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 1&lt;br /&gt;Menginventarisir Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama yang perlu Anda lakukan adalah menginventarisir (mendata) peran Anda selama ini. Setiap orang akan berbeda dalam menginventarisir jumlah perannya. Tidak ada patokan yang khusus untuk mengklasifikasikan peran, tapi beberapa petunjuk di bawah ini dapat Anda gunakan untuk mengklasifikasi peran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Aktivitas yang membutuhkan tanggung jawab Anda;&lt;br /&gt;2.      Aktivitas yang sering/rutin Anda lakukan (setiap hari, setiap pekan, setiap bulan atau setiap tahun),&lt;br /&gt;3.      Aktivitas yang berhubungan dengan orang lain;&lt;br /&gt;4.      Aktivitas yang membutuhkan cukup banyak waktu untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat misi, Ahmad Saputra mencoba menginventarisir perannya. Hasil catatannya tercantum seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;n      Dosen&lt;br /&gt;n      Penceramah&lt;br /&gt;n      Instruktur&lt;br /&gt;n      Ayah&lt;br /&gt;n      Suami&lt;br /&gt;n      Anak (dari orang tuanya)&lt;br /&gt;n      Saudara (dari keluarga besarnya)&lt;br /&gt;n      Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)&lt;br /&gt;n      Penulis artikel&lt;br /&gt;n      Pengurus LSM&lt;br /&gt;n      Pengurus koperasi&lt;br /&gt;n      Pembina pengajian remaja&lt;br /&gt;n      Pemain bola&lt;br /&gt;n      Membaca buku&lt;br /&gt;n      Sholat dan ibadah lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 2&lt;br /&gt;Menyeleksi peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menginventarisir peran, Anda perlu melakukan seleksi peran. Seleksi peran dilakukan dengan dua cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Menyisihkan peran&lt;br /&gt;yang tidak sesuai dengan misi hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang telah dinventarisir harus dinilai secara jujur apakah sesuai dengan misi atau tidak. Peran yang tidak sesuai dengan misi harus Anda tinggalkan. Artinya, Anda tidak lagi melakukan aktivitas tersebut. Jangan segan-segan untuk menghilangkan peran yang tidak sesuai dengan misi Anda. Anda harus berani mengambil keputusan, jangan takut meninggalkan peran yang tidak sesuai dengan misi hidup Anda. Misalkan ketika Anda menginventarisir peran terdapat peran sebagai pengedar narkoba, padahal misi hidup Anda adalah pemberdayaan terhadap orang lain, maka tinggalkan peran sebagai pengedar narkoba. Ubah usaha Anda agar sesuai dengan misi hidup Anda. Contoh lain, jika misi hidup Anda mencari ridho Allah, maka tinggalkan peran yang menjauhi Anda dari ridho Allah, seperti bekerja pada tempat yang tidak halal atau maksiat. Jika Anda belum mampu meningalkan peran yang tidak sesuai dengan misi Anda, jadikan ia sebagai peran tersendiri. Lalu buat visi untuk meninggalkannya di masa depan (akan diterangkan pada bagian ‘Membuat Visi peran’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Mengelompokkan peran-peran sejenis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelompokkan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah peran. Sebaiknya peran yang kita miliki tidak lebih dari tujuh buah agar mudah membagi waktunya. Kelompokkan peran berdasarkan sifatnya yang sama. Misalnya peran berdasarkan sifatnya yang sama. Misalnya peran sebagai ayah, suami, dan saudara dapat dikelompokkan dalam satu peran yang sama, yakni peran keluarga. Peran olahraga dan belajar dapat dikelompokkan dalam peran pengambangan diri. Namun peran yang menurut Anda sangat penting bagi misi Anda, sebaiknya jangan dikelompokkan. Biarkan ia menjadi satu peran tersendiri karena Anda membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak untuk menjalankannya.&lt;br /&gt;Kelompokkan juga peran menjadi peran utama atau peran pembantu. Peran utama adalah peran yang sangat penting untuk pencapaian misi hidup Anda. Peran yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengerjakannya. Sedang peran pembantu adalah peran yang perlu ada sebagai tuntutan untuk menunjang pencapaian misi hidup Anda. Peran yang tidak membutuhkan waktu terlalu banyak dibanding peran utama.&lt;br /&gt;Anda juga perlu membuat peran pengembangan diri secara tersendiri. Peran ini sebaiknya selalu ada dan tidak digabung dengan peran lainnya. Hal ini agar Anda senantiasa mempunyai waktu untuk mengembangkan diri, baik secara moral, intelektual, sosial maupun fisik.&lt;br /&gt;Ahmad Saputra meneruskan langkahnya untuk menentukan peran dengan menseleksi peran yang tlah diiventarisir. Mula-mula ia mengelompokkan peran-peran sejenis atau yang sifatnya hampir sama. Ia mengelompokkan peran penceramah dan instruktur dalam satu peran. Peran ayah, suami, anak dan saudara dalam satu peran keluarga. Peran pengurus LSM dan koperasi dalam satu peran organisator. Peran pemain bola, membaca buku dan sholat dalam satu peran pengembangan diri. Peran dosen, penulis artkel, warga masyarakat dibiarkannya tetap dalam satu peran, karena Ahmad menganggap peran tersebut penting dalam mengaplikasikan misinya.&lt;br /&gt;Setelah itu Ahmad menilai apakah peran-peran tersebut sesuai dengan misi hidupnya. Ternyata, menurut Ahmad, semua peran tersebut sesuai dengan misi hidupnya. Daftar peran Ahmad berubah menjadi seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-         Dosen&lt;br /&gt;-         Pembicara (Penceramah, Instruktur)&lt;br /&gt;-         Keluarga (Ayah, Suami, Anak, Saudara)&lt;br /&gt;-         Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)&lt;br /&gt;-         Penulis artikel&lt;br /&gt;-         Organisator (Pengurus LSM, Pengurus koperasi, Pembina pengajian remaja)&lt;br /&gt;-         Pengembangan diri (Pemain bola, Membaca buku, Sholat dan ibadag lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang telah ditentukan sebaiknya ditinjau pada waktu-waktu tertentu. Paling lama Anda perlu mengevaluasi peran Anda tiga bulan sekali. Anda perlu mengavaluasi apakah peran-peran itu masih relevan dengan misi atau tidak. Apakah ada peluang yang membuat Anda perlu memasukkan peran yang baru? Apakah ada tantangan atau ancaman yang memaksa Anda perlu mengubah atau meninggalkan peran-peran tertentu? Misalkan Anda yang tadinya sebagai karyawan mendapat promosi sebagai direktur keuangan, maka Anda perlu mengubah peran Anda. Atau mungkin Anda trpaksa meninggalkan peran sebagai karyawan, karena di-PHK oleh perusahaan Anda. Bisa juga Anda berhenti sebagai pengurus koperasi karena pergantian pengurus. Karena itu, peran bukanlah sesuatu yang statis, ia fleksibel dan dapat diubah sesuai dengan kebutuhan, peluang atau tantangan yang ada, asalkan ia tetap sesuai dengan misi Anda. Jika misi hidup Anda berubah, maka dapat dipastikan akan banyak peran hidup Anda yang juga berubah m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan III&lt;br /&gt;Membuat Visi Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Visi membuat kita bergairah dengan pemahaman&lt;br /&gt;akan sumbangan khas yang dapat kita buat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Stephen R. Covey)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Anda menentukan peran sesuai dengan misi yang Anda buat, tibalah saatnya bagi Anda untuk ‘bermimpi’. Sekarang, Anda perlu membuat visi tentang masa depan Anda. Visi ibarat mimpi karena kita membayangkan sesuatu yang masih bersifat harapan. Visi adalah kemampuan untuk melihat apa yang saat ini belum terwujud.&lt;br /&gt;Kekuatan visi sungguh luar biasa! Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang memiliki ‘gambaran peran yang berorientasi ke masa depan’ berhasil lebih baik di sekolah dan lebih handal dalam menghadapi tantangan hidup. Tim dan organisasi yang memiliki pemahaman kuat mengenai suatu misi tidak akan mampu mewujudkan misinya tanpa kehadiran visi. Keberhasilan individu, kelompok, atau organisasi salah satunya akibat kekuatan visi yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila visi kita terbatas, hanya sebatas harapan tentang apa yang akan terjadi pada esok hari atau lusa, kita cenderung membuat&lt;br /&gt;pilihan berdasarkan apa-apa yang persis berada di depan kita. Kita bereaksi terhadap apa-apa yang mendesak, dorongan perasaan sesaat, atau suasana hati. Kita membuat pilihan berdasarkan pertimbangan orang lain atau kecenderungan lingkungan di sekitar kita. Kita menjadi tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Langkah kita terombang-ambing. Keputusan-keputusan kita menjadi tidak konsisten dan berubah-ubah setiap hari.&lt;br /&gt;Apabila visi kita terlalu membumbung tinggi, berdasarkan ilusi yang sama sekali tidak beranjak dari kemampuan-kemampuan kita saat ini, maka pada saatnya visi itu tidak dapat mencapai hasil yang kita harapkan. Visi kita tak lebih merupakan sesuatu yang hampa. Akhirnya kita tak percaya lagi pada harapan-harapan kita.&lt;br /&gt;Apabila visi kita berdasarkan pandangan sosial, kita akan membuat pilihan-pilihan atas dasar harapan-harapan orang lain. Kita tidak menggerakkan potensi dan bakat kita sendiri. Kita tak lagi memiliki hubungan dengan jati diri kita yang unik. Kita hidup berdasarkan kemauan orang lain – keluarga, teman, lawan, media massa. Akhirnya, kita menjadi asing terhadap diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Ketika Anda membuta visi, Anda perlu membuatnya berdasarkan kemauan Anda sendiri. Anda perlu membuatnya berdasarkan potensi dan bakat Anda sendiri. Berdasarkan kemampuan dan kelebihan yang Anda miliki saat ini. Atau yang Anda pandang merupakan kelebihan dan kemampuan yang akan Anda miliki. Bukan berdasarkan pandangan orang lain tentang kemampuan dan kelebihan Anda.&lt;br /&gt;Visi adalah cita-cita dan harapan tentang masa depan Anda sendiri. Anda akan bergairah mencapai visi Anda, jika visi sesuai dengan misi hidup Anda. Pada saat itu visi berubah menjadi motivator yang begitu kuat, yang pada gilirannya menjadi ‘pembakar’ semangat Anda. Ini merupakan energi yang membuat hidup Anda menjadi suatu petualangan yang menarik. Suatu petualangan untuk eraih cita-cita, sehingga Anda berani berkata ‘ya!’ terhadap peluang atau pilihan yang sesuai dengan cita-cita Anda. Sebaliknya berani berkata ‘tidak!’ dengan damai dan penuh keyakinan diri terhadap hal-hal yang kurang sesuai dengan cita-cita Anda.&lt;br /&gt;Visi yang sesuai dengan misi hidup Anda akan membuat Anda semakin mampu mengatasi ketakutan, kesulitan, keraguan, kelesuan dan banyak hal lain yang membuat Anda tak dapat mencapai sesuatu. Sebagai contoh, Khobab bin Arts, sahabat Nabi Muhammad saw yang berasal dari kalangan budak mampu mengatasi segala penderitaan, siksaan dan kesulitan yang dialaminya karena memiliki visi yang sama dengan misi hidupnya. Suatu ketika ia datang kepada Nabi mengeluhkan siksaan yang dialaminya. Pada waktu itu Islam baru dipeluk oleg segelintir orang di kota Mekkah. Nabi Muhammad saw berkata kepadanya, “Wahai Khobab, bersabarlah. Demi Allah sesungguhnya aku melihat sebentar lagi apa yang kita perjuangkan akan memperoleh hasilnya. Aku melihat Islam akan dipeluk oleh seluruh orang di jazirah Arab ini, sehingga orang akan bepergian dengan aman tanpa merasa takut diganggu sedikitpun”. Visi ini, membuat Khobab tegar bertahan mengatasi segala penderitaan yang dialaminya. Kelak ia tercatat dalam sejarah sebagai salah satu sahabat utama Nabi yang sukses di dunia (menjadi gubernur) dan sukses di akhirat (mati syahid).&lt;br /&gt;Pikirkan juga Gandhi, yang muncul dari latar belakang ketakutan, kekurangan, dan ketidakamanan pada masa penjajahan Inggris di India. Ia pada dasarnya mempunyai sifat pemalu dan sulit bergaul. Namun ketika melihat ketidakadilan yang dialami orang India, lahirlah visi dalam benak dan hatinya. Visi yang menumbuhkan gagasan sebuah masyarakat egaliter. Di mana setiap orang berkedudukan sama tanpa ada yang menindas hak azasi orang lain. Menjelang akhir hidupnya, ia berkata, “Saya memandang diri saya tidak lebih daripada orang biasa dengan keampuan di bawah rata-rata. Saya sama sekali tidak meragukan bahwa setiap orang, pria maupun wanita, dapat mencapai apa yang telah saya capai, apabila ia mengupayakan usaha yang sama dan menumbuhkan-kembangkan harapan maupun keyakinan yang sama.”&lt;br /&gt;Ketika Khobab bin Arts dan Mahatma Gandhi memfokuskan diri pada visinya, kelemahan-kelemahan pribadinya lenyap. Mereka bertumpu pada kelebihan dan potensi unik yang dimilikinya, sehingga mereka tumbuh berkembang menjadi orang-orang besar. Visi menciptakan pertumbuhan dan pengembangan diri. Visi membuat orang bergairah, sungguh-sungguh dan cerdik. Kekuatan visi tak dapat disangkal merupakan kunci dari kesuksesan hidup seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-Ciri Visi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang baik adalah visi yang bercirikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Terukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang baik adalah visi yang dapat diukur. Kalimat yang digunakan dalam visi sebaiknya bersifat kuantitatif dan spesifik. Jika visi yang dibuat masih memberikan ruang untuk penafsiran ganda, maka perlu dilengkapi dengan indikator keberhasilan visi yang bersifat kuantitatif. Visi yang abstrak dan terlalu global membuat tujuan menjadi kabur, sehingga evaluasi pencapaian visi menjadi sulit dilakukan. Gairah untuk mencapai visi juga menjadi rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Fleksibel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau visi bersifat terukur, namun visi juga perlu memberi ruang untuk terjadinya fleksibilitas pencapaian visi. Misalnya dengan tidak terlalu memberi batasan-batasan yang begitu mendetail terhadap indikator keberhasilan visi. Visi yang fleksibel juga berarti visi yang dapat diubah jika situasi memang mengharuskannya demikian. Sebaiknya visi perlu ditinjau minimal tiga bulan sekali. Hal ini karena peluang dan tantangan di zaman globalisasi saat ini amat cepat berubah. Anda tak prlu takut merubah visi Anda, jika Anda melihat peluang dan tantangan baru di depan Anda. Namun visi yang terlalu cepat berubah juga kurang baik, misalnya berubah setiap pekan atau setiap bulan, karena hal itu berarti Anda sama saja dengan tidak mempunyai tujuan yang pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Terjangkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi yang baik juga visi yang dapat dijangkau. Tidak merupakan khayalan tanpa dasar sama sekali. Visi perlu bertolak dari kemampuan yang Anda miliki saat ini. Namun visi juga jangan telalu mudah untuk dijangkau, karena hal itu akan membuat Anda menjadi reaktif dan kurang termotivasi untuk mencapainya. Visi perlu menggambarkan tujuan masa depan kita dalam ‘beberapa langkah’, bukan dalam ‘ratusan atau ribuan langkah’ juga bukan dalam ‘satuan langkah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Menarik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi perlu menarik untuk dicapai. Artinya, Anda sendiri merasa senang dan tertantang untuk mencapai visi tersebut. Untuk itu visi harus merupakan kehendak yang datang dari hati nurani Anda sendiri, bukan berdasarkan cermin sosial –keinginan orang lain atau kehendak lingkungan. Visi yang tidak menarik membuat Anda tidak bergairah untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi sebaiknya menggunakan kalimat yang jelas dan mudah dipahami oleh Anda sendiri. Hindari penggunaan kata yang terlalu puitis atau yang dapat ditafsirkan dengan berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya kalimat visi juga jangan terlalu panjang. Jika terpaksa memakai kalimat yang panjang. Pecah kalimat tersebut dalam beberapa kalimat. Jadi, buatlah visi dengan kalimat yang singkat dan sederhana. Keep it short and simple!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali Anda sulit untuk menuliskan visi Anda, apalagi menuliskannya sampai kepada tingkat yang lebih spesifik, yakni visi dari setiap peran hidup Anda. Anda bukan hanya perlu membayangkan&lt;br /&gt;bagaimana masa depan Anda, tapi juga bagaimana gambaran masa depan dari setiap peran Anda. Bagaimana gambaran peran Anda sebagai karyawan, suami, atau pemimpin organisasi setahun atau beberapa tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;Apabila Anda belum pernah menuliskan pernyataan visi pribadi, atau kalau Anda telah memilikinya, tetapi menginginkan sebuah perspektif yang berbeda, mungkin latihan visualisasi di bawah ini dapat membantu Anda dalam membuat visi.&lt;br /&gt;Bayangkan ulang tahun Anda yang ke-60 atau syukuran perkawinan perak Anda. Bayangkan sebuah acara syukuran yang semarak di mana teman-teman, orang yang Anda cintai, dan para kolega dari segala penjuru tempat yang pernah Anda singgahi dalam hidup Anda, datang untuk menyatakan rasa hormat mereka. Bayangkan serinci mungkin, sejauh Anda bisa yaitu seperti tempat, orang, dan dekorasinya.&lt;br /&gt;Dalam benak, lihatlah mereka satu per satu menyalami Anda. Bayangkan mereka mewakili peran yang Anda mainkan dalam hidup –mungkin sebagai orang tua, guru, manajer atau pegawai negeri. Bayangkan juga bahwa Anda telah berhasil memenuhi semua peran itu sampai batas kemampuan Anda. Apa yang kiranya akan dikatakan mereka? Kualitas Anda yang mana yang akan mereka kenang? Sumbangan istimewa apa yang akan mereka sebutkan? Pandanglah mereka yang hadir dalam acara itu. pengaruh penting apa yang telah Anda buat dalam hidup mereka?&lt;br /&gt;Sementara Anda embayangkan dan merenungkan hal-hal tersebut, berusahalah menulis peran Anda dan penghargaan yang Anda inginkan agar mereka katakan pada kesempatan tersebut.&lt;br /&gt;Cara lain untuk melatih Anda membuat visi adalah semisal membayangkan dengan mata terpejam selama satu menit:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang sukses:&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang bahagia, santai, dan puas;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda sepuluh tahun mendatang;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang lebih berat (atau ringan) 10 kilogram;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang sedang mengerjakan sesuatu yang Anda mimpikan untuk dikerjakan;&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda sedang bercengkerama dengan cucu; dan&lt;br /&gt;·        Sebuah gambar mengenai Anda yang mempunyai banyak uang di bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan Anda, ketika Anda menatap visi yang dapat ditampilkan dalam hidup Anda? Sekarang, bagaimana seandainya Anda mampu mencapai visi itu dan memastikannya bahwa visi itu sesuai dengan misi hidup Anda yang positif?&lt;br /&gt;Latihan ini akan memberi Anda suatu pemahaman mendalam akan gairah dan kekuatan potensial yang dimiliki oleh visi. Sesungguhnya upaya untuk menciptakan visi yang menggairahkan kita untuk mencapainya membutuhkan kemampuan imajinasi yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba Bayangkan Gambar Apakah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menvisualisasikan gambar di atas, anda bisa menyebut gambar&lt;br /&gt;tersebut sebagai gapura, terowongan, huruf N, huruf U terbalik, pegangan&lt;br /&gt;pintu, isi staples, kursi, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DENGAN CARA YANG SAMA COBA BAYANGKAN GAMBAR APAKAH INI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 14&lt;br /&gt;Gambar latihan visualisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Membuat Visi Peran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membuat misi hidup dan menentukan peran yang tepat, kini tibalah bagi Anda untuk membuat pernyataan visi secara tertulis. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 1&lt;br /&gt;Menciptakan visi besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda perlu membuat visi hidup secara global. Visi hidup ini berlaku sepanjang hidup dan biasanya merupakan gambaran yang umum tentang akhir dari masa depan kita. Karena bersifat global, visi ini tidak dapat dikatakan sebagai visi yang sebenarnya. Ia hanya berfungsi sebagai penuntun dalam membuat visi dari setiap peran hidup kita.&lt;br /&gt;Setelah melakukan latihan visualisasi, Ahmad Saputra membuat pernyataan visi hidupnya seperti berikut, “Menjadi pribadi yang berhasil meningkatkan kualitas diri secara maksimal dan memberdayakan orang-orang di sekitar saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 2&lt;br /&gt;Menciptakan visi peran Anda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi besar yang berlaku seumur hidup perlu dijabarkan dalam visi setiap peran. Sebab jika tidak dijabarkan, gambarannya masih terlalu umum, sehingga sulit devaluasi tingkat keberhasilannya dari  waktu ke waktu.&lt;br /&gt;Berbeda dengan visi besar yang target waktu pencapaiannya seumur hidup. Visi [eran memiliki jangka waktu pencapaian tertentu. Anda dapat memakai tenggang waktu tiga bulan, enam bulan, atau setahun. Namun waktu yang disarankan adalah tiga atau enam bulan. Hal ini karena lingkungan di sekitar kita kerap cepat berubah, sehinga perlu diantisipasi dengan visi peran yang fleksibel.&lt;br /&gt;Setiap habis waktu pencapaian visi peran, Anda perlu mengevaluasinya. Mana di antara visi peran Anda yang sudah tercapai dan mana yang belum. Apa saja faktor keberhasilan dan kegagalan Anda dalam mencapai visi peran yang telah ditentukan. Hal ini sangat berguna dalam membuat kembali visi peran Anda untuk periode mendatang, dan menyesuaikannya dengan peluang dan tantangan baru yang Anda hadapi. Khusus untuk pengembangan diri Anda perlu dibuat visi peran tersendiri yang tidak boleh dihilangkan. Hal ini agar kualitas diri Anda senantiasa meningkat secara intelektual, moral, sosial, dan fisik.&lt;br /&gt;Visi peran perlu dibuat dalam kalimat yang memenuhi ciri visi yang baik –teratur, fleksibel, terjangkau, menarik, jelas, dan singkat. Jika visi peran masih sulit untuk dapat diukur, Anda perlu membuat keterangan berupa indikator keberhasilan visi yang berisi parameter kuantitatif dari visi yang dibuat.&lt;br /&gt;Visi peran perlu dibuat tertulis pada lembar Visi Peran. Hal ini agar mudah dibaca dan diingat. Kebiasaan tidak menuliskannya tujuan (Visi) adalah kebiasaan buruk. Sebab jika hanya mengandalkan ingatan, besar kemungkinan kita akan lupa. Lupa menyebabkan kita, tanpa disadari, tak lagi konsisiten dengan visi awal kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Peran&lt;br /&gt;Visi 2003&lt;br /&gt;(Jan s.d. Mar 2003&lt;br /&gt;Indikator&lt;br /&gt;Keberhasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen&lt;br /&gt;-          Menjadi dosen berdedikasi tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Mengajar minimal 6 sks/semester;&lt;br /&gt;-          Mencapai angka kredit min. 20;&lt;br /&gt;-          Presentasi kehadiran min. 90% dari jumlah jam mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicara (Penceramah, Instruktur)&lt;br /&gt;-          Berhasil menjadi pembicara profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Menjadi pembicara min. 3x per bulan;&lt;br /&gt;-          Membaca buku psikologi/perkembangan pribadi min. 2 buah per bulan;&lt;br /&gt;-          Membuat modul pelatihan 2 buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga (Ayah, Suami, Anak, Saudara&lt;br /&gt;-          Berhasil terus menerus meningkatkan intelektual, moral dan sosial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Firdaus masuk lima besar, hafal ½ juz Al-Qur’an, bisa mengetik di komputer, bisa naik sepeda kecil, berat badan proporsional;&lt;br /&gt;-          Nisa masuk TK, hafal 4 doa harian, bisa fatal 26 huruf abjad, berat badan proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)&lt;br /&gt;-          Dikenal oleh masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Sholat jama’ah min. 1 x per hari di mesjid;&lt;br /&gt;-          Silaturrahim ke tetangga min 1 x per dua pekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis artikel&lt;br /&gt;-          Tercapainya produktivitas yang cukup tinggi dalam menulis;&lt;br /&gt;-          Aktif dalam kepengurusan organisasi.&lt;br /&gt;-          Menulis artikel min. 3 x per bulan;&lt;br /&gt;-          Tulisan diterbitkan pada koran nasional min 1 x per buln;&lt;br /&gt;-          Mengkliping artikel psikologi/pengembangan pribadi min. 2 artikel perminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisator (Pengurus LSM, Pengurus koperasi, Pembina pengajian remaja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Mengikuti rapat pengurus LSM min 1 x per bulan;&lt;br /&gt;-          Terlaksananya program “No Drugs” di LSM pada Februari 2003;&lt;br /&gt;-          Tercapainya prkembangan koperasi sesuai dengan visi/misinya;&lt;br /&gt;-          Hadir dalam pengajian remaja 4 x per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No&lt;br /&gt;Peran&lt;br /&gt;Visi 2003&lt;br /&gt;Indikator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan diri (Fisik, Intelektual, Moral, dan Sosial)&lt;br /&gt;-          Tercapainya pengembangan diri yang seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-          Olahraga main bola min. 1 x per pelan;&lt;br /&gt;-          Membaca buku min. 3 x per bulan;&lt;br /&gt;-          Mengikuti seminar min. 1 x;&lt;br /&gt;-          Tilawah Al-Qur’an min. 4 lembar per hari;&lt;br /&gt;-          Menghadiri pengajian min. 1 x per pekan;&lt;br /&gt;-          Silaturrahim ke orang tua min. 1 x per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Saputra melanjutkan pembuatan visinya dengan membuat Lembar Visi Peran dari bulan Januari sampai dengan Maret yang akan datang. Ia juga membuat indikator keberhasilan dari setiap visi perannya. Hasilnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LANGKAH 3&lt;br /&gt;Letakkan di tempat yang mudah dilihat&lt;br /&gt;atau mudah dibawa-bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya, Lembar Visi Peran dibuat dalam kertas yang cukup besar mudah dibaca. Tempel lembar visi peran Anda di tempat yang mudah dilihat. Misalnya, pada dinding kamar, dekat cermin atau di balik lemari pakaian. Lembar visi juga bisa ditulis pada kertas kecil agar mudah di bawa-bawa. Misalnya, dapat mudah disimpan dalam dompet atau tas Fungsi visi peran yang mudah dilihat atau dibawa-bawa adalah agar Anda selalu ingat dengan visi Anda. Setiap pagi sebelum Anda beraktivitas lilahatlah dan baca kembali visi peran Anda. Semakin sering Anda membaca dan mengingat-ingat visi peran Anda, semakin menyerap visi Anda dalam pikiran bawah sadar Anda. Semakin terserap di alam bawah sadar Anda, tanpa Anda sadari, semakin terkendali gerak hidup Anda menuju ke arah pencapaian visi peran. Hal ini karena, menurut penelitian, sebagian besar pola hidup dan kebiasaan kita sebenarnya dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar kita, bukan oleh pikiran sadar kita m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan IV:&lt;br /&gt;Membuat Rencana Pekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waktu adalah kehidupan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hasan Al Banna)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiba saatnya bagi Anda untuk merealisasikan apa yang tela dibuat! Anda telah memiliki komitmen manajemen waktu dengan metode Breaking The Time dengan membuat pernyataan misi, peran, dan visi peran Anda. Komitmen itu tak ada gunanya jika tidak ada upaya untuk mencapainya. Pada tahapan ini, Anda akan mendapatkan manfaat tentang bagaimana cara menjabarkan visi peran dalam rencana pekanan.&lt;br /&gt;Mengapa perlu menjabarkan visi peran dalam rencana pekanan? Bukan rencana bulanan atau langsung kepada rencana harian? Hal ini karena visi peran merupakan sasaran jangka panjang, sehingga perlu ada sasaran jangka menengah. Rencana pekanan merupakan sasaran jangka menengah yang lebih cocok digunakan daripada rencana bulanan. Sebab rentang waktu rencana bulanan terlalu panjang, sehingga sulit mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran. Sedang rencana pekanan rentang waktunya tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu sempit, sehingga cukup efektif untuk mempertahankan konsistensi pencapaian visi peran. Jika visi peran langsung dituangkan dalam rencana harian, maka tidak ada sasaran jangka menengah sebagai arah yang merupakan perantara sasaran jangka panjang (rencana harian). Sebenarnya dengan membuat rencana pekanan berarti Anda telah serius menyesuaikan waktu dengan apa yang menurut Anda penting. Visi peran menggembarkan apa yang menurut Anda penting. Jadi mengatur waktu pekanan berarti menyesuaikan waktu Anda dengan pencapaian visi peran. Persoalan pengaturan waktu mulai muncul ketika Anda tidak laggi menggunakan waktu sesuai dengan visi peran, sehingga membiarkan waktu berjalan tanpa arah yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum sampai pada cara membuat rencana pekanan, kita perlu mengetahui tiga sifat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Waktu tidak dapat diganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu akan terus berjalan, tanpa ada yang dapat menghentikannya. Waktu bagaikan air yang terus mengalir menuju muara. Di mana setiap orang mempunyai ‘muaranya’ masing-masing. Pada ‘muara’ itulah kehidupan seseorang berakhir dan menemui ajalnya. Kita tidak tahu kapan waktu hidup kita berakhir. Namun yang jelas setiap orang mempunyai jatah waktu berbeda-beda. Ada yang singkat, ada pula yan panjang, tergantung jatah umur yang disediakan Tuhan kepadanya. Jatah waktu itu akan terus berlalu tanpa peduli apakah diisi dengan aktivitas yang penting atau tidak.&lt;br /&gt;Jika Anda membiarkan waktu berjalan tanpa aktivitas yang sesuai dengan misi hidup berarti Anda telah menyia-nyiakan waktu. Anda tak dapat mengganti waktu yang telah Anda sia-siakan itu dengan waktu yang lain. Anda merugi karena telah membiarkan salah satu modal kehidupan Anda berlalu tanpa ada hasil bagi masa depan Anda. Biasanya yang timbul hanyalah penyelesaian di kemudian hari. Penyesalan yangtak ada gunanya, karena waktu tak dapat diganti oleh apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Waktu dapat melenakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu tanpa terasa. Banyak orang yang merasa hidupnya amat singkat. Masa kecil yang sudah puluhan tahun ditinggalkannya terasa seperti baru kemarin. Begitu pula masa remaja dan masa dewasa terasa berlalu amat cepat. waktu memang melenakan. Ia membuat orang lupa bahwa waktu terus berjalan menuju batasnya, dan ketika batas itu tiba tak dapat seorang pun yang dapat mengundurkannya walau sedetik. Ketika itulah mungkin kita baru menyadari bahwa waktu itu ada dan sangat berharga. Namun ini adalah kesadaran yang terlambat dan penyesalan yang tak ada guna. Karena itu, sejak dini Anda perlu menyadari bahwa waktu dapart membuat Anda terlena dan membiarkannya berlalu dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Waktu adalah momen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu merupakan kesepatan yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Para pakar sejarah memperkirakan, jika para pendiri negara Indonesia tidak memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 mungkin sampai saat ini bangsa Indonesia masih dijajah. Jika Amerika tidak membom atom Hiroshima dan Nagasaki pada 15 Agustus 1945 mungkin Perang Dunia II akan berlangsung lebih lama lagi. Dalam dunia bisnis dikenal istilah waktu adalah uang. Maksudnya adalah bahwa setiap peluang harus diambil dengan cepat. kalau tidak, akan segera diambil oleh pesaing. Begitu pula dalam dunia militer, penyerangan terhadap musuh harus diatur waktunya sedemikian rupa, sehingga hal itu merupakan momen yang tepat untuk memperleh kemenangan. Jadi waktu adalah momen. Kesempatan emas yang belum tahu tentu terulang lagi.&lt;br /&gt;Kehidupan setiap manusia juga terdiri dari momen-momen yang seharusnya tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Ada orang yang menyia-nyiakan masa mudanya tanpa belajar. padahal mada muda adalah momen untuk belajar. Ada juga orang yang menyia-nyiakan bakatnya dengan tetap bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan bakatnya. Akhirnya, ia menyia-nyiakan bakatnya yang sebetulnya dapat mengubah taraf hidupnya.&lt;br /&gt;Orang yang mampu mengatur waktu seharusnya jeli memanfaatkan setiap momen dalam hidupnya. Ia jeli mengambil setiap peluang yang ada dan menggunakannya untuk keberhasilan hidupnya. Sebaliknya orang yang kurang mampu mengatur waktu akan sering menyia-nyiakan momen dalam hidupnya, sehingga momen tersebut terbuang percuma. Padahal ia merupakan peluang emas yang mungkin tidak dapat terulang kembali di waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIFAT WAKTU&lt;br /&gt;TIDAK DAPAT DIGANTI&lt;br /&gt;MOMEN&lt;br /&gt;MELENAKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 15. Sifat Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan waktu yang buruk menunjukkan bahwa kita tidak mampu menyesuaikan antara waktu dengan misi dan visi peran kita. Ketidakmampuan menyesuaikan waktu dengan misi berarti menelantarkan nilai-nilai yang kita anggap penting. Sedang ketidak&lt;br /&gt;mampuan menyesuaikan waktu dengan visi peran berarti kita tidak memiliki tujuan hidup yang jelas. Kita tidak akan memperoleh apa-apa yang berarti dalam kehidupan ini. Padahal orang yang sukses dan berhasil adalah orang-orang yang melakukan aktivitas yang berarti dan bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang merupakan indikasi dari pengaturan waktu yang buruk tampak dari beberapa kebiasaan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ê&lt;br /&gt;Sebagian besar jadwal waktunya&lt;br /&gt;ditentukan oleh orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang kurang mampu mengatur waktu akan mengisi sebagian besar waktunya dengan janji dan rencana orang lain, sehingga waktu yang diatur sendiri oleh dirinya menjadi sangat berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Orang seperti ini hidup dengan program orang lain. Ia terjebak pada rutinitas menjemukan yang membuat ia sulit mengevaluasi apakah program dari orang lain itu sesuai atau tidak dengan misi hidupnya. Penentuan jadwal waktu oleh orang lain bisa saja ditolerir jika sesuai dengan misi hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ë&lt;br /&gt;Sering menghadiri acara-acara&lt;br /&gt;yang kurang penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang kurang penting adalah acara yang tidak sesuai dengan misi hidup atau kurang menunjang pencapaian visi peran kita. Banyak orang yang terjebak dengan acara yang kurang penting karena merasa tidak enak menolak ajakan orang lain atau karena tidak mampu memanfaatkan waktu luang, sehingga akhirnya waktunya dihabiskan untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan misi hidup atau pencapaian visi peran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ì&lt;br /&gt;Suka menunda-nunda pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak dari suka menunda-nunda pekerjaan adalah bertumpuknya pekerjaan pada suatu waktu, sehingga ketika ‘deadline’nya tiba, kita terburu-buru dalam mengerjakannya. Akhirnya, hasil pekerjaan itu tidak maksimal atau malah tidak selesai.&lt;br /&gt;Orang yang suka menunda-nunda pekerjaan biasanya karena menunggu perasaan mood (gairah) lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan. Padahal mood tidak datang sesuai kemauan kita, bahkan seringkali ia tidak muncul ketika kita inginkan. Karena itu tak perlu menunggu mood lebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan, lakukan saja apa yan harus dilakukan. Malah seringkali mood itu datang justru ketika kita sedang melakukan suatu pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Í&lt;br /&gt;Suka melakukan pekerjaan&lt;br /&gt;dalam kondisi mendesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang yang memiliki kebiasaan rampung bekerja karena dikejar deadline. Ia tidak bisa bekerja kecuali dalam kondisi terdesak. Kebiasaan ini dalam jangka panjang dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Stres berkepanjangan dapat mengakibatkan berbagai penyakit jiwa dan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Î&lt;br /&gt;Terlalu banyak menghabiskan waktu&lt;br /&gt;untuk santai dan bersenang-senang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersantai dan bersenang-senang bukanlah suatu hal yang tabu kita lakukan. Namun jika dilakukan tanpa perencanaan, kita akan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bersenang-senang. Akibatnya waktu kita banyak terbuang untuk sesuatu yang kurang bermanfaat. Biasanya ini terjadi karena ‘balas dendam’. Setelah selesai melakukan pekerjaan yang urgen (mendesak) dan mengurus tenaga, kita lalu ‘balas dendam’ dengan bersantai sepuas mungkin. Karena itu, hindari sebanyak mungkin bekerja dalam situasi urgen agar tidak ‘balas dendam’ dengan bersantai sebanyak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ï&lt;br /&gt;Sering merasa terlalu sibuk&lt;br /&gt;dan kekurangan waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan terlalu sibuk dan kekurangan waktu hanya akan dialami oleh mereka yang tak mampu mengatur waktunya dengan baik. Orang yang tidak mengatur waktunya tak akan tahu mana pekerjaan penting yang harus dilakukan dan mana pekerjaan yang tidak penting yang tidak perlu dilakukannya. Akibatnya ia akan merasa terlalu banyak yang harus dilakukannya dan tak sebanding dengan waktu yang tersedia. Karena itu wajar jika ia merasa terlalu sibuk dan kekurangan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ð&lt;br /&gt;Sering merasa bersalah karena tak mampu&lt;br /&gt;menyelasaikan suatu pekerjaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering merasa bersalah karena belum melaksanakan apa yang mesti dilakukan merupakan dampak dari pengatuan waktu yang buruk. Perasaan ini biasanya muncul dalam bentuk penyesalan. Menyesal karena tidak melakukannya dari dulu, menyesal karena terlalu banyak membuang waktu untuk kagiatan yang tidak bermanfaat, dan menyesal karena menyia-nyiakan peluang dan kesempatan. Hingga akhirnya merasa dirinya tidak banyak kemajuan atau gagal meraih cita-cita yang diharapkannya, padahal umur semakin bertambah dan jatah waktu hidup semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ñ&lt;br /&gt;Banyak masalah yang tertunda&lt;br /&gt;penyelesaiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak mampu mengatur waktu akan banyak menunda pekerjaan yang mestinya dilakukan. Menunda pekerjaan pada hakikatnya menumpuk masalah, sehingga masalah semakin bertambah dan semakin sulit untuk diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ò&lt;br /&gt;Sering bingung&lt;br /&gt;dalam mengambil keputusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi logis dariorang yang tidak mampu mengatur waktunya dengan baik adalah bingung dengan prioritas pekerjaanya. Mana yang harus lebih dulu dilakukan dan mana yang dapat ditunda. Wajar saja akhirnya ia bingung mengambil keputusan, karena bagaimana ia dapat mengambil keputusan dengan baik jika menentukan prioritas pekerjaan saja sudah bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ó&lt;br /&gt;Produktivitas kerja&lt;br /&gt;berkurang atau tidak efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaturan waktu yang buruk berdampak pada produktivitas kerja. Ini disebabkan karena terbiasa melakukan pekerjan dalam kondisi terburu-buru dan terdesak, sehingga hasilnya tanggung dan kurang berkualitas. Atau karena salah menentukan tingkat kepentingan pekerjaan itu sendiri, sehingga produktifvitasnya tidak sesuai dengan yang diharapkan (tidak efektif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering melakukan pekerjaan&lt;br /&gt;secara tidak efisien&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dampak selanjutnya dari pengaturan waktuyang buruk adalah tidak efisien dalam bekerja. Terlalu banyak sumber daya yang dihabiskan daripada hasil yang diperoleh. Salah satunya karena melakukan pekerjaan dalam kondisi terburu-buru, biasanya dalam situasi seperti itu akan banyak tenaga dan biaya yang terkuras lebih dari semestinya.&lt;br /&gt;Jika indikasi di atas sering dialami berarti Anda perlu waspada. Sebab kemungkinan besar Anda mengalami problem mengatur waktu (manajemen waktu). Jika Anda tidak segera memperbaikinya dengan cara mengatur kembali waktu Anda, maka Anda akan mengalami dampak dari pengaturan waktu yang buruk, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Menimbulkan rasa stress dan bersalah;&lt;br /&gt;2.      Mengabaikan apa yang penting dan bermakna dalam hidup;&lt;br /&gt;3.      Selalu terburu-buru, sehingga memprioritaskan jadwal daripada hubungan;&lt;br /&gt;4.      Kurang luwes dan spontan;&lt;br /&gt;5.      Tidak mempunyai waktu untuk pengembangan diri;&lt;br /&gt;6.      Terjebak pada berbagai masalah yang sebenarnya tidak perlu terjadi; dan&lt;br /&gt;7.      Tidak sukses mencapai tujuan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari diri dari berbagai dampak pengaturan waktu yang buruk, Anda perlu menjaga agar sebagian besar aktivitas Anda selalu sesuai dengan misi hidup dan visi peran Anda serta tidak dikerjakan dalam kondisi mendesak. Perhatikan matrk manajemen berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai Misi Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai Visi Peran&lt;br /&gt;Mendesak&lt;br /&gt;Tidak Mendesak&lt;br /&gt;I.                     Hindari sebisa mungkin (Jangan dibiasakan)&lt;br /&gt;II.                   Lakukan sekarang juga (proaktif)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Sesuai Visi Peran&lt;br /&gt;III.                 Delegasikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.                 Lakukan jika ada peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sesuai Misi Hidup dan Visi Peran&lt;br /&gt;V.                   Berani berkata “tidak”&lt;br /&gt;VI.                 Jangan lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 16. Matrik Manajemen Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Matrik Manajemen Waktu, terlihat enam kuadran waktu. Kuadran waktu I adalah aktivitas yang mendesak dan sesuai misi hidup sekaligus sesuai visi peran. Kuadran Waktu II adalah aktivitas tidak mendesak dan sesuai misi hidup sekaligus sesuai visi peran. Kuadran waktu III adalah aktivitas mendesak yang sesuai misi hidup, tapi tidak sesuai visi peran. Kuadran waktu IV adalah aktivitas yang tidak mendesak dan sesuai misi hidup, tapi tidak sesuai visi peran. Kuadran waktu V adalah aktivitas yang mendesak tapi tidak sesuai misi hidup sekaligus tidak sesuai dengan visi peran. Kuadran waktu VI adalah aktivitas yang tidak mendesak dan tidak sesuai misi hidup sekaligus tidak sesuai dengan visi peran.&lt;br /&gt;Jika dicermati kuadran waktu terbaik adalah kuadran II, kuadran yang bisa membuat kita mencapai misi hidup dan dapat menjalankan peran dengan baik. Kuadran yang perlu dilakukan sekarang juga secara proaktif, tanpa menunggu mood dan tanpa perlu menghindari kita dari stres dan penyesalan, serta membawa kita kepada kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Anda perlu berupaya agar waktu Anda lebih banyak berada pada kuadran II.&lt;br /&gt;Sedang kuadran IV adalah kuadran yang memungkinkan fleksibilitas dan peluang. Anda bisa juga menggunakan waktu Anda di kuadran tersebut sebagai prioritas kedua. Kuadran IV adalah kuadran yang memungkinkan Anda mengembangkan diri secara mental, spiritual, sosial, dan fisik. Kuadran yang memungkinkan Anda ‘keluar’ dari jadwal tanpa merasa bersalah karena Anda masih berada pada misi hidup Anda.&lt;br /&gt;Untuk kuadran lainnya, Anda perlu bersikap sesuai dengan yang disebutkan pada matrik. Misalnya, untuk aktivitas yang termasuk kuadran I hindari sebisa mungkin. Untuk kuadran III, delegasikan ke orang lain. Kuadran V, Anda harus bernai berkata ‘tidak’. Sedang kuadran VI, jangan Anda lakukan walau betapa besar godaannya.&lt;br /&gt;Memang tak mungkin kita menghilangkan sama sekali aktivitas kuadran I, III, V dan VI karena hal itu pasti terjadi. Namun kita harus berupaya dengan disiplin yang tinggi untuk memperbanyak waktu kita di kuadran II (atau paling tidak kuadran IV). Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan waktu di kuadran II adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Jangan menunda-nunda melakukan pekerjaan:&lt;br /&gt;2.      Dahulukan tindakan pencegahan (preventif) daripada tindakan kuratif (pengobatan);&lt;br /&gt;3.      Hati-hati dengan waktu luang di antara dua waktu sibuk yang acapkali melenakan;&lt;br /&gt;4.      Sempatkan membuat perencanaan, walau sederhana; dan&lt;br /&gt;5.      Sempatkan melakukan evaluasi dan instrospeksi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi dari Matrik Manajemen Waktu dapat terlihat dari cara Anda melakukan aktivitas pekanan. Agar aktivitas pekanan Anda lebih banyak berada di kuadran II, sebagai kuadran terbaik, Anda perlu membuat rencana pekanan. Untuk itu, Anda perlu mempunyai Lembar Waktu Pekanan seperti Gambar 17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan ke:&lt;br /&gt;Ahad&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Rabu&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt;Jum’at&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt;PRIORITAS PEKANAN&lt;br /&gt;Janji Temu / Komitmen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;08.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;09.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;10.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;11.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;12.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;13.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;14.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;15.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;16.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;17.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;18.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;19.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;20.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas Hari Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR KERJA PEKANAN&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 17. Lembar waktu pekanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar Waktu Pekanan (seperti Gambar 17) perlu diisi dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Isi pada kolom Peran berbagai peran Anda sesuai dengan Lembar Visi Peran.&lt;br /&gt;2.      Isi aktivitas untuk pencapaian visi peran Anda di kolom Janji. Namun jika Anda belum mengetahui waktunya secara pasti isi pada kolom Prioritas Hari Ini atau Prioritas Pekan Ini. Prioritas Hari Ini adalah hal-hal yang harus Anda kerjakan dalam sehari tapi Anda belum mengetahui pasti jadwalnya. Sedangkan Prioritas Pekan Ini adalah hal-hal yang harus Anda lakukan dalam sepekan, tapi Anda belum mengetahui pasti kapan hari mengerjakannya.&lt;br /&gt;3.      Pada waktu mengisi aktivitas yang sesuai visi peran. Nomori aktivitas tersebut dengan nomor peran yang terdapat pada kolom Peran.&lt;br /&gt;4.      Sebaiknya semua peran ada aktivitasnya dalam Lembar Waktu Pekanan. Namun jumlah aktivitasnya belum tentu sama. Biasanya peran-peran utama akan mendapatkan jatah waktu yang lebih banyak daripada peran pembantu. Misalnya, peran sebagai karyawan jumlah waktunya akan lebih banyak daripada peran sebagai warga masyarakat.&lt;br /&gt;5.      Untuk menjaga agar Anda dapat memenuhi berbagai tugas dan tanggung jawab, idealnya setiap peran ada aktivitasnya dalam Lembar Waktu Pekanan. Jika ada peran yang tidak ada aktivitasnya dalam Lembar Waktu Pekanan hal itu hanya dapat ditolerir untuk sementara. Upayakan agar dalam Lembar Waktu Pekanan pekan selanjutnya peran tersebut ada aktivitasnya. Toleransi untuk tidak melaksanakan suatu peran dalam sepekan adalah relatif. Jika hal itu termasuk peran utama maka tidak boleh terlalu lama. Jika termasuk peran pembantu maka tergantung dari sejauh mana tuntutan terhadap peran teersebut. Namun hindari ada peran yang sama sekali tidak ada aktivitasnya selama jangka waktu pencapaian visi peran.&lt;br /&gt;6.      Upayakan agar Lembar Pekanan Anda tidak seluruhnya terisi dengan aktivitas. Beri ruang kosong antara satu aktivitas ke aktivitas lainnya. Hal ini untuk menjaga kemungkinan adanya aktivitas Kuadran IV (aktivitas berdasarkan peluang, aktivitas pengembangan diri dan membina hubungan).&lt;br /&gt;7.      Aktivitas padaLembar Waktu Pekanan harus lebih banyak aktivitas Kuadran II, bukan kuadran lainnya. Jika Anda terpaksa membuat janji untuk aktivitas kuadran lainnya batasi agar jangan terlalu banyak.&lt;br /&gt;8.      Lembar Waktu Pekanan sebaiknya diisi tiap pekan (hariyang dianjurkan adalah hari ahad malam atau senin pagi). Evaluasi lembar Waktu Pekanan untuk pekan lalu. Evaluasi mana yang belum. Jika belum, evaluasi apa sebabnya. Kemudian isi Lembar Waktu Pekanan untuk pekan ini yang dibutuhkan untuk mengisi Lembar Waktu Pekanan hanya 15-30 menit. Luangkan waktu Anda untuk mengisinya. Karena hal itu akan mengarahkan Anda kepada pencapaian visi peran secara berangsur-angsur m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita lihat, bagaimana Ahmad Saputra mengisi Lembar Waktu Pekanannya.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan ke:&lt;br /&gt;Ahad&lt;br /&gt;Senin&lt;br /&gt;Selasa&lt;br /&gt;Rabu&lt;br /&gt;Kamis&lt;br /&gt;Jum’at&lt;br /&gt;Sabtu&lt;br /&gt;PRIORITAS PEKANAN&lt;br /&gt;Janji Temu / Komitmen&lt;br /&gt;- Membuat Modul         Á&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;   Pelatihan&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Ceramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;- Membuat Proposal     Å&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Ceramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Olahraga&lt;br /&gt;   Program ‘No Drugs’&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Ceramah&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;Menulis ArtikelÄ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kliping Artikel           Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;À&lt;br /&gt;Mengajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Instruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Instruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis Artikel Ä&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Instruktur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim tetangga    Ã&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak    Â&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama anak    Â&lt;br /&gt;Bersama anak    Â&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengajian RemajaÅ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut Æ pengajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut Æ pengajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prioritas Hari Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;Æ&lt;br /&gt;Tilawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Á&lt;br /&gt;Baca buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;PERAN KERJA PEKANAN&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1  Dosen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2  Pembicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3  Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4  Warga Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5  Penulis Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6  Organisator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7  Pengembangan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 18. Buat Lembar Waktu Pekanan Ahmad Saputra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan V:&lt;br /&gt;Membuat Rencana Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin,&lt;br /&gt;maka ia celaka. Barang siapa yang hari inisama dengan hari&lt;br /&gt;kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa yang hari&lt;br /&gt;ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia beruntung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al-Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana mengatur waktu berawal dari tidak adanya rencana harian. Ada sebagian orang yang membiarkan hari-harinya berlalu bagai air yang mengalir. Ia tidak memiliki rencana tentang apa yang akan dikerjakan hari ini. Ia bekerja berdasarkan modd dan kesenangan, bukan berdasarkan misi dan pencapaian visi peran. Ia sering menunda-nunda pekerjaan. Dampaknya, pekerjaannya menjadi&lt;br /&gt;menumpuk pada satu waktu. Ia menjadi sibuk pada satu peran dan mengabaikan peran yang lainnya. Akhirnya, ada kekecewaan dan stres  berkepanjangan dalam hidupnya. Hanya penyesalanlah yang akan diraih, bukan keberhasilan.&lt;br /&gt;Apakah Anda termasuk orang yang sering menunda-nunda pekerjaan? Apabila jawabannya ‘ya’, berarti selamat! Anda telah jujur terhadap diri Anda sendiri. Sampai batas-batas tertentu kita semua memang begitu. Menunda pekerjaan sudah menjadi ciri yang universal, sampai-sampai ada sebuah Organisasi Penundaan Internasional yang anggotanya mempunyai rencana untuk menyelenggarakan pertemuan, tetapi sampai sekarang belum pernah terlaksana karena terus ditunda.&lt;br /&gt;Menunda pekerjaan berarti tidak melaksanakan pekerjaan atau tidak menuntaskan pekerjaan yang seharusnya Anda kerjakan pada saat itu juga. Penundaan akan menjadi masalah yang berat bila Anda mengabaikan atau menunda pelaksanaan hal-hal yang sebenarnya penting bagi diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;Sudah banyak contoh tentang akibat buruk yang timbul karena kita sering terlena oleh keasyikan menuruti kata hati untuk selalu menunda-nunda pekerjaan. Ini adalah penghambat kesuksesan dan efektivitas hidup.&lt;br /&gt;Salah satu akibat menunda pekerjaan adalah menyia-nyiakan waktu sekarang yang tak mungkin kembali lagi. Dale Carnegie pernah berkata, “Salah satu hal yang paling tragis yang saya ketahui mengenai sifat manusia adalah bahwa kita semua cenderung menyia-nyiakan waktu sepanjang kehidupan ini. Kita seringkali hanyut memimpikan taman bunga mawar surgawi di atas cakrawala sana, dan bukannya menikmati keindahan bunga mawar yang sedang berkembang di luar jendela kamar pada pagi hari ini”.&lt;br /&gt;Agaknya ini merupakan kerugian terbesar yang kita alami akibat penundaan, Karena hari ini adalah satu-satunya waktu yang kita miliki. Semua pembicaraan, harapan dan keinginan di masa depan tidak lebih dari omong kosong jika kita tidak segera memanfaatkan masa sekarang dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Kerugian lain dari menunda-nunda pekerjaan adalah meningkatnya rasa bersalah dan frustasi karena pekerjaan semakin menumpuk dan keinginan tidak tercapai. “Apabila Anda ingin membuat pekerjaan yang ringan menjadi pekerjaan yang nampak berat, tunda saja pelaksanaan pekerjaan itu” (Ohlin Miller). Karir juga tak kunjung maju, hidup menjadi penuh dengan ketidakpastian, hubungan interpersonal menjadi kurang serasi, dan terjadi keletihan kronis karena kesibukan tak berkesudahan yang dapat berakibat pada gangguan fisik dan jiwa.&lt;br /&gt;Untuk tidak membiasakan diri menunda-nunda pekerjaan, dibawah ini ada beberapa kiat yang dapat membantu Anda untuk mengatasi kebiasaan buruk tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Sadari dan akuilah bahwa penundaan merupakan suatu cara hisup yang tidak ada manfaatnya, bahkan banyak merugikan. Dengan menunda pekerjaan, maka emosi Anda akan selalu tegang. Apakah Anda ingin hidup dengan selalu mengalami kekecewaan, keletihan dan tenggelam dalam penyesalan berkepanjangan? Tentu saja tidak.&lt;br /&gt;2.      Salah satu sebab menunda-nunda pekerjan karena anggapan sulinya pekerjaan tersebut. Karena itu, pecahlah pekerjaan yang tampaknya terlalu berat menjadi beberapa pekerjaan kecil. Henry Ford suatu ketika berkata, “Tidak ada pekerjaan yang terlalu sulit bila hal tersebut dibagi menjadi beberapa bagian pekerjaan kecil”.&lt;br /&gt;3.      Hadapilah tugas-tugas yang tidak menyenangkan secara sungguh-sungguh. Jika memungkinkan, berikan waktu sedikit, misalnya lima atau atau sepuluh menit, tetapi secara berkala. Kemudian laksanakan tugas saat itu juga dan berhentilah apabila waktunya habis. Sadari sepenuhnya bahwa jika Anda tidak melakukannya saat itu juga maka Anda hanya akan menggabungkan beban pekerjaan sekarang dengan beban pekerjaan mendatang yang semakin lama semakin memberatkan dan tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;4.      Lakukan pekerjaan yang memerlukan gerakan fisik pada saat awal memulai pekerjaan. Kadang-kadang diperlukan sedikit gerakan fisik untuk membangkitkan semangat dalam rangka melaksanakan tugas penting. Jika Anda ingin membuat laporan, ambillah sehelai kertas dan susun daftar pokok pikiran, sekarang juga. Apakah ada kesalahpahaman yang perlu diselesaikan secara tuntas dengan seorang relasi? Carilah nomor telponnya, sekarang juga.&lt;br /&gt;5.      Catatlah hal-hal yang menyenangkan yang akan terjadi bila Anda melaksanakan suatu pekerjaan. Catat juga segala macam kerugian yang timbul jika Anda terus menunda pekerjaan. Biasanya akan segera tampak bahwa manfaat dari suatu tindakan jauh lebih banyak daripada kerugian yang akan timbul akibat sikap yang pasif. Teknik semacam ini akan membantu Anda dalam membangkitkan gairah untuk mulai bekerja.&lt;br /&gt;6.      Buatlah perjanjian dengan orang lain atau ceritakanlah apa yang akan Anda lakukan kepada orang lain. Teknik ini akan memacu kita untuk menepati jadwal waktu menyelesaikan pekerjaan karena adanya perasaan malu jika tidak selesai.&lt;br /&gt;7.      Berikan hadiah untuk diri Anda sendiri bila Anda berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan. Sebaliknya, berikan hukuman apabila gagal. Sesuaikan hadiah dengan besarnya tugas yang harus Anda selesaikan. Misalkan apabila Anda belajar lagi untuk memperoleh gelar yang lebih tinggi, berjanjilah pada diri sendiri untuk melakukan perjalanan wisata yang menyenangkan setelah lulus nanti.&lt;br /&gt;8.      Bersikaplah tegas dan milikilah keberanian untuk bertindak. Keberanian adalah kemampuan untuk bertindak pada saat Anda merasa takut melakukan sesuatu. Ali bin Abu Thalib berkata, “Ketakutan yang kita bayangkan biasanya lebih besar daripada kejadian yang sebenarnya”. Menunda-nunda bertindak akan membuat bayangan kegagalan semakin lama semakin besar. Karena itu, bertindaklah sekarang juga agar bayangan kegagalan tidak menghantui Anda.&lt;br /&gt;9.      Janganlah terlalu mudah merasa bosan. Ambil jalan lain untuk menuju ke kantor, agar Anda tidak jemu dengan rute yang itu-itu saja. Adakan makan siang di restoran yang berbeda. Bac buku yang berbeda setiap hari. Dunia ini sungguh beraneka ragam, tetap waktu untuk menikmatinya terlalu sedikit. Karena itu, mengapa kita melakukan hal yang itu-itu juga, sehingga membuat kita cepat bosan?&lt;br /&gt;10.  Sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana saya dapat memanfaatkan waktu dan tenaga dengan sebaik-baiknya sekarang ini juga.” Apabila jawabannya adalah, “Bukan yang sedang Anda lakukan sekarang,” maka segera hentkan pekerjaan itu dan manfaatkan waktu dan tenaga Anda untuk melaksanakan tugas lain yang lebih penting.&lt;br /&gt;11.  Akhirnya, ajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri setiap pagi, “Masalah terbesar apakah yang akan saya hadapi sekarang, dan apa yang harus saya lakukan untuk mengatasinya hari ini juga?” Catat hal-hal yang akan Anda lakukan hari ini, kemudian beri nomor urut berdasarkan kepentingannya. Lakukan mulai dari yang palng penting dan jangan tergiur untuk melakukan apa yang paling menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Anda mengisi Lembar Waktu Pekanan, maka Anda perlu membuat rencana harian. Rencana harian adalah pencapaian dari hari ke hari visi peran Anda. Ia merupakan langkah-langkah kecil tanpa penundaan menuju terwujudnya misi dan visi besar Anda.&lt;br /&gt;Rencana harian sebenarnya sudah tercermin dalam Lembar Waktu Pekanan. Namun belum detail dan masih ada kemungkinan terjadinya perubahan. Karena itu, lembar Waktu Pekanan perlu dijabarkan lebh lanjut dalam rencana harian. Contoh lembar Waktu Harian sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR WAKTU HARIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                         Hari/Tanggal :&lt;br /&gt;No Urut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Kate-gori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 20. Contoh Lembar Waktu Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah yang perlu Anda lakukan dalam membuat Lembar Waktu Harian adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Dengan mengacu pada Lembar Waktu Pekanan, jabarkan lebih lanjut apa yang akan Anda kerjakan hari ini. Tulis sedetail mungkin. Jangan terlalu global. Misalnya, jangan tulis ‘bekerja di kantor’, tapi tulis hal-hal apa yang harus Anda kerjakan di kantor (menulis surat untuk Pak Joko, menelpon klien, menghadiri rapat produksi, menemani bos, presentasi produk terbaru, dan lain-lain).&lt;br /&gt;2.      Tulis perkiraan waktu untuk mengerjakannya. Perkiraan waktu secara maksimal, bukan minimal. Misalnya, jika pergi ke tempat klien, masukkan juga lama waktu berangkat dan pulang ari tempat klien, bukan hanya waktu berapa lama Anda bertemu klien.&lt;br /&gt;3.      Urut-urutkan pekerjaan Anda pada hari ini dengan cara memberi nomor urut. Kemudian katagorikan aktivitas Anda berdasarkan kuadran Matrik Manajemen Waktu. Ingat! Aktivitas harian Anda harus lebih banyak aktivitas kuadran II.&lt;br /&gt;4.      Jika masih ada waktu luang dalam Lembar Waktu Harian Anda, biarkan itu kosong untuk memberi peluang melakukan aktivitas mendadak dan spontan. Atau bisa juga Anda mengisinya dengan rencana aktivitas kuadran IV.&lt;br /&gt;5.      Isi Lembar Waktu Harian Anda setiap hari (waktu yang dianjurkan adalah malam hari sebelum tidur atau pagi hari sebelum bekerja). Evaluasi Lembar Waktu Harian setiap hari. Evaluasi mana yang berhasil dikerjakan dan mana yang luput dikerjakan. Evaluasi mengapa Anda luput mengerjakannya. Kemudian isi Lembar Waktu Harian. Untuk hari esok berdasarkan evaluasi hari kemarin. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengisi Lembar Waktu Harian hanya 10 menit. Luangkan waktu Anda untuk mengisinya. Karena hal itu akan mengarahkan Anda kepada pencapaian visi peran Anda secara berangsur-angsur m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ahmad Saputra mengisi Lembar Waktu Pekanan, ia membuat Lembar Waktu Harian seperti terlihat pada gambar 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR WAKTU HARIAN AHMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Selasa, 2 Januari 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Urut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Kate-gori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Menulis Artikel “Kemerosotan Moral Remaja: Salah Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.00 – 11.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Kliping Artikel&lt;br /&gt;11.00 – 13.00&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Istirahat&lt;br /&gt;13.00 – 15.00&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Buat Desain Modul pelatihan&lt;br /&gt;15.00 – 18.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Persiapan Bahan Pengajian Remaja&lt;br /&gt;18.00 – 19.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Pengajian Remaja&lt;br /&gt;19.00 – 21.00&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 21. Lembar Waktu Harian Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtisar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat! Anda telah membaca buku ini. Mudah-mudahan buku ini memberikan sumbangsih bagi perubahan hidup Anda di masa mendatang. Dalam buku ini, Anda telah belajar tentang cara meraih sukses dengan meraihnya sedikit demi deikit. Anda telah belajar tentang cara menguasai waktu dengan metode Breaking The Time sebagai modal utama untuk sukses. Anda telah mengetahui cara membuat misi, peran, visi peran, rencana pekanan, dan rencana harian sebagai langkah mengatur waktu yang efektif.&lt;br /&gt;Sekarang tinggal bagaimana Anda merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Mungkin pada tahap awal Anda mengalami kesulitan an kecanggungan untuk merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Tapi percayalah! Hal itu merupakan sesuatu yang wajar ketika Anda pertama kali melakukan sesuatu. Ada pepatah yang mengatakan, “Mudah karena biasa.” Jika Anda terbiasa melakukan apa yang terdapat dalam buku ini, Anda akan menjadi mudah melakukannya. Bahkan bisa menjadi suatu karakter baru yang terus melekat sepanjang hidup Anda. Lakukanlah secara konsisten apa yang terdapat dalam buku ini! Dan berdoalah kepada Allah agar Anda diberi kemudahan dalam mengatur waktu.&lt;br /&gt;Jika Anda tetap mengalami kesulitan merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Atau ingin berkonsultasi dan mengikuti pelatihan yang khusus membahas apa yang disampaikan pada buku ini, silakan hubungi kami di Lembaga Manajemen LP2U Jl. Anggrek Nelimurni Blok B No. 12 Slipi – Jakarta Barat Telp. (021) 5494719, Faks. (021) 53678452, E-mail &lt;a href="mailto:LP2U_center@lycos.com"&gt;LP2U_center@lycos.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~o0O0o~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;PERAN KERJA PEKANAN&lt;br /&gt;PERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1  Dosen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2  Pembicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3  Keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4  Warga Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5  Penulis Artikel&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6  Organisator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7  Pengembangan Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 18. Buat Lembar Waktu Pekanan Ahmad Saputra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan V:&lt;br /&gt;Membuat Rencana Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin,&lt;br /&gt;maka ia celaka. Barang siapa yang hari inisama dengan hari&lt;br /&gt;kemarin, maka ia merugi. Dan barang siapa yang hari&lt;br /&gt;ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia beruntung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Al-Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bencana mengatur waktu berawal dari tidak adanya rencana harian. Ada sebagian orang yang membiarkan hari-harinya berlalu bagai air yang mengalir. Ia tidak memiliki rencana tentang apa yang akan dikerjakan hari ini. Ia bekerja berdasarkan modd dan kesenangan, bukan berdasarkan misi dan pencapaian visi peran. Ia sering menunda-nunda pekerjaan. Dampaknya, pekerjaannya menjadi&lt;br /&gt;menumpuk pada satu waktu. Ia menjadi sibuk pada satu peran dan mengabaikan peran yang lainnya. Akhirnya, ada kekecewaan dan stres  berkepanjangan dalam hidupnya. Hanya penyesalanlah yang akan diraih, bukan keberhasilan.&lt;br /&gt;Apakah Anda termasuk orang yang sering menunda-nunda pekerjaan? Apabila jawabannya ‘ya’, berarti selamat! Anda telah jujur terhadap diri Anda sendiri. Sampai batas-batas tertentu kita semua memang begitu. Menunda pekerjaan sudah menjadi ciri yang universal, sampai-sampai ada sebuah Organisasi Penundaan Internasional yang anggotanya mempunyai rencana untuk menyelenggarakan pertemuan, tetapi sampai sekarang belum pernah terlaksana karena terus ditunda.&lt;br /&gt;Menunda pekerjaan berarti tidak melaksanakan pekerjaan atau tidak menuntaskan pekerjaan yang seharusnya Anda kerjakan pada saat itu juga. Penundaan akan menjadi masalah yang berat bila Anda mengabaikan atau menunda pelaksanaan hal-hal yang sebenarnya penting bagi diri Anda sendiri.&lt;br /&gt;Sudah banyak contoh tentang akibat buruk yang timbul karena kita sering terlena oleh keasyikan menuruti kata hati untuk selalu menunda-nunda pekerjaan. Ini adalah penghambat kesuksesan dan efektivitas hidup.&lt;br /&gt;Salah satu akibat menunda pekerjaan adalah menyia-nyiakan waktu sekarang yang tak mungkin kembali lagi. Dale Carnegie pernah berkata, “Salah satu hal yang paling tragis yang saya ketahui mengenai sifat manusia adalah bahwa kita semua cenderung menyia-nyiakan waktu sepanjang kehidupan ini. Kita seringkali hanyut memimpikan taman bunga mawar surgawi di atas cakrawala sana, dan bukannya menikmati keindahan bunga mawar yang sedang berkembang di luar jendela kamar pada pagi hari ini”.&lt;br /&gt;Agaknya ini merupakan kerugian terbesar yang kita alami akibat penundaan, Karena hari ini adalah satu-satunya waktu yang kita miliki. Semua pembicaraan, harapan dan keinginan di masa depan tidak lebih dari omong kosong jika kita tidak segera memanfaatkan masa sekarang dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Kerugian lain dari menunda-nunda pekerjaan adalah meningkatnya rasa bersalah dan frustasi karena pekerjaan semakin menumpuk dan keinginan tidak tercapai. “Apabila Anda ingin membuat pekerjaan yang ringan menjadi pekerjaan yang nampak berat, tunda saja pelaksanaan pekerjaan itu” (Ohlin Miller). Karir juga tak kunjung maju, hidup menjadi penuh dengan ketidakpastian, hubungan interpersonal menjadi kurang serasi, dan terjadi keletihan kronis karena kesibukan tak berkesudahan yang dapat berakibat pada gangguan fisik dan jiwa.&lt;br /&gt;Untuk tidak membiasakan diri menunda-nunda pekerjaan, dibawah ini ada beberapa kiat yang dapat membantu Anda untuk mengatasi kebiasaan buruk tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Sadari dan akuilah bahwa penundaan merupakan suatu cara hisup yang tidak ada manfaatnya, bahkan banyak merugikan. Dengan menunda pekerjaan, maka emosi Anda akan selalu tegang. Apakah Anda ingin hidup dengan selalu mengalami kekecewaan, keletihan dan tenggelam dalam penyesalan berkepanjangan? Tentu saja tidak.&lt;br /&gt;2.      Salah satu sebab menunda-nunda pekerjan karena anggapan sulinya pekerjaan tersebut. Karena itu, pecahlah pekerjaan yang tampaknya terlalu berat menjadi beberapa pekerjaan kecil. Henry Ford suatu ketika berkata, “Tidak ada pekerjaan yang terlalu sulit bila hal tersebut dibagi menjadi beberapa bagian pekerjaan kecil”.&lt;br /&gt;3.      Hadapilah tugas-tugas yang tidak menyenangkan secara sungguh-sungguh. Jika memungkinkan, berikan waktu sedikit, misalnya lima atau atau sepuluh menit, tetapi secara berkala. Kemudian laksanakan tugas saat itu juga dan berhentilah apabila waktunya habis. Sadari sepenuhnya bahwa jika Anda tidak melakukannya saat itu juga maka Anda hanya akan menggabungkan beban pekerjaan sekarang dengan beban pekerjaan mendatang yang semakin lama semakin memberatkan dan tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;4.      Lakukan pekerjaan yang memerlukan gerakan fisik pada saat awal memulai pekerjaan. Kadang-kadang diperlukan sedikit gerakan fisik untuk membangkitkan semangat dalam rangka melaksanakan tugas penting. Jika Anda ingin membuat laporan, ambillah sehelai kertas dan susun daftar pokok pikiran, sekarang juga. Apakah ada kesalahpahaman yang perlu diselesaikan secara tuntas dengan seorang relasi? Carilah nomor telponnya, sekarang juga.&lt;br /&gt;5.      Catatlah hal-hal yang menyenangkan yang akan terjadi bila Anda melaksanakan suatu pekerjaan. Catat juga segala macam kerugian yang timbul jika Anda terus menunda pekerjaan. Biasanya akan segera tampak bahwa manfaat dari suatu tindakan jauh lebih banyak daripada kerugian yang akan timbul akibat sikap yang pasif. Teknik semacam ini akan membantu Anda dalam membangkitkan gairah untuk mulai bekerja.&lt;br /&gt;6.      Buatlah perjanjian dengan orang lain atau ceritakanlah apa yang akan Anda lakukan kepada orang lain. Teknik ini akan memacu kita untuk menepati jadwal waktu menyelesaikan pekerjaan karena adanya perasaan malu jika tidak selesai.&lt;br /&gt;7.      Berikan hadiah untuk diri Anda sendiri bila Anda berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan. Sebaliknya, berikan hukuman apabila gagal. Sesuaikan hadiah dengan besarnya tugas yang harus Anda selesaikan. Misalkan apabila Anda belajar lagi untuk memperoleh gelar yang lebih tinggi, berjanjilah pada diri sendiri untuk melakukan perjalanan wisata yang menyenangkan setelah lulus nanti.&lt;br /&gt;8.      Bersikaplah tegas dan milikilah keberanian untuk bertindak. Keberanian adalah kemampuan untuk bertindak pada saat Anda merasa takut melakukan sesuatu. Ali bin Abu Thalib berkata, “Ketakutan yang kita bayangkan biasanya lebih besar daripada kejadian yang sebenarnya”. Menunda-nunda bertindak akan membuat bayangan kegagalan semakin lama semakin besar. Karena itu, bertindaklah sekarang juga agar bayangan kegagalan tidak menghantui Anda.&lt;br /&gt;9.      Janganlah terlalu mudah merasa bosan. Ambil jalan lain untuk menuju ke kantor, agar Anda tidak jemu dengan rute yang itu-itu saja. Adakan makan siang di restoran yang berbeda. Bac buku yang berbeda setiap hari. Dunia ini sungguh beraneka ragam, tetap waktu untuk menikmatinya terlalu sedikit. Karena itu, mengapa kita melakukan hal yang itu-itu juga, sehingga membuat kita cepat bosan?&lt;br /&gt;10.  Sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana saya dapat memanfaatkan waktu dan tenaga dengan sebaik-baiknya sekarang ini juga.” Apabila jawabannya adalah, “Bukan yang sedang Anda lakukan sekarang,” maka segera hentkan pekerjaan itu dan manfaatkan waktu dan tenaga Anda untuk melaksanakan tugas lain yang lebih penting.&lt;br /&gt;11.  Akhirnya, ajukan pertanyaan ini kepada diri sendiri setiap pagi, “Masalah terbesar apakah yang akan saya hadapi sekarang, dan apa yang harus saya lakukan untuk mengatasinya hari ini juga?” Catat hal-hal yang akan Anda lakukan hari ini, kemudian beri nomor urut berdasarkan kepentingannya. Lakukan mulai dari yang palng penting dan jangan tergiur untuk melakukan apa yang paling menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Anda mengisi Lembar Waktu Pekanan, maka Anda perlu membuat rencana harian. Rencana harian adalah pencapaian dari hari ke hari visi peran Anda. Ia merupakan langkah-langkah kecil tanpa penundaan menuju terwujudnya misi dan visi besar Anda.&lt;br /&gt;Rencana harian sebenarnya sudah tercermin dalam Lembar Waktu Pekanan. Namun belum detail dan masih ada kemungkinan terjadinya perubahan. Karena itu, lembar Waktu Pekanan perlu dijabarkan lebh lanjut dalam rencana harian. Contoh lembar Waktu Harian sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR WAKTU HARIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                         Hari/Tanggal :&lt;br /&gt;No Urut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Kate-gori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 20. Contoh Lembar Waktu Harian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa langkah yang perlu Anda lakukan dalam membuat Lembar Waktu Harian adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Dengan mengacu pada Lembar Waktu Pekanan, jabarkan lebih lanjut apa yang akan Anda kerjakan hari ini. Tulis sedetail mungkin. Jangan terlalu global. Misalnya, jangan tulis ‘bekerja di kantor’, tapi tulis hal-hal apa yang harus Anda kerjakan di kantor (menulis surat untuk Pak Joko, menelpon klien, menghadiri rapat produksi, menemani bos, presentasi produk terbaru, dan lain-lain).&lt;br /&gt;2.      Tulis perkiraan waktu untuk mengerjakannya. Perkiraan waktu secara maksimal, bukan minimal. Misalnya, jika pergi ke tempat klien, masukkan juga lama waktu berangkat dan pulang ari tempat klien, bukan hanya waktu berapa lama Anda bertemu klien.&lt;br /&gt;3.      Urut-urutkan pekerjaan Anda pada hari ini dengan cara memberi nomor urut. Kemudian katagorikan aktivitas Anda berdasarkan kuadran Matrik Manajemen Waktu. Ingat! Aktivitas harian Anda harus lebih banyak aktivitas kuadran II.&lt;br /&gt;4.      Jika masih ada waktu luang dalam Lembar Waktu Harian Anda, biarkan itu kosong untuk memberi peluang melakukan aktivitas mendadak dan spontan. Atau bisa juga Anda mengisinya dengan rencana aktivitas kuadran IV.&lt;br /&gt;5.      Isi Lembar Waktu Harian Anda setiap hari (waktu yang dianjurkan adalah malam hari sebelum tidur atau pagi hari sebelum bekerja). Evaluasi Lembar Waktu Harian setiap hari. Evaluasi mana yang berhasil dikerjakan dan mana yang luput dikerjakan. Evaluasi mengapa Anda luput mengerjakannya. Kemudian isi Lembar Waktu Harian. Untuk hari esok berdasarkan evaluasi hari kemarin. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengisi Lembar Waktu Harian hanya 10 menit. Luangkan waktu Anda untuk mengisinya. Karena hal itu akan mengarahkan Anda kepada pencapaian visi peran Anda secara berangsur-angsur m&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Ahmad Saputra mengisi Lembar Waktu Pekanan, ia membuat Lembar Waktu Harian seperti terlihat pada gambar 21.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBAR WAKTU HARIAN AHMAD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal : Selasa, 2 Januari 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Urut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu&lt;br /&gt;Kate-gori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Menulis Artikel “Kemerosotan Moral Remaja: Salah Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;08.00 – 11.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Kliping Artikel&lt;br /&gt;11.00 – 13.00&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Istirahat&lt;br /&gt;13.00 – 15.00&lt;br /&gt;IV&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Buat Desain Modul pelatihan&lt;br /&gt;15.00 – 18.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Persiapan Bahan Pengajian Remaja&lt;br /&gt;18.00 – 19.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Pengajian Remaja&lt;br /&gt;19.00 – 21.00&lt;br /&gt;II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 21. Lembar Waktu Harian Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtisar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat! Anda telah membaca buku ini. Mudah-mudahan buku ini memberikan sumbangsih bagi perubahan hidup Anda di masa mendatang. Dalam buku ini, Anda telah belajar tentang cara meraih sukses dengan meraihnya sedikit demi deikit. Anda telah belajar tentang cara menguasai waktu dengan metode Breaking The Time sebagai modal utama untuk sukses. Anda telah mengetahui cara membuat misi, peran, visi peran, rencana pekanan, dan rencana harian sebagai langkah mengatur waktu yang efektif.&lt;br /&gt;Sekarang tinggal bagaimana Anda merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Mungkin pada tahap awal Anda mengalami kesulitan an kecanggungan untuk merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Tapi percayalah! Hal itu merupakan sesuatu yang wajar ketika Anda pertama kali melakukan sesuatu. Ada pepatah yang mengatakan, “Mudah karena biasa.” Jika Anda terbiasa melakukan apa yang terdapat dalam buku ini, Anda akan menjadi mudah melakukannya. Bahkan bisa menjadi suatu karakter baru yang terus melekat sepanjang hidup Anda. Lakukanlah secara konsisten apa yang terdapat dalam buku ini! Dan berdoalah kepada Allah agar Anda diberi kemudahan dalam mengatur waktu.&lt;br /&gt;Jika Anda tetap mengalami kesulitan merealisasikan apa yang terdapat dalam buku ini. Atau ingin berkonsultasi dan mengikuti pelatihan yang khusus membahas apa yang disampaikan pada buku ini, silakan hubungi kami di Lembaga Manajemen LP2U Jl. Anggrek Nelimurni Blok B No. 12 Slipi – Jakarta Barat Telp. (021) 5494719, Faks. (021) 53678452, E-mail &lt;a href="mailto:LP2U_center@lycos.com"&gt;LP2U_center@lycos.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~o0O0o~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-1222104254410255936?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/1222104254410255936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=1222104254410255936&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1222104254410255936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1222104254410255936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/04/breaking-time.html' title='BREAKING THE TIME'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5129032542461040685</id><published>2008-03-30T21:28:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T22:04:32.679-07:00</updated><title type='text'>CURRICULUM VITAE</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Agus Riyanto, S.Pd.I&lt;br /&gt;HP 081803195948&lt;br /&gt;Email: &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:agoesr_81@yahoo.co.id"&gt;&lt;span style="font-family:arial;color:#ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;agoesr_81@yahoo.co.id&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color:#6633ff;"&gt;CURRICULUM VITAE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color:#3366ff;"&gt;PERSONAL DATA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#339999;"&gt;Name : Agus Riyanto, S.Pd.I&lt;br /&gt;Place/Date of Birth : Magetan, 29 Januari 1981&lt;br /&gt;Address : Dusun Sampung, RT 11, RW 03, Desa Sidorejo,&lt;br /&gt;Kec. Plaosan, Kab. Magetan, Jawa Timur&lt;br /&gt;Interest : reading, sport, and traveling&lt;br /&gt;Sex : Male&lt;br /&gt;Marital Status : Not Married&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;WORKING EXPERIENCE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2001 – 2003&lt;br /&gt;Marketing Education Book and Islamic Cassette&lt;br /&gt;2003 – 2004&lt;br /&gt;PT Wijaya Ekspress International&lt;br /&gt;Position: Sales&lt;br /&gt;During 2004&lt;br /&gt;§ SMP Al Hikmah Surabaya&lt;br /&gt;§ Position: Librarian&lt;br /&gt;2004 – present&lt;br /&gt;SMA Al Falah Surabaya&lt;br /&gt;Position: Arabic Teacher&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WRITING ACHIVEMENTS&lt;br /&gt;§ Writing an Arabic module for the students class X and XI at Al Falah Senior High School&lt;br /&gt;§ Writing speech text Arbic fot speech contest&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#66cccc;"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;EDUCATIONAL BACKGROUND&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;2004 - 2006&lt;br /&gt;University : Muhammadiyah University, Sidoarjo&lt;br /&gt;Faculty : Tarbiyah Department&lt;br /&gt;Major : Arabic&lt;br /&gt;2001 - 2003&lt;br /&gt;University : Ma`had Umar bin Al Khatab, Surabaya&lt;br /&gt;Faculty : Arabic Department&lt;br /&gt;Major : Arabic&lt;br /&gt;1997 – 2000&lt;br /&gt;School : SMU Negeri 3, Magetan&lt;br /&gt;Major : Social&lt;br /&gt;1994 – 1997 : SMP Negeri 1, Plaosan&lt;br /&gt;1988 – 1994 : SD Negeri 2 Sidorejo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMINAR&lt;br /&gt;ESQ (Emotional Social Quotient) 2006&lt;br /&gt;SSQ (Social Science Qur`an) 2005&lt;br /&gt;Workshop Komputer Aktif 2004&lt;br /&gt;Workshop Olimpiade Bahasa Arab 2004&lt;br /&gt;Pelatihan Motivasi dan Kepemimpinan KDI (Konsorsium Da`wah Indonesia) YDSF (1 tahun) 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORGANIZATIONAL EXPERIENCES&lt;br /&gt;MASIKA (ICMI) 2005-2006&lt;br /&gt;A member of Faculty BEM UMS 2004-2005&lt;br /&gt;A member of HMJ UMS 2004-2005&lt;br /&gt;A member of BEM Ma`had Umar bin Al Khatab 2003-2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMMARIES&lt;br /&gt;Good personal and interpersonally&lt;br /&gt;Willing to work hard individually as well as within a team&lt;br /&gt;Easy to adapt to the new environment&lt;br /&gt;Good preacher&lt;br /&gt;Fluent in written and spoken Arabic&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5129032542461040685?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5129032542461040685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5129032542461040685&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5129032542461040685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5129032542461040685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/03/curriculum-vitae.html' title='CURRICULUM VITAE'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5000844623222593372</id><published>2008-03-28T11:59:00.000-07:00</published><updated>2008-03-28T20:27:21.491-07:00</updated><title type='text'>Family Gadhreng</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-1DSFbP3EI/AAAAAAAAAB8/fUaIe5MWg1M/s1600-h/DSCN5668.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182872724146478146" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-1DSFbP3EI/AAAAAAAAAB8/fUaIe5MWg1M/s400/DSCN5668.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-1A5lbP3DI/AAAAAAAAAB0/52y84IsueMQ/s1600-h/IMG_0895.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5000844623222593372?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5000844623222593372/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5000844623222593372&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5000844623222593372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5000844623222593372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/03/family-gadhreng.html' title='Family Gadhreng'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-1DSFbP3EI/AAAAAAAAAB8/fUaIe5MWg1M/s72-c/DSCN5668.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5694827767062907483</id><published>2008-03-26T21:09:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T21:18:30.642-07:00</updated><title type='text'>SURGA DI TELAPAK KAKI IBU</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="3" cellspacing="2" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;table cellpading="0" align="center" cellspacing="0" width="90%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span class="smalltype"&gt;Kita sering mendengar hadits                          “Surga berada di bawah telapak kaki ibu”, bagaimana                          kedudukan hadits ini? Syaikh Al-Bany dalam Silisilatu                          Ahaadits Ad-Dhaifah menjelaskan tentang 2 riwayat,                          sebuah riwayat merupakan hadits maudhu, sedangkan                          riwayat yang lain merupakan hadits hasan, oleh karena                          itu hendaknya kita berpegang pada matan hadits yang                          hasan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td class="tengahtop"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td&gt;                   &lt;div align="justify"&gt;                   &lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;الجنة تحت أقدام الأمهات ، من                    شئن أدخلن ، و من شئن أخرجن&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Surga                    berada di bawah telapak kaum ibu. Barangsiapa dikehendakinya                    maka dimasukannya, dan barangsiapa dikehendaki maka                    dikeluarkan darinya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini hadits maudhu'                    (palsu). Telah diriwayarkan oleh Ibnu Adi (I/325) dan juga                    oleh al-Uqaili dalam adh-Dhu'afa dengan sanad dari Musa bin                    Muhammad bin Atha', dari Abul Malih, dari Maimun, dari                    Abdullah Ibnu Abbas radhiallahu’anhu.. Kemudian al-Uqaili                    mengatakan bahwa hadits ini munkar. Bagian pertama dari                    riwayat tersebut mempunyai sanad lain, namun mayoritas rijal                    sanadnya majhul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ini, saya kira cukupi                    dengan riwayat yang di keluarkan oleh Imam Nasa'i dan Thabrani                    dengan sanad hasan, yaitu kisah seseorang yang datang                    menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam seraya                    meminta izin untuk ikut andil berjihad bersama beliau                    shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bertanya, Adakah                    engkau masih mempunyai ibu? Orang itu menjawab, Ya, masih.                    Beliaupun kemudian bersabda,&lt;br /&gt;                  &lt;div align="right"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;فالزمها فإن الجنة تحت                    رجليها&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;Bersungguh-sungguhlah dalam                    berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di                    bawah kedua kakinya (*)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Referensi                    &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hadits ke 593 dari kitab Silsilatu Ahaaditsu                    Ad-Dhaifah wal Maudhuah wa Atsarus Sayyi fil Ummah karya                    Syaikh Al-Bany, edisi terjemahan, Silsilah Hadits Dhaif dan                    Maudhu jilid-2, cetakan Gema Insani Press&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(*) Nabi                    mempertimbangkan anak tersebut untuk ikut berjihad karena                    belum dewasa.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5694827767062907483?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5694827767062907483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5694827767062907483&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5694827767062907483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5694827767062907483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/03/surga-di-telapak-kaki-ibu.html' title='SURGA DI TELAPAK KAKI IBU'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-8957695238840144</id><published>2008-03-26T02:03:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T02:08:31.854-07:00</updated><title type='text'>KATA - KATA MUTIARA</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;color:#006600;"&gt;&lt;strong&gt;إِنَّ أَجْمَلَ هَنْدَسَةٍ فِي العَالَمِ بِنَاءُ جِسْرٍ مِنَ الأَمَلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَوْقَ نَهْرٍ مِنَ اليَأْسِ&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;br /&gt;Binaan yang paling indah di dunia ialah sebuah jambatan harapan merentasi sebuah sungai kekecewaan (putus asa)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-8957695238840144?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/8957695238840144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=8957695238840144&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8957695238840144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8957695238840144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/03/kata-kata-mutiara.html' title='KATA - KATA MUTIARA'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-5119316154487808079</id><published>2008-03-26T01:27:00.000-07:00</published><updated>2008-03-26T01:29:51.274-07:00</updated><title type='text'>SYAIR BAHASA ARAB</title><content type='html'>&lt;a name="1. KEAIBAN PADA DIRI KITA"&gt;1. KEAIBAN PADA DIRI KITA&lt;/a&gt;Syair Imam Shafei&lt;br /&gt;Kita kerap meyalahkan zaman ini, sedang keaiban sebenar adalah pada diri kita, tiada sebarang aib pada zaman kita, kecuali diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Kita kerap mencerca zaman ini tanpa jenayah dilakukannya.. kalau zaman tahu mengatur kata, tentulah ia mencaci kita kembali&lt;br /&gt;Dunia kita adalah lakonan dan menunjuk-nunjuk..sebenarkan kita memperdaya Yang Maha melihat kita&lt;br /&gt;Si serigala tiadalah pernah memakan daging rakannya .. sedangkan kita kerapkali makan daging semasa sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="2. JAGA SUARA"&gt;2. JAGA SUARA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jagalah suara bila bertutur di malam hari... Lihat sekeliling sebelum berkata di siang hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="3. KUTUKAN TERHADAPKU"&gt;3. KUTUKAN TERHADAPKU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya datang padamu kutukan terhadapku dari orang yang kurang (akhlaknya dan ilmunya)...Itulah buktinya bahawa aku ini sebenarnya sempurna tiada kekurangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="4. TIADA INSAN MENGUSAI SEMUA ILMU"&gt;4. TIADA INSAN MENGUSAI SEMUA ILMU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tiada seorangpun yang mengetahui semua ilmu .. Tiada ! sekalipun dia pelajarinya 2 ribu tahun&lt;br /&gt;Ilmu itu ibarat lautan saujana luas terbentang... Ambillah daripada setiap perkara itu apa yang terbaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="5. TANAM BENIH PERMUSUHAN"&gt;5. TANAM BENIH PERMUSUHAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bila anda memungkiri seseorang, awasi lah permusuhannya (terhadapmu) ... Sesiapa menanam pohon duri tiada dapat menuai anggur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="6. ANTARA KEKAYAAN &amp;amp; KECERDIKAN"&gt;6. ANTARA KEKAYAAN &amp;amp; KECERDIKAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau (kemewahan) dunia diperolehi dengan kecerdikan semata-mata .. dan juga akan, sudah tentu akan menduduki pangkat teratas&lt;br /&gt;Tapi rezeki itu adalah pembahagian dan nasib .. kurnian Tuhan dan bukan kerana usaha orang yang mendapatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="7. AKAL DAN PENGAJARAN"&gt;7. AKAL DAN PENGAJARAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bilamana seseorang ada akal fikiran .. dalam semua perkara baginya pengajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="8. MENGETAHUI SEJARAH"&gt;8. MENGETAHUI SEJARAH&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah insan bukan juga alim .. orang yang dirinya jahil sejarah&lt;br /&gt;Sesiapa yang arif sejarah orang - orang terdahulu .. sesungguhnya ia telah menambah umur-umur mereka kepada umurnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="9. BUKU ITU SEBAIK TEMAN"&gt;9. BUKU ITU SEBAIK TEMAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebaik-baik teman berbual dan lepak-lepak itu ialah buku .. kau bersendirian bersamanya ketika sahabat-sahabatmu menjemuimu&lt;br /&gt;Buku tidak membocorkan rahsia bila kau amanahkannya  .. bahkan diperolehi darinya hikmah dan kebenaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="10. BERSATU TEGUH"&gt;10. BERSATU TEGUH&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tombak- tombak kalau bersama tidak akan dapat dipatahkan  .. Apabila terpisah antara satu sama lain, ia akan patah satu demi satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="11. PAPA DI BUMI SENDIRI"&gt;11. PAPA DI BUMI SENDIRI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan di bumi sendiri adalah keasingan (umpama orang asing).. Berharta di negara asing itulah sebenarnya anak watan (negara itu)&lt;br /&gt;Bumi ini (di mana-manapun) hanya satu ... manusia semuanya adik beradik dan berjiran&lt;br /&gt;&lt;a name="12. NILAI ILMU DAN KEDUDUKAN GURU"&gt;12. NILAI ILMU DAN KEDUDUKAN GURU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ilmu adalahah sebaik apa yang dicapai tangan... begitu besar tangan (jasa) guru ku ke atasku. &lt;br /&gt;Nyawaku taruhan bagi guruku, kerana dialah jernihnya kehidupanku.&lt;br /&gt;Dialah merawatku daripada penyakit jahil... yang tiada dapat dilakukan oleh doktor yang agong.&lt;br /&gt;Ilmu ibarat rumah dan guru umpama tangga.. dari mana lagi ingim ke rumah kalu tidak melalui yangganya ?&lt;br /&gt;Maka ketahuilah hak seorang guru kerana dengan bantuannya dikau mengenali kebenaran ketika remaja.&lt;br /&gt;Ilmu itu kalau engkau insafi, engkau tiada dapat menyamakannya dengan barangan dunia yang hilang dan lesap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="13. TIADA YANG DILAHIRKAN TERUS BERILMU"&gt;13. TIADA YANG DILAHIRKAN TERUS BERILMU&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Belajar, sesungguhnya seseorang itu tidak dilahirkan alim, dan tiadalah orang berilmu menyamai orang yang jahil.&lt;br /&gt;Sesungguhnya pembesar kaum yang tiada ilmu, menjadi kecil bila dikerumuni bala tenteranya (meminta pandangannya).&lt;br /&gt;Seorang yang hina sekiranya berilmu, ia menjadi besar bila dikerumuni oarang ramai (yang ingin belajar).&lt;br /&gt;Jadi, janganlah redha dengan kerendahan (kehinaan),Dan janganlah nasib hanya berpada dengan apa yang ditinggal orang terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. BUKAN SEMUA SAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Bukan semua yang putih itu lemak,dan bukan segala yang hitam itu arang !"- Bait syair Arab -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. HASIL TANGANKU&lt;br /&gt;Tanganku akan hancur di dalam tahah,Yang kekal hanya tulisanku di atas buku,Mujurlah sesiapa yang membaca tulisan aku,Doakankeselamatan aku dari azab.&lt;br /&gt;16. PENAKU HITAM DAKWATNYA&lt;br /&gt;حبري أسود فلا تطلبوا مني أن أرسم قوس قزح"(Penaku) dakwatnya hitam, janganlah pula kau minta aku melukis pelangi.."- Madah seorang penulis Khat Iraq-(Maksudnya jangan minta aku lakukan apa yang diluar kemampuan yang aku ada)&lt;br /&gt;17. PEDULIKAN APA YANG BERLAKU&lt;br /&gt;Biarkan hari-hari itu melakukan apa saja,Bertenaglah bila qada menjatuhkan hukuman,Jangan tersentak dengan peristiwa duka malam hari,Peristiwa di dunia ini sebenarnya tidak lama.(Bait imam syafei)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-5119316154487808079?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/5119316154487808079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=5119316154487808079&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5119316154487808079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/5119316154487808079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/03/syair-bahasa-arab.html' title='SYAIR BAHASA ARAB'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-1410514685059738651</id><published>2008-03-26T01:08:00.000-07:00</published><updated>2008-03-28T03:39:47.952-07:00</updated><title type='text'>FOTO DI  ARHANUD</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-zJYFbP2_I/AAAAAAAAABU/k6rNHd9rPmk/s1600-h/S.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182738686807104498" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-zJYFbP2_I/AAAAAAAAABU/k6rNHd9rPmk/s400/S.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;color:#000066;"&gt;Foto aq waktu Wisata Pendidikan di Arhanud Malang&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-oHFlbP27I/AAAAAAAAAAg/qv6-IzZHUGY/s1600-h/IMG_0042.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-1410514685059738651?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/1410514685059738651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=1410514685059738651&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1410514685059738651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/1410514685059738651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/03/foto-di-yudhistira.html' title='FOTO DI  ARHANUD'/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R-zJYFbP2_I/AAAAAAAAABU/k6rNHd9rPmk/s72-c/S.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-8559110392948938150</id><published>2008-01-10T23:52:00.000-08:00</published><updated>2008-03-28T12:36:03.361-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R4ch6qvOhTI/AAAAAAAAAAY/RKqHcFgb_NM/s1600-h/Picture+012.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5154125590337324338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R4ch6qvOhTI/AAAAAAAAAAY/RKqHcFgb_NM/s400/Picture+012.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;WAH SUEGEERRRR!!!!!!............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-8559110392948938150?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/8559110392948938150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=8559110392948938150&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8559110392948938150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/8559110392948938150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/01/wah-suegeerrrr.html' title=''/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_WulIUfDkOhg/R4ch6qvOhTI/AAAAAAAAAAY/RKqHcFgb_NM/s72-c/Picture+012.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-9042020773824775965</id><published>2008-01-10T22:58:00.001-08:00</published><updated>2008-01-10T22:59:12.040-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-9042020773824775965?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/9042020773824775965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=9042020773824775965&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/9042020773824775965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/9042020773824775965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/01/blog-post_10.html' title=''/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6042515630563221597.post-9128372001748739823</id><published>2008-01-10T22:58:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T22:59:10.854-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6042515630563221597-9128372001748739823?l=agoesrpunya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/feeds/9128372001748739823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6042515630563221597&amp;postID=9128372001748739823&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/9128372001748739823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6042515630563221597/posts/default/9128372001748739823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agoesrpunya.blogspot.com/2008/01/blog-post.html' title=''/><author><name>AGUS EL RIYANTO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12125708145098515397</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_WulIUfDkOhg/R4ccuKvOhRI/AAAAAAAAAAM/U13a9fLTMJ8/S220/IMG_0013.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
